Kalimat Menjurus dalam Laporan

kompas 20 nov 09

Belakangan ini,  kian sering saya menonton atau membaca laporan jurnalistik yang terasa emosional dan punya sentuhan personal. Dalam berita televisi, lebih-lebih, akan sangat terasa subjektivitas laporan apabila disertai mimik peliput yang melukiskan sikapnya terhadap topik tertentu.

Sebagai pembaca koran maupun penonton televisi, adakalanya saya merasa jengah ketika menyimak kalimat yang menjurus, seakan mengarahkan opini, tanpa penjelasan mendalam mengenai sebuah topik. Saya tidak tahu. Para jurnalis pasti lebih tahu, apakah dalam kasus tertentu, kalimat-kalimat semacam itu memang diperlukan. Bahayanya adalah, kalau laporan hanya disimak separuh, dan hanya pada kalimat menjurus tersebut, akan terjadi penyempitan makna dari wacana sesungguhnya yang lebih luas.

PS : artikel dicuplik dari berita Kompas hari ini.

Tags: , , , ,

7 Responses to “Kalimat Menjurus dalam Laporan”

  1. sangat sulit memang untuk bersikap objektif terhadap sebuah isue..tapi asal tetap memegang prinsip berimbang masih bisa ditolrensi deh…

    yang gawat kalo sisi beritanya cuma berat sebelah itu yang bikin pusing yang nonton atau yang baca… :D
    .-= bukan facebook´s last blog ..Hubungan mobil mainan dan nasihat bijak =-.

    – apalagi kalau beritanya pesanan.. :(

  2. Fakta, dan bukan opini, yang mestinya disampaikan. Tapi ada juga sanggahan, pemilihan fakta dan cara mengemasnya pun sudah opinionatif.

    Lantas? Beropini dalam tulisan feature (begitu pula [terlebih] dalam laporan olahraga dan resensi seni) bisa saja, tapi akan lebih bagus jika ada argumentasi.

    Lha kalau opini melulu apa bedanya dengan blog? Saya hanya bertanya, dan tidak ingin menjawab. :)
    .-= antyo rentjoko´s last blog ..Taksi dengan Dua Sopir =-.

    – kecewa saja, bang paman. pembaca koran kan tidak perlu pengarahan. kalau pingin sesuatu yang subjektif, saya tetap bisa buka2 blog kok..

  3. tuteh says:

    Iyup..sekedar opini, duga2… akhirnya ada yagn salah tanggap. Kata orang Ende, “kita pung masyarakat tidak semua ‘mengerti’ deng berita-berita itu.”

    Hehehehe…
    .-= tuteh´s last blog ..Miss My Funny Posts =-.

    – sama saja,, saya juga ngikutin semampunya. puyeng…

  4. mayssari says:

    bgi mereka yang dapat menerapkan prinsip berimbang is okeylah.. kalau kembli ke orang awam… memang sebuah pemebentukan opini publik bukan??
    .-= mayssari´s last blog ..Tentang Tidur Malam =-.

    – berimbang itu justru nggak semudah yang kita kira..

  5. Cynthia Depe says:

    “Dalam berita televisi, lebih-lebih, akan sangat terasa subjektivitas laporan apabila disertai mimik peliput yang melukiskan sikapnya terhadap topik tertentu.”

    Betul, Mpok! Pembaca berita sekarang, kadang intonasi dan mimik mereka 11-12 sama pembawa acara infotainment..
    *sigh*

    – hayo.. suka nonton inpotemen yak.. :P kapan kerjanya?

  6. escoret says:

    bener,kata orang2…yg kuat yg menang…
    tp,sumpah..aku udah 2minggu ga menggang koran..hehehhe

    – ada kalanya menjaga jarak dengan berita2 itu lebih baik untuk kesehatan :)

  7. edratna says:

    Saya suka males nonton TV jika pembawa acaranya seolah-olah tau banget tentang masalah, padahal tidak (ini untuk bidang yang saya tahu)…mengapa mereka tak mau mendengar ya. Seringkali mereka hanya ingin memaksakan kehendak dalam wawancara, memotong penjelasan orang diwawancara dengan pertanyaan yang mengarahkan pada opini tertentu. Ada beberapa orang yang pintar menghadapi wartawan, dengan tetap pada pendapat semula dan tak menanggapi pertanyaan pembawa acara. Lha untuk apa kalau sudah begini? Ini bukan debat yang baik untuk pembelajaran.

    Koran? Saya hanya baca topik tertentu, dari media tertentu…udah males banget deh, apalagi jika wartawan menulisnya seolah-olah tahu tapi tidak tahu.
    Sedihnya…kan tak semua pembaca atau pendengar menguasai masalah yang dibahas di media…..jadi makin silang karut tak karuwan. Kemana mau dibawa?
    Saya setuju pendapat paman Tyo…..seharusnya mengedepankan fakta…..
    .-= edratna´s last blog ..Ketemu teman =-.

Leave a Reply