Aturan Baru dan Alternatif
Posted by mpokb on 09 Jun 2009 | Tagged as: Asbun Bukan Aspal, Tempat Singgah
Ada penumpang yang harus duduk di angkot selama 3 jam dengan ongkos jauh lebih mahal, seperti ke Bandung, katanya. Asumsi saya, dia menetap di Bogor, minimal di salah satu wilayah suburban Jakarta. Ada yang merasa tidak nyaman kalau harus masuk Terminal Kampung Rambutan karena (terkenal) rawan. Ada pula yang menyayangkan jadi sepinya wilayah perempatan Cawang dekat kampus Universitas Kristen Indonesia (UKI) tersebut, sehingga para pedagang kaki lima yang biasa mencari nafkah di sana merugi. Semua itu karena aturan baru tapi lama yang melarang bus antarkota antarprovinsi keluar di gerbang Halim Jalan Tol Jagorawi (Jakarta-Bogor-Ciawi). Bus-bus tersebut harus melewati Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta ke arah Cikunir, langsung menyambung ke Jalan Tol Cikampek.
Di situs Dishub DKI Jakarta, hanya ada sebuah info mengenai hal ini (duh, tulisan “Friday, 05 September 2008″ di bawah judul itu maksudnya apa, ya?). Di situ Wakil Dishub DKI Jakarta, Reza Hasyim, menyebutkan bahwa tujuan penerapan aturan ini adalah “mengurangi kemacetan di kawasan Cawang-UKI”. Entah sejauh mana penerapan ini berhasil, saya sih berharap ada survey dan kaji hasilnya.
Dari pengalaman pribadi saya selama jadi penglaju Bogor – Jakarta selama sekitar 7 tahun (sebelum akhirnya menyerah pada kemacetan dan memilih untuk ikut memadati Jakarta), “diperbolehkannya” bus AKAP untuk menaikkan dan menurunkan penumpang di UKI tersebut sangat menguntungkan. Sebagai penumpang, waktu tempuh saya jadi jauh berkurang. Bus dari Bogor bisa sampai di UKI dalam waktu paling lama 45 menit. Kalau lagi apes, pada Senin pagi misalnya, mulur jadi 1 – 1,5 jam. Nah, dari UKI itu saya langsung pindah ke bus dalam kota. Mengapa pindah di UKI, bukan naik bus ke Kampung Rambutan? Itu karena kebanyakan bus kota tidak menempuh rute seharusnya (ke Kampung Rambutan). Bus-bus kota itu, entah demi menghemat bahan bakar atau demi menghindari macet sekeluar dari terminal, banyak yang memilih berputar balik di sekitar UKI. Penumpang yang datang dari arah Sukabumi, Bogor, Cibinong, Cileungsi dan Cibubur akan sulit mendapatkan bus kota di Kampung Rambutan, karena bus kota lebih suka mengetem di UKI. Ini pemandangan sehari-hari sebelum penerapan aturan. Begitu pula sebaliknya pada malam hari. Seturun dari bus kota, para penglaju langsung naik bus-bus AKAP (dari dan ke Bogor, Depok, Karawang atau Bekasi).
Bagaimana setelah aturan baru diberlakukan? Ternyata penumpang jadi telantar, karena tiadanya angkutan alternatif pengganti bus-bus AKAP yang tidak boleh lewat UKI, melainkan lewat Tol Cikunir. Minggu lalu saya merasakan sendiri bagaimana dampak terputusnya angkutan dari ibu kota ke kota-kota penyangga, di malam menjelang akhir pekan. Pada sekitar pukul 22.00, dengan perkiraan bahwa Terminal Kampung Rambutan akan “hidup” menggantikan terminal bayangan UKI, maka setengah yakin saya dan kakak bergegas ke sana. Apa boleh buat, menurut pedagang asongan dan para calo, bus terakhir yang menuju Bogor dari Kampung Rambutan adalah sekitar pukul 21.00. Ketika saya tanya, bagaimana dengan para penumpang yang biasa naik dari UKI, ke mana mereka semua, sang pedagang asongan juga bingung. Akhirnya, setelah berjalan kaki ke luar terminal (karena untuk naik bus kecil atau angkot pasti lama mengetem), kami memilih naik taksi yang ongkosnya puluhan kali lipat ongkos bus.
Perencanaan sebuah aturan baru tentu dibuat berdasarkan survey dan pertimbangan banyak faktor. Penerapan aturan yang baik pun seharusnya tidak hanya mengedepankan tujuan dan sanksi bagi pelanggar, namun juga memberi alternatif bagi mereka yang dikenai aturan. Yang saya lihat dan rasakan dari aturan ini, penumpang angkutan umum (bus AKAP) tidak diberi alternatif dan dibiarkan kebingungan di jalan.
Sulit sekali mencari salinan surat edaran yang berisi larangan ini di internet (baik di situs Dishub maupun situs Ditlantas Polda Metro Jaya). Dengan googling, saya hanya bisa menemukan berita ini. Disitu dikutip ucapan Direktur Lantas Polda Metro Jaya, Kombes Condro Kirono, “Kesepakatan antara Ditlantas Polda Metro dan Dinas Perhubungan sudah ditandatangani sejak Rabu (5/11) lalu. Larangan kemungkinan mulai berlaku pekan depan.” (maksudnya 2008 – red). Taruh kata karena alasan tertentu dan kesepakatan sudah final maka bus AKAP benar-benar tidak boleh masuk Jakarta, maka seharusnya Terminal Kampung Rambutan sudah siap memberi angkutan sambungan untuk para penumpang yang berganti moda angkutan di sana. Padahal, andalan Dishub Jakarta, yaitu bus Transjakarta Koridor IX (Cililitan – Tanjung Priok) dan Koridor X (Pinang Ranti – Pluit), sampai sekarang belum menampakkan tanda-tanda akan beroperasi. Dengan kata lain, meskipun aturan ini diterapkan mulur sejak penetapannya, tapi bisa juga dibilang prematur dari tingkat kesiapannya. Jakarta adalah ibu kota, namun prasarana dan sarana angkutan umumnya tidak mencerminkan sebuah kota yang siap mewadahi kepentingan penghuni maupun kegiatan perekonomiannya.
