Memang sih, lambung saya bukan tipe yang harus selalu dimasuki nasi tiga kali sehari. Istilah yang banyak dipakai orang, “perut jawa”, belum kenyang kalau belum makan nasi. Padahal pelahap nasi bukan cuma orang Jawa. Nasi pun bukan tanaman asli Pulau Jawa. Bagaimana kalau makan roti lalu jadi hangri? Itu belum pernah terjadi. Juga tidak terbukti sewaktu memakan yang satu ini. Kalau promosi mereka benar adanya, justru bahaya, karena urusannya bisa sampai ke angka timbangan. Berabe, kan?
PS : di bagian akhir ada pesan sopan : “mengucapkan terima kasih atas kunjungan anda dan kesediaan anda untuk membuang doos(!) ini ke tempat sampah”
Tags: perut jawa, roti amsterdam

Makin banyak makan makin laper huehehehe selain timbangan bisa berabe, kantong jg bisa berabe
Sheilla´s last blog post..My layout’s font on my Zara shirt
– iya juga. kecuali makan rutinya segigit sehari..
ahhhh kurang pokus dikit ato mata saya yang ga pokus
iway´s last blog post..101 Alasan tidak update blog
– mata bung iway pokus.. tapi berhubung motret pake hp plus kamar remeng2.. maap yak
makan malah bikin lapar, mungkin ini roti terbuat dari angin
tapi pesennya bagus..
regsa´s last blog post..Safety First
– tapi gak masup angin kok
gawat ini, keluar duit kok malah ga kenyang…ogah ah
Hedi´s last blog post..Blog Romario
– ini rotinya ruud gullit lho
bikin makin nggragas gak, pok?
anakperi´s last blog post..Jangan Memberi Makan Monyet….!
– bukan nggragas, tapi doyan
keren, makan ini malah bikin laper
bukannya kenyang
edy´s last blog post..Berhenti di Belakang Garis Putih
– untungnya bohong hihih..
[...] pertama rada menakutkan sih, sudah makan kok malah nggak bisa berhenti. Mirip roti pembikin lapar. Di mata mereka yang terbiasa tertib berbahasa dengan pola subjek-predikat-objek (SPO), kalimat ini [...]