Cuplikan Cinta, Belajar dari yang Sedikit
Posted by mpokb on 29 Agu 2009 | Tagged as: Asbun Bukan Aspal

Dari statistik blog lama saya, saya dapati bahwa kata-kata kunci yang sering membuat peselancar internet menyasar ke sarang luwak sana antara lain adalah “Sinopsis Sengsara Membawa Nikmat”. Apa boleh buat, pengunjung hanya bisa kecewa karena saya tidak pernah menulis sinopsis yang dimaksud, hanya pernah menyebut judul novel itu dalam salah satu posting. Itulah yang terendus oleh mesin pencari.
Seingat saya, sewaktu SMP dan SMA dulu, pelajaran sastra Indonesia selain membuat berbagai contoh pantun dengan “rumus” diisi juga dengan menghafal nama-nama pengarang berbagai angkatan, judul karya mereka, tokoh-tokoh dalam judul tersebut serta alur cerita singkat. Setahu saya, buku-buku karya para sastrawan itu tidak pernah saya pegang langsung bahkan hingga saya lulus kuliah. Bahkan semasa sekolah sejak SD sampai SMA, saya lebih sering menikmati terjemahan hasil karya penulis asing populer, seperti Enid Blyton, Agatha Christie, Robert Arthur, sampai Herge
. Mungkin karena buku yang pertama kali dihadiahkan oleh ibu saya dulu, sewaktu saya berumur 8 tahun, adalah “Lima Sekawan” karangan Enid Blyton. Sejak itu, saya begitu tersihir oleh banyak buku karangan penulis Inggris ini.
Di bangku SMA lebih parah. Meskipun berusaha untuk menikmati uraian Pak Guru yang begitu mendalam tentang berbagai karya sastra Indonesia, tetap saja saya lebih sering mengantuk dan kehilangan konsentrasi seperti kebanyakan murid lain di ruang kelas. Saya tidak mengerti, mengapa pelajaran sastra dulu begitu asing buat saya. Tidak bisa membuat saya terengkuh seperti halnya Enid Blyton atau Agatha Christie, yang bahkan hingga beberapa tahun sejumlah tokoh dan kisahnya masih membekas dalam ingatan saya.
Ketertarikan saya terhadap karya penulis klasik Indonesia justru dimulai ketika saya sudah bekerja. Tentu saja, alokasi waktu untuk membaca sudah jauh berkurang. Begitu pula daya tahan untuk “manteng” buka buku berjam-jam, sudah sangat menurun. Dari yang sedikit itu, barulah saya tahu mengapa karya semacam “Sengsara Membawa Nikmat” atau “Harimau Harimau” (karya siapa, hayo?
) bisa dianggap karya hebat. Patokan hebat bagi saya adalah kalau saya betah dan penasaran membaca sebuah cerita sampai habis sekaligus dibuat terombang-ambing dari awal sampai akhir
Paman Tyo pernah bercerita tentang sebuah CD yang berisi cuplikan lagu-lagu klasik gubahan komponis dunia. Dari versi cuplikan itu, pendengar akan tahu mana karya Beethoven atau Mozart tanpa harus mendengarkan seluruh lagu. Dalam karya sastra Barat juga begitu. Tidak mungkin semua orang langsung memahami bahasa sastra, maka dibuatlah berbagai versi populer yang lebih ringkas untuk bisa menyebarluaskan tulisan tersebut. Penguin Classics kerap terlihat di toko-toko buku yang saya datangi di Bogor dan Jakarta. Bahkan saya pernah mendapatkan karya Jane Austen yang ditulis ulang menjadi buku saku mungil, sehingga para pembaca remaja bisa menikmati alur ceritanya tanpa perlu dipusingkan dengan bahasa Inggris abad ke-19
Tentu saja, ada perbedaan “rasa” dengan yang dibangun dengan gaya bahasa asli.

Baru-baru ini saya mendapat kado unik dari Paman Tyo (terima kasih, Paman nan baik hati!
), yaitu buku saku cuplikan puisi Shakespeare yang dilengkapi ilustrasi lukisan dari era yang sama. “Shakespeare on Love” ini mungkin bisa berfungsi sebagai pemancing keingintahuan orang untuk lebih mengenal karya sastrawan Inggris tersebut. Salah satu hasil interpretasi era modern dari “Romeo and Juliet” adalah film yang dibintangi oleh Leonardo DiCaprio beberapa tahun lalu. Karya sastra memang terkait erat dengan seni peran. Setahu saya, cara yang tepat untuk mengenal lebih jauh karya sastra bagi murid sekolah adalah melalui pentas drama. Dengan melakonkan tokoh dalam novel, para murid akan menghayati karakter dan memahami alur peristiwa, menyerap pesan yang disampaikan dan mengambil hikmah. Sayang sekali, tidak semua sekolah bisa menerapkan hal ini. Karya sastra yang dianggap rumit jadi begitu berjarak dan tereduksi menjadi pelajaran menghafal di kebanyakan sekolah. Dan, ketika internet muncul, murid lebih memilih googling sinopsis “Sengsara Memabawa Nikmat” ketimbang mencarinya di toko buku maupun perpustakaan.

6 Comments »
on 30 Agu 2009 at 16:10 1.regsa said …
jaman dulu sebagai murid saya juga disibukkan menghapal tahun berapa buku x dikarang.. mr a termasuk pujangga tahun berapa . Jarang diajak diskusi mengenai buku ato karya para sastrawan . dan baru ngeh tentang cerita Siti Nurbaya pada saat cerita ini di senetronkan oleh tvri .
– kalo gitu, mestinya novel2 itu difilmkan saja, ya sa?
on 31 Agu 2009 at 12:32 2.frozzy said …
wah mpok, bukunya bagus….kira2 ilustrasinya bantu nggak buat memahami isi bukunya tuh, mpok ? salah satu buku sastra yang pernah saya baca dan ga pernah lupa, adalah buku sastra lisan bugis, saya penasaran gara2 setiap mijitin bapak saya, beliau selalu mendongeng dan dongengnya itu diambil dari buku sastra lisan bugis tersebut. ah, jadi bernostalgia gini mpok…
frozzy´s last blog ..RAMADHAN-KU, MOMENTUMKU
– ilustrasi nggak terlalu berhubungan dengan cuplikan non.. hmm.. boleh banget tuh buku bugisnya diterjemahin, diposting, gitu?

on 01 Sep 2009 at 09:12 3.zee said …
Huehehee….
berarti selera kita sama ya. Hobinya baca enid blyton & agatha ….
zee´s last blog ..lengan kencang
– iyak… rasanya betah banget baca cerita mereka

on 03 Sep 2009 at 15:45 4.Fiz said …
Judul psotingnya saja sudah swip, apalagi isi bukunya itu yak

Dulu, ada pameo dari kawan-kawan, “Sedikit belajar, sedikit lupa. Banyak belajar, banyak lupa, Tidak pernah belajar, tidak pernah lupa”
Fiz´s last blog ..Kaos Strip
– waaah.. ada benarnya juga sih, hehe

on 05 Sep 2009 at 21:27 5.jun said …
Agatha Christie, Robert Arthur, sampai Herge. Bagaimana dengan Samuel Langhorne Clemens alias Mark Twain, mpok? Btw, saat kecil, mungkin masih sekolah di SMP, saya sudah menyantap habis, antara lain, Merahnya Merah dan Hujan Kepagian. Buku-buku itu, dulu, merupakan koleksi kakak sulung saya. Tapi sekarang sudah hilang semua….
jun´s last blog ..Rel Kota Solo Diperbaiki Demi Kereta Uap
– Mark Twain, saya lupa, Pak.. Rasanya dulu sempat baca yang versi terjemahan Album Cerita Ternama
Wah, suka Iwan Simatupang ya, Pak? Saya suka “Ziarah”..
on 09 Sep 2009 at 12:27 6.mayssari said …
Ya… Paman Tyo curang… aku kok gak dikasih????
Ya udah gak apa. Pinjem, Mpok!!!
mayssari´s last blog ..A R T I
– eits, entar dulu.. masih dibaca
