Pelanggar Hukum (Terjemahan)
Posted by mpokb on 06 Jul 2010 | Tagged as: Percobaan gituh, Tak Berkategori
Seorang petani bertubuh pendek dan ceking berdiri di depan hakim pemeriksa. Si petani mengenakan kemeja bermotif garis-garis dan celana