Membuat sebuah perencanaan yang memperhitungkan alternatif memang sulit dan tidak murah, namun tidak memperhitungkan dampak penerapan secara keseluruhan juga malah tidak produktif. Sebagai salah seorang dari sekian ribu penumpang yang merasakan manfaat terminal bayangan UKI, saya sangat berharap desakan Lembaga Bantuan Hukum pada Dishub DKI untuk mengkaji ulang larangan tersebut tidak mengendur. Paling tidak, agar larangan diterapkan ketika para penumpang sudah punya alternatif yang sepadan.
Omong-omong, sebentar lagi Jembatan Suramadu akan diresmikan. Usul agar jalur khusus roda dua diadakan pun sudah dikabulkan, sampai-sampai PP Jalan Tol harus direvisi. Terlepas dari anggapan bahwa naik sepeda motor di jalan tol aman-aman saja, saya berharap agar kapal feri yang melayani penyeberangan lewat laut tidak lantas mati karena penumpang lebih memilih lewat jalan tol. Kalau tidak, kelak kita tidak akan punya moda alternatif antara Surabaya dan Madura. Sehingga, apabila suatu saat di atas Jembatan Suramadu terjadi kecelakaan atau bahkan jembatan ambruk entah karena apa, Anda mungkin harus menyeberang ke Madura dengan berenang..
9 Comments »
on 10 Jun 2009 at 09:57 1.isnuansa said …
saya masih bisa tersenyum, setidaknya bus ke rumah saya masih lewat UKI. untuk ke bandung, garut dll, naik dari jatibening.
isnuansa´s last blog post..Full Vs Partial Feed
– kerabat yang tinggal di cawang mau ke lebak bulus kok jadi sulit yak.. masak mesti ke jatibening dulu?
on 10 Jun 2009 at 11:01 2.cynthia depe said …
Memang aturan yang menyebalkan dan membuat saya jadi bertanya-tanya.. Apa sih definisi Bus AKAP yang sebenarnya? Kenapa P74 yang judulnya Kp. Rambutan – Tangerang masih boleh melintasi UKI? Bukankah dari segi trayek, bus tsb termasuk Antar Kota Antar Propinsi? Tangerang itu Propinsi Banten, kan, Mpok?
– itulah anehnya. jadi ingat omongan kernet bus Bogor – Bekasi dan petugas : “Ini bukan AKAP, tapi AKDP, Pak!” Bogor dan Bekasi sama2 Jabar, kan?
)
on 12 Jun 2009 at 02:52 3.paman tyo said …
cawang bikin mumet, mpok. para tuan nggak paham angkutan umum.
paman tyo´s last blog post..The Jaduls Never Die
– lha gak tahu medan kok bisa bikin aturan yak?
on 16 Jun 2009 at 13:34 4.nengjeni said …
ibu saya juga jadi korban mpok, gak bisa leluasa nengok cucunya ke bogor pake bis, padahal rumahnya cuma di kp melayu sana. alternatifnya, pake KA yang jadwalnya gak pasti dan suka berenti di jalur yg gak ada platformnya (kebayang kan nenek2 harus loncat turun setinggi 80cm).. sekarang bliau milih jalan muter lewat cinere… huh, another pemborosan ongkos…. kata bliau
– kalau ke perempatan coca-cola kejauhan ya Mbak? kalo mau ngebus, di situ lewat bus bogor dari pulo gadung atau priok. kalo nggak salah, dulu ada halte menjelang pintu tol priok – cawang..
on 16 Jun 2009 at 16:46 5.frozzy said …
udah lama ga lewat sonoh….jadi tidak merasakan efeknya jeng…
frozzy´s last blog post..NGUPI-NGUPI CANTIK ALA BLOGGERS
– beruntungnya dirimu non frozzy
on 19 Jun 2009 at 00:30 6.Sheilla said …
Klo hari Sabtu sering lewat Cawang nih soalnya rumah temenku di sana, suka ngeri klo lewat sini soalnya org2 yg nyebrang semrawut bgt ya (maksudnya nyebrang suka ga liat2 dulu gitu), ternyata dulu justru lebih rame lagi dari itu ya…
– memang perempatan padat banget Sheil, dan gitu deh.. gak semua mau manfaatin zebra cross..
on 19 Jun 2009 at 08:40 7.tuteh said …
Hihihi iya… gambar terbarunya begitu “mengharukan” huehehehehek… btw aku emang nggak terlalu ngerti soal lalu lintas di Jakarta. Cuman… sering banget aku jadi korban, mbak… korban OVER BIS
hehehehe. Pernah suatu kali dari Jkt (Plangi, abis kopdar) ke Depok, oper kendaraan ampe 3 kali. Ya bis-nya, ya angkot-nya. Bujuug :p
tuteh´s last blog post..Spektakuler
– iya. memang kejam benar sistem kejar setoran itu..menyiksa penumpang dan awak angkutan
on 20 Jun 2009 at 13:39 8.zam said …
emang keren itu para penjabat negeri kita. weruh tanpa winarah..
pengaturan dan peraturan yang SANGAT HEBAT!!
zam´s last blog post..Taman Nasional Komodo, Pesona Purba Yang Tiada Dua
on 20 Jun 2009 at 18:07 9.tuteh said …
happy weekend………!!!!
tuteh´s last blog post..Weekend