Di Atas Koantas Bima Pagi Itu
Posted by mpokb on 21 Agu 2009 | Tagged as: Asbun Bukan Aspal

Buat Anda yang belum pernah naik Koantas Bima, beginilah kira-kira kondisi bagian dalam bus mini kembaran si Metro Mini. Hari itu, saya pilih duduk di deretan bangku paling belakang, demi menghindari limpahan asap dari seorang perokok di bangku depan. Pagi hari, baru mandi dan keramas, tentu saya tidak rela kalau setiba di kantor pakaian dan rambut yang tadinya wangi jadi berganti bau asap rokok. Ah, kebetulan pula baru kali itu saya memotret di dalam angkutan umum jenis ini.
Langit-langit kendaraan yang berlapis tripleks terkelupas, bangku-bangku sempit berbahan fiber (?) yang mulai retak dan kerangka yang mulai termakan karat menunjukkan umur operasinya yang sudah lanjut. Kendaraan umum jenis ini dan sejawatnya juga dituduh sebagai penyebab polusi udara, namun “mungkin” karena masih banyak yang membutuhkan dan tidak ada sarana pengganti, armada khas Jakarta ini pun masih dipertahankan.
Yah, menjadi pengusaha angkutan umum memang butuh idealisme tinggi untuk memberikan pelayanan terbaik pada penumpang. Kalau cuma mau cari untung, saya sarankan pemilik modal jadi diler kendaraan bermotor atau juragan bengkel, setuju? Lho, pengusaha masak tidak boleh untung? Tentu saja boleh. Akan tetapi, sungguh lebih mulia jika keuntungan itu tidak diperoleh melalui sistem setoran yang selama ini dipertahankan, karena menyiksa awak angkutan dan penumpang. Soal aturan yang berujung pada win-win solution, setahu saya pakarnya sudah banyak

Seingat saya, kali pertama naik kendaraan jenis ini (ada tiga badan usaha yang punya armada kendaraan setipe : Metro Mini, Kopaja dan Koantas Bima) adalah ketika masa kuliah pada awal tahun 1990-an. Sejak saat itu, rasanya bangku penumpang kian mengecil saja, padahal tubuh sayalah yang membesar, hehe.

Ada sebuah benda kecil yang menarik perhatian saya pagi itu. Perhatikan baik-baik foto di atas ini. Seutas benang dengan kepingan logam tergantung di pintu belakang, di dekat tangan kondektur. Anda tahu fungsi benda itu untuk apa? Yak, benar. Itu kelengkapan Dik Kondektur untuk berkomunikasi dengan Pak Sopir untuk mengerem bus mini bilamana ada penumpang yang ingin naik maupun turun. Umumnya, para kondektur menggunakan uang logam untuk mengetuk-ngetuk jendela kaca maupun bagian logam pintu atau jendela. Tapi, kendaraan yang saya tumpangi ini beda. Dia punya alat istimewa
PS : Nyaris lupa. Ongkos bus mini ini Rp 2.000,00 saja. Sempat naik jadi Rp 2.500,00, lalu turun lagi ketika harga BBM (sempat) turun
8 Comments »
on 21 Agu 2009 at 17:38 1.hedi said …
saya paling tersiksa kalo naik bis kelas tanggung gitu, bukan fasilitasnya, tapi ukurannya ga memadai buat saya. Berdiri mentok, duduk di tengah — dengkul kepentok, yg pas ya dibelakang
hedi´s last blog ..Nurdin Halid
– cocoknya memang buat anak sekolah, bung hedi. kalau orang jangkung, bisa sakit leher kebanyakan miring/nunduk..
on 23 Agu 2009 at 21:10 2.regsa said …
kalo naik kendaraan umum, masalah kenyamanan dan safety adalah no 27.dah syukur dapat tempat duduk mpok
regsa´s last blog ..Pelacur Tua dan Doa seorang Bocah
– jadi pingin tahu nomor 1 sampai 26 apa aja sa

on 24 Agu 2009 at 10:39 3.iway said …
dulu ada trayek 621 jurusan ciputat – blok m, sering naik trayek ini karena jam kerjanya lebih larut (jam 11 malam) dibanding ‘temen-temennya’. tapi sekarang trayek itu sudah punah nah nah dan saya juga udah jarang naik bis
ps : kalo pegangan pintu liat-liat ya mpok, suka ada logam karatan yang tajam siap menggigit kulit
iway´s last blog ..101 Alasan tidak update blog
– bener, bung iway.. parah kalau sampai kena tetanus gara2 bus kota yak.. btw, beneran nggak ngeblog lagi ini?
on 24 Agu 2009 at 12:23 4.escoret said …
inget betul pas nyasar ke ciledug rumah temen kuliah.
numpak iki..jan..puanasseeeeeeee…koyo neroko jahanam!
escoret´s last blog ..Belajar dari tukang kunci..!!
– wah, mumpung bulan ramadan yak.. bahasanya bung pepeng kok agamis sekali

on 24 Agu 2009 at 14:03 5.jun said …
Waktu masih di Jakarta, dulu sekali alias sudah lama banget, sesekali naik Koantas Bima. Juga, angkutan-angkutan umum lain seperti Metro Mini dan Kopaja. Paling asyik kalau naik mikrolet dari dan ke Palmerah (kantor dan tempat tinggal saya kala itu), biasa macet lama di Slipi.
jun´s last blog ..Beli Helm dan Sepatu Boot. Buat Apa?
– wah, Pasar Palmerah, Slipi, biang macet ya, Pak..
on 24 Agu 2009 at 15:33 6.antyo rentjoko said …
Angkutan manusia yang gak manusiawi. Mana deket pintu dikasih sandungan lagi. Pernah sepatu sata sobek solnya kena bekas las yang runcing. Lebih korbanin Diadora (zaman kuliah) daripada kaki cacat seumur hidup.
antyo rentjoko´s last blog ..Notes. Masihkah Anda Memakainya?
– Diadora! Entah kenapa saya selalu mengasosiasikan Diadora dengan Adidas. Merek2 klasik

on 04 Sep 2009 at 07:40 7.Aji said …
Wakakakakak…
Saya ketawa ngakak baca komennya escoret. Bener, naik kendaraan ini puanase pol….
Eh maaf, artikelnya bagus… itu motret pake HP atau camdig?
salam kenal,
aji
Aji´s last blog ..Menyiapkan Dana Pendidikan Anak
– pakai hp saja kok, nggak berani pake kamera
. thanks, salam kenal juga, bung!
on 17 Jan 2010 at 18:35 8.Tantangan untuk Anda: Merekam Persoalan Sekitar « Paman Tyo said …
[...] tidak semua blogger kurang peka. Lihat saja Mpok Bina yang melaporkan kualitas Koantas Bima. Atau Reza yang melaporkan modifikasi “sok gaul” ala angkot, padahal itu membahayakan [...]