Archive for » 2009 «

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka, “persepsi” adalah : 1. tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu; serapan; dan 2. proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancaindranya. Karena setiap orang memiliki pola pikir berbeda yang terbentuk melalui pengalaman hidup masing-masing, maka persepsi Anda, persepsi saya dan persepsi orang lain terhadap sesuatu sangat mungkin berbeda. Ditambah dengan variasi sudut pandang, semakin banyaklah kemungkinan persepsi yang terbentuk di kepala kita.
Sebuah buku yang belakangan banyak dicari orang karena konon “menghebohkan”, mendadak hilang dari toko-toko buku. Tersiar kabar, buku itu dilarang beredar, diberangus, karena konon di dalamnya terdapat data-data yang bisa mengungkapkan borok seorang penguasa. Penulisnya seseorang yang memang kerap dikenal vokal dalam mengkritisi kalangan penguasa. Tentu saja bukan sejenis bloger abal-abal macam saya maupun penulis yang menulis sekadar hobi. Beliau seorang peneliti yang karena kerajinannya mencari data, maka banyak orang yang mengakui kesahihan tulisannya.
Hilangnya buku itu dari toko-toko buku bahkan sampai membuat sebuah organisasi pembela hak asasi manusia turun dan memeriksa benar tidaknya terjadi pelarangan peredaran buku tersebut. Dari sebuah toko buku besar didapat keterangan bahwa keputusan untuk tidak menjual buku itu berasal dari pihak manajemen sendiri. Ada pula distributor buku yang mengaku tetap menjualnya, sehingga lekas kehabisan stok, bahkan buku itu sempat ditawar hingga sepuluh kali lipat dari harga banderolnya. Terus terang, saya sempat punya persepsi bahwa ini utak-atik dagang yang sesungguhnya sah-sah saja. Ketika permintaan naik, maka harga harus naik. Namanya juga dagang. Tidak heran jika buku yang konon dilarang beredar ini sesungguhnya tetap beredar dan bisa dibeli dengan menghubungi nomor-nomor ponsel tertentu. Bukan, saya bukan salah satu yang mencarinya, karena sejak awal saya sudah punya persepsi sendiri terhadap buku itu. Selain itu, kisah sejati pendaki gunung Greg Mortenson dalam “Three Cups of Tea” sudah lebih dulu menyita perhatian saya dan dua jam menunggu rambut selesai dicat di salon ternyata hanya membawa saya ke seperenam jumlah halaman. Masih banyak pengalaman batin yang memperkaya jiwa menanti untuk ditemukan di sana.
Ah, ada terlalu banyak kata “konon” di tulisan sependek ini, karena catatan pribadi ini semata hanya untuk mengeluarkan apa yang ada dalam benak saya. Persepsi saya. Saya bukan hendak meyakinkan Anda yang bisa membentuk persepsi masing-masing. Saya bukan pembela si A atau si B. Info yang saya peroleh tentang kabar kabur ini pun saya dapatkan dari berbagai liputan kabur tentang kasus yang kabur. Apa boleh buat, sementara ini kita masih hidup di negeri yang banyak ralat. Ketika si X mengatakan begini, si Y mengatakan begitu, yang terjadi adalah adu debat berkepanjangan dengan memanfaatkan begitu banyak celah yang bisa diralat sewaktu-waktu. Selamat Tahun Baru, bagi Anda yang merayakannya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka, “persepsi” adalah : 1. tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu; serapan; dan 2. proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancaindranya. Karena setiap orang memiliki pola pikir berbeda yang terbentuk melalui pengalaman hidup masing-masing, maka persepsi Anda, persepsi saya dan persepsi orang lain terhadap sesuatu sangat mungkin berbeda. Ditambah dengan variasi sudut pandang, semakin banyaklah kemungkinan persepsi yang terbentuk di kepala kita.

Sebuah buku yang belakangan banyak dicari orang karena konon “menghebohkan”, mendadak hilang dari toko-toko buku. Tersiar kabar, buku itu dilarang beredar, diberangus, karena konon di dalamnya terdapat data-data yang bisa mengungkapkan borok seorang penguasa. Penulisnya seseorang yang memang kerap dikenal vokal dalam mengkritisi kalangan penguasa. Tentu saja bukan sejenis bloger abal-abal macam saya maupun penulis yang menulis sekadar hobi. Beliau seorang peneliti yang karena kerajinannya mencari data, maka banyak orang yang mengakui kesahihan tulisannya.

Hilangnya buku itu dari toko-toko buku bahkan sampai membuat sebuah organisasi pembela hak asasi manusia turun dan memeriksa benar tidaknya terjadi pelarangan peredaran buku tersebut. Dari sebuah toko buku besar didapat keterangan bahwa keputusan untuk tidak menjual buku itu berasal dari pihak manajemen sendiri. Ada pula distributor buku yang mengaku tetap menjualnya, sehingga lekas kehabisan stok, bahkan buku itu sempat ditawar hingga sepuluh kali lipat dari harga banderolnya. Terus terang, saya sempat punya persepsi bahwa ini taktik dagang yang sesungguhnya sah-sah saja. Ketika permintaan naik, maka harga harus naik. Namanya juga dagang. Tidak heran jika buku yang konon dilarang beredar ini sesungguhnya tetap beredar dan bisa dibeli dengan menghubungi nomor-nomor ponsel tertentu. Bukan, saya bukan salah satu yang mencarinya, karena sejak awal saya sudah punya persepsi sendiri terhadap buku itu. Selain itu, kisah sejati pendaki gunung Greg Mortenson dalam “Three Cups of Tea” sudah lebih dulu menyita perhatian saya dan dua jam menunggu rambut selesai dicat di salon ternyata hanya membawa saya ke seperenam jumlah halaman. Masih banyak pengalaman batin yang memperkaya jiwa menanti untuk ditemukan di sana.

Ah, ada terlalu banyak kata “konon” di tulisan sependek ini, karena catatan pribadi ini semata hanya untuk mengeluarkan apa yang ada dalam benak saya. Persepsi saya. Saya bukan hendak meyakinkan Anda yang bisa membentuk persepsi masing-masing. Saya bukan pembela si A atau si B. Info yang saya peroleh tentang kabar kabur ini pun saya dapatkan dari kliping imajiner berbagai liputan kabur tentang kasus yang kabur. Apa boleh buat, sementara ini kita masih hidup di negeri yang banyak ralat. Ketika si X mengatakan begini, si Y mengatakan begitu, yang terjadi adalah adu debat berkepanjangan dengan memanfaatkan begitu banyak celah yang bisa diralat sewaktu-waktu. Selamat Tahun Baru, bagi Anda yang meyakininya.

serambi botani-3

Namanya Kafe Serambi Botani. Terletak di serambi kiri pusat perbelanjaan Botani Square, Bogor. Di kafe ini, kita bisa mencicipi beberapa jenis kopi dari sejumlah daerah di Indonesia, seperti Aceh, Medan, Lampung, Jawa, Bali, Toraja dan Papua. Selain mengopi dan mengudap sambil mengobrol, Anda yang membawa laptop bisa melanjutkan kegiatan berinternet.

serambi botani-1

Kafe mungil berkapasitas sekitar 20 orang ini memanfaatkan sudut yang terletak di bawah salah satu eskalator gedung. Justru itulah yang membuat interior kedai tampak unik, karena bagian bawah eskalator ditutupi dengan papan bergambar logo Institut Pertanian Bogor, daun dan slogan-slogan cinta lingkungan. Salah satu dinding yang bergambar urat kayu dihiasi dengan ukiran berpola sulur tanaman dan kupu-kupu.

serambi botani-4

Benda unik lainnya adalah meja kaca dengan badan berbentuk peti yang terbuat dari papan, yang juga bertulisan slogan-slogan cinta lingkungan.

serambi botani-2

Kalau Anda sedang berjalan-jalan ke Bogor dan perlu meeting point di tengah kota sambil mengopi sesaat atau berinternet, atau sekadar menunggu kerabat berbelanja sembari melepas lelah, tak ada salahnya Anda mencoba tempat ini. Soal harga? Cukup bersahabat :)

koinuntukprita

Siapa yang tidak jengkel melihat keadilan dilecehkan? Untuk menyalurkan kepedulian, sikap dan tindakan Anda, maupun mengikuti kabar seputar pengumpulan koin, silakan klik di Koin Keadilan.

pipa

Konon, orang Indonesia sangat kreatif saat mencari penyelesaian masalah di tengah keterbatasan. Hidup dalam suasana yang serba tidak menentu, rupanya membikin mereka, eh kita, harus selalu siap menghadapi tantangan, dengan cara yang paling primitif sekalipun.

Misalnya, kalau suatu saat pemanas air Anda rusak dan harus diperbaiki, lalu tukang servis lupa bahwa pipa yang terlepas akan mengalirkan air, dan baru ngeh setelah pipa dilepaskan padahal Anda tidak punya sumbatnya, maka bisa saja tiba-tiba ide primitif untuk menutup pipa dengan plastik dan tali rafia muncul. Air tetap akan menetes, tapi masih bisa ditampung sambil menunggu pemanas diperbaiki. Dan, Anda tidak perlu keluar uang untuk membeli sumbat pipa.

Pernahkah Anda berhujan-hujan sambil menutupi kepala dengan kantong plastik? Atau menggunakan nasi sebagai lem kertas? Atau menyalakan kapas dengan minyak kelapa ketika listrik mati dan lilin habis? Memakai irisan sandal jepit untuk menyumbat apa saja? Jadi bertanya-tanya, ada nggak ya blog yang menyajikan 1001 kiat ala Pramuka begitu?