
Kapan terakhir kalinya Anda mengisi formulir untuk suatu keperluan? Pernahkah Anda mengisi “blogging” sebagai salah satu kegiatan atau hobi Anda? Saya melakukannya, karena terus terang saja, hampir setiap hari saya melakukan kegiatan ngeblog, atau apalah yang terkait dengan ngeblog. Mana mungkin saya tidak menganggapnya sesuatu yang telah menjadi bagian hidup saya? Dalam sepekan, bisa saja saya tidak membaca buku atau melakukan hobi lain, tapi pernahkah saya tidak ngeblog? Minimal blogwalking? Jujur saja, tidak. Buat saya, ngeblog sudah jadi kebutuhan, terutama kalau di depan layar komputer tiba-tiba saja pekerjaan saya jadi terlihat tidak menarik dan tidak lagi bisa dinikmati.

Omong-omong, mungkin kelak, dalam formulir isian akan ada pilihan “media daring” atau “blog” selain “surat kabar” dan “majalah”. Bukankah media daring dan blog sudah lama menjadi bagian dari penyebar informasi?

Untuk menyantap hidangan apa saja, saya terbiasa menggunakan sendok dan garpu. Kadang-kadang tanpa keduanya, sesekali pakai sendok saja atau garpu saja, dan jarang sekali memakai sumpit. Sayang sekali, sekarang banyak tempat makan yang hanya menyediakan sendok dan garpu plastik, bahkan untuk hidangan panas kebul-kebul sekalipun. Untuk mencomotnya langsung dengan tangan, tentu saja tidak mungkin. Untuk memakai sumpit, saya kurang trampil. Apalagi, saya belum tahu cara memotong bakso dengan sumpit.
Entah apa pertimbangan pemilik kedai sehingga memutuskan untuk memakai sendok dan garpu plastik. Mungkin harga alat makan sekali pakai lebih murah daripada ongkos beli sabun dan air. Mungkin tenaga untuk mencuci alat makan tidak ada, dan menggaji pegawai hanya untuk mencuci alat makan menjadi pemborosan luar biasa. Mungkin juga ada yang beralasan demi kebersihan dan kesehatan, tapi lupa risiko dari plastik yang karsinogenik.
Ada masa ketika tuan rumah yang menyuguhkan hidangan pada para tamu dengan gelas atau piring plastik dianggap tidak sopan. Mungkin sekarang pandangan itu sudah bergeser. Plastik identik dengan modern, kadang-kadang juga gengsi, apalagi yang bermerek
. Namun, bersantap dengan alat makan plastik membutuhkan kesabaran dan ketekunan, juga sedikit kelembutan. Kalau terlalu bersemangat, sendok atau garpu bisa patah. Atau, alih-alih masuk mulut, makanan malah mental ke mana-mana.
Musim hujan sudah tiba. Ingat payung ingat Rihanna. Entah karena terbiasa jadi warga Kota Hujan, entah karena saya takut air (tapi rasanya sih, tidak), saya selalu membawa payung ke mana-mana. Maka, ketika seorang warga Jakarta mengingatkan saya agar tidak lupa membawa payung pada suatu pagi yang disiram gerimis, saya jadi geli sendiri. Payung adalah benda yang hampir tidak pernah keluar dari tas saya, ke mana pun saya pergi. Sebab, selain untuk melindungi basah air hujan, payung juga berguna melindungi saya dari terik matahari.
Akhir pekan lalu di sebuah pusat perbelanjaan di Bogor, saya menemukan benda ini di samping pintu masuk. Plastik untuk pembungkus payung yang dibasahi air hujan, agar tidak menetes dan membuat licin lantai pertokoan. Selama ini, sejumlah toko biasanya menyediakan wadah payung basah di samping pintu. Payung ditinggal dalam wadah dan diambil kembali ketika pengunjung toko pulang. Saya belum pernah melihat orang kehilangan payung setelah meninggalkannya di wadah yang disediakan pemilik toko. Dengan plastik ini, risiko kehilangan atau tertukar payung semakin diperkecil, dan lantai toko tetap kering.
Selain di negeri seberang, pernahkah Anda melihat plastik payung serupa ini?
Kadang saya menyukai sesuatu begitu dalam dan mengidamkan sesuatu begitu lama, sehingga ketika kesempatan itu muncul di depan mata, semuanya menjadi antiklimaks dan berlalu begitu saja
Kok Mentar