Indahnya Warna Surga
Posted by mpokb on 23 Okt 2009 | Tagged as: Asbun Bukan Aspal, Hiburan

Judul : “The Color of Paradise” (1999)
Judul asli : “Rang-e khoda”
Sutradara/Penulis : Majid Majidi
Film ini mengisahkan dilema yang dihadapi oleh seorang ayah ketika harus mengurus anak lelakinya yang buta dan dua anak perempuan setelah ditinggal mati istrinya.
Konflik utama terjadi antara si ayah (Hossein Mahjoub) dan anak lelakinya, Mohammad (Mohsen Ramezani). Si ayah yang berniat menikah lagi merasa malu memiliki anak buta dan tak sanggup merawatnya, sehingga memutuskan untuk menyerahkan pendidikannya pada seorang tukang kayu buta. Mohammad, yang tergolong murid pandai di sekolah, tidak ingin menjadi tukang kayu dan berusaha menentang, namun tak berdaya untuk mengurungkan niat ayahnya. Protes Mohammad pada sang ayah didukung oleh neneknya yang menyadari bakat istimewa Mohammad di sekolah. Bahkan, setelah Mohammad diam-diam dikirim ke rumah tukang kayu buta untuk tinggal di sana, si nenek melakukan protes dan angkat kaki dari rumah.
Tokoh nenek diperankan dengan baik oleh Salameh Feyzi. Adegan sangat menyentuh muncul ketika Mohammad baru pulang dari kota untuk liburan musim panas dan berusaha mengejutkan si nenek dengan kedatangannya. Sulit melukiskan ekspresi wajah si nenek yang begitu gembira melihat cucunya datang. Dalam dialog minim, selama beberapa saat penonton diajak menghayati kecantikan perempuan Iran yang terpancar lewat tatapan penuh kasih seorang nenek. Kemesraan hubungan nenek dan cucu juga tampil lewat pujian yang dilontarkan Mohammad pada neneknya. Menurut Mohammad, si anak buta, tangan neneknya putih dan cantik.
“The Color of Paradise” juga menampilkan sisi lain Iran yang sebelumnya tidak terbayangkan oleh saya yang cenderung sudah punya stereotipe tertentu tentang negeri ini. Selama ini, saya yang mengira Iran hanyalah sebuah negara dengan padang pasir, kerap bertanya-tanya. Bagaimana mungkin sebuah negeri bertanah tandus seperti itu bisa menginspirasi begitu banyak karya sastra dan film yang menggugah? Setting di alam terbuka berupa ladang yang ditumbuhi bunga-bunga bermekaran, bahkan di hutan rimba, sedikit banyak memberi saya sebuah pemahaman baru tentang tradisi masyarakat pedesaan di Iran. Di beberapa adegan, keindahan alam terasa begitu sureal.
Film ini meraih berbagai penghargaan internasional dan semakin memperkuat karakter film Iran yang tetap indah, berbobot dan menghibur meskipun sering kali menampilkan kesederhanaan dalam tema maupun penggarapan.
PS : foto dicomot dari sini
5 Comments »
on 23 Okt 2009 at 16:11 1.hedi said …
rata-rata film Iran selalu bernafas humanis, kenapa film Indonesia enggak ya….tanya kenapa hehehe
hedi´s last blog ..Eksklusif Kebablasan?
on 24 Okt 2009 at 04:32 2.regsa said …
kalo mendengar kata Iran pikiran saya membayangkan sisa-sisa gedung tua yang terabaikan karena perang teluk jaman dulu
..heheh.
Saya ndak pernah liat film Iran dan juga film2 laennya.Ndak begitu hobby heheh
on 24 Okt 2009 at 11:09 3.nothing said …
mas hedi seharusnya jadi sutradara juga, biar film indonesia juga bisa humanis hehehe
nothing´s last blog ..muktamar telah tiba
on 25 Okt 2009 at 15:32 4.morishige said …
ini film keluaran tahun berapa ya, mpok?
morishige´s last blog ..Langkah (21): Menyelinap ke Gubernuran Yogyakarta
on 25 Okt 2009 at 17:16 5.adiwena said …
Jadi ingat nenek saya… walau beliau tidak tamat SD tapi anak2nya bisa sekolah tinggi semua. Cucunya bahkan ada yang sedang di Inggris sana, mengejar S2…
Beliau sering bilang, “kalau aku lahir di jaman sekarang pasti sudah jadi doktor.” Kami, cucu-cucunya ini, percaya semua

adiwena´s last blog ..MENULIS