Kasus Pedagang Mingguan di Kota Hujan
Posted by mpokb on 06 Nov 2009 | Tagged as: Asbun Bukan Aspal, Tempat Singgah
Alkisah di Kota Hujan ada sebuah perumahan yang pada setiap akhir pekan selalu dijadikan tempat usaha oleh para pedagang, baik paruh waktu maupun mereka yang benar-benar berprofesi sebagai pedagang. Kompleks Melati, nama perumahan itu, sejak selepas subuh kerap didatangi para warga yang kebanyakan tinggal di sekitar lingkungan kompleks. Umumnya, mereka datang bersama keluarga untuk jalan pagi dan membeli sarapan. Jalan pagi dan membeli sarapan di akhir pekan rupanya sudah menjadi kebiasaan para warga Kota Hujan yang sejuk. Para pedagang kaki lima Kota Hujan gembira. Kompleks Melati menjadi tempat usaha yang strategis. Meskipun yang dijual hanya barang-barang kecil dan makanan, namun pada akhir pekan bisa laris manis.
Kesempatan ini pun tidak disia-siakan oleh mereka, para warga Kota Hujan yang sebetulnya bukan pedagang, namun ingin mencari penghasilan tambahan. Kebanyakan dari mereka adalah pegawai kantoran dari kelas menengah yang bekerja dari Senin sampai Jumat. Oleh sebab itu, waktu mereka untuk berdagang hanyalah hari Sabtu dan Minggu.
Dalam beberapa tahun, jumlah para pedagang ini kian bertambah. Ada yang memakai lapak, ada yang memanfaatkan mobil dan tenda, ada pula yang hanya menggunakan meja kecil untuk memajang barang. Dagangan yang ditawarkan pun kian beragam. Selalu ada barang baru dan jajanan rasa baru. Mereka yang berjualan sudah punya tempat yang tetap, namun tanpa batas fisik. Masing-masing hanya mengingat lokasi berjualan dengan patokan di depan rumah nomor sekian, atau di titik A atau B di dekat bundaran taman dan sebagainnya. Calon pedagang yang baru datang akan diterima, tentu dengan kesepakatan lisan bisa menempati tempat usaha yang tidak mengganggu pedagang lama. Semua rukun, semua tetap membayar uang terima kasih kepada petugas keamanan kompleks. Sesuatu yang dianggap wajar, karena otomatis tugas petugas keamanan kompleks bertambah dengan adanya begitu banyak pedagang pendatang.
Sampai suatu ketika, para pedagang menerima surat edaran bertulisan larangan berusaha di sana. Dalam surat itu disebutkan, berhubung adanya kejadian pencurian di salah satu rumah di Kompleks Melati, serta tabrak lari dengan korban warga kompleks, maka lingkungan Kompleks Melati dianggap sudah tidak aman lagi. Juga diambil kesimpulan bahwa penyebabnya adalah para pedagang mingguan itu.
Para pedagang resah dan tidak terima dipersalahkan. Selidik punya selidik, pencurian di rumah tersebut dilakukan oleh bekas pekerja rumah itu sendiri. Dan pelaku tabrak lari pun bukan dari kalangan pedagang. Kalau yang dipakai sebagai alasan adalah menjaga kebersihan, para pedagang merasa sudah memenuhi dengan menyediakan kantong sampah. Kebiasaan membuang sampah sembarangan tidak bisa ditimpakan sebagai kesalahan pedagang.
Rumor berkembang. Konon kabarnya, baru-baru ini seorang jenderal pindah ke salah satu rumah di jalan yang kerap digunakan untuk berdagang mingguan. Sang Jenderal rupanya merasa istirahatnya di akhir pekan terganggu dengan kegiatan para pedagang. Dia mengusulkan keberatan kepada Ketua RT dan Ketua RW, agar di Kompleks Melati kegiatan berdagang mingguan ditiadakan. Proses rembukan para warga kompleks pada akhirnya melahirkan surat edaran larangan berdagang.
Kasus yang dialami oleh para penggiat di sektor informal ini sebetulnya bukan yang pertama kali. Nasib yang lebih parah kerap dialami oleh mereka yang berstatus Pedagang Kaki Lima. Meskipun sudah membayar uang keamanan maupun uang kebersihan, namun mereka tidak punya kepastian hukum dan harus siap digusur sewaktu-waktu. Sungguh disayangkan, mengingat perputaran uang yang terjadi di sana tidak bisa dianggap remeh.
– diposting juga di Publikana – Kesaksian dan Pengalaman Warga
8 Comments »
on 06 Nov 2009 at 17:44 1.antyo rentjoko said …
Wahhhh publikana banget nih. Menarik Mpok tentang pegawai yang berdagang itu. Saya juga mau buka lapak di Mbogor ah…
antyo rentjoko´s last blog ..Laser, bukan Stiker
– mau jualan apa, bang paman? nanti saya ikut woro-woro dah…

on 06 Nov 2009 at 18:14 2.hedi said …
Di Indonesia ini, ga boleh ada tempat sepi/lowong…pasti gelar lapak. Buktinya Paman aja mau tuh
hedi´s last blog ..Kurang Latihan?
– bukannya malah bagus, bung hedi, wirausaha gitu? mau ikutan?

on 07 Nov 2009 at 03:37 3.regsa said …
penghuni komplek melati sendiri gimana mpok dengan keberadaan para pedagang ini,terganggu ato terbantu?
regsa´s last blog ..Pamitan
– ada yang terbantu, ada yang terganggu, ada yang ikut jualan di sana

on 07 Nov 2009 at 04:41 4.Mbilung said …
yang jualan sepeda motor ya ada, lengkap dengan potongan harga dan “cicilan ringan”
Mbilung´s last blog ..Menjadi Si Bolang (Bocah Hilang) 1
– pak mbilung termasuk yang suka jalan pagi di kompleks melati tho? hehe..

on 08 Nov 2009 at 11:35 5.Mbake said …
Binboooonnnn…
Lama nggak apdet yaaah…
Lama banget cutinya…
Hiks hiks hiks…
Ke lantai 5 yuukkk…
Makan Saboga…
– lha ini baru update mbake.. wah, saboga… kangen juga
on 09 Nov 2009 at 17:39 6.bukan facebook said …
di kompleks saya juga ada tuh pedagang gituh…tapi sejauh ini kami ndak ada masalah. Malah saya sering ikutan belanja di sana.
bukan facebook´s last blog ..Hati-hati kalau main Facebook!
– gak usah jauh2 lumayan ya, bung? di kompleks itu malah ada penghuni yang jualan juga kekekekek….
on 09 Nov 2009 at 23:02 7.Indah said …
Hmm.. sebenernya rada disayangkan juga yaa.. orang masih mau berusaha dengan berdagang gini kok malah diusir2in.
Khan mending mereka masih mo nyari uang githu lhoo.. daripada nanti malah jadi kriminal atau pengemis lantaran bete diusir2in muluuu..
Indah´s last blog ..Perfect
– itu dia Ndah.. kalau saja ada tempat yang layak dan terjangkau, masak sih mereka mau dagang begitu yak..?
on 11 Nov 2009 at 10:51 8.tuteh said …
Pedagang2 itu kan nggak ganggu keamanan…mungkin dianggap kurang tertib aja. Tapi asal mereka tanggung jawab sama kebersihan dan nggak bikin ulah… lanjut jalan aja to? Ah… yang kecil2 dipermasalahkan, yang gede2 diulur2…
Ciri kita ya… susah…
tuteh´s last blog ..Confused For A Moment
– memang sulit berbagi ruang di tempat yang sudah sempit, apalagi kalau nggak ada pilihan
