Kalimat Menjurus dalam Laporan

kompas 20 nov 09

Belakangan ini,  kian sering saya menonton atau membaca laporan jurnalistik yang terasa emosional dan punya sentuhan personal. Dalam berita televisi, lebih-lebih, akan sangat terasa subjektivitas laporan apabila disertai mimik peliput yang melukiskan sikapnya terhadap topik tertentu.

Sebagai pembaca koran maupun penonton televisi, adakalanya saya merasa jengah ketika menyimak kalimat yang menjurus, seakan mengarahkan opini, tanpa penjelasan mendalam mengenai sebuah topik. Saya tidak tahu. Para jurnalis pasti lebih tahu, apakah dalam kasus tertentu, kalimat-kalimat semacam itu memang diperlukan. Bahayanya adalah, kalau laporan hanya disimak separuh, dan hanya pada kalimat menjurus tersebut, akan terjadi penyempitan makna dari wacana sesungguhnya yang lebih luas.

PS : artikel dicuplik dari berita Kompas hari ini.

Kali ini Foto Kucing

kucingsimetris

Mengamati perilaku hewan adalah hal mengasyikkan buat saya, terutama kalau di sekitar saya sedang tidak ada manusia yang menarik untuk diamati :P  Misalnya, kedua kucing yang entah kenapa berbaring dengan posisi sejajar seperti ini. Kompak, padahal tidak ada yang mengatur. Lagi pula, setahu saya kucing bukan hewan yang mudah dilatih seperti anjing.

Kedua kucing ini kakak beradik, yang kakak betina lahir lebih dulu daripada si adik jantan. Akan tetapi, si adik jantan lebih bongsor daripada si kakak betina.

Seorang teman yang penyayang kucing pernah memberi tahu saya, konon kucing menganggap pemiliknya sebagai pelayannya, kebalikan dari anjing yang menganggap sang pemilik sebagai majikan. Benar atau tidaknya, silakan Anda bandingkan sendiri perilaku kedua jenis hewan peliharaan tersebut. Buat saya, sebagai teman maupun hiburan, keduanya sama-sama menggemaskan.

PS : Dulu, ketika sempat memelihara anjing sekaligus kucing, mereka bisa makan dengan tenang dari satu piring :)

Sebutir Kopi yang Tersisa

butiran kopi

Dalam sesendok penghabisan bubuk kopi, terlihat sebutir biji kopi yang tidak ikut tergiling, jatuh ke dalam cangkir. Aneh juga, dari sekian ratus butir kopi dalam kemasan 50 gram, hanya ada sebutir yang utuh tersisa. Ini mengingatkan saya pada mata kuliah statistik di kampus dulu yang menghasilkan sebaran nilai adil merata, karena hampir semua mahasiswa mendapatkan nilai C, dan nyaris tidak ada yang mendapatkan A, sehingga membuat saya berkesimpulan bahwa masalah ada pada tangan si dosen, bukan peserta kuliah.

Akan tetapi, sesuatu yang langka dan diperoleh secara tidak terduga memang pantas dinikmati dengan sepenuh hati. Butiran kopi, yang kadang juga dipakai sebagai hiasan di atas keik itu, terasa renyah saat dikunyah. Wanginya mengantarkan saya ke puluhan tahun silam, ke sebuah toko kelontong yang menyediakan mesin penggiling kopi.

Kerja Keras Semut

semut

Antara kasihan dan heran. Sedang apa dia? Haruskah bekerja sendirian? Seekor semut hitam besar yang berusaha menyeret serpihan kacang goreng. Saya tidak tahu berapa lama dia seperti begitu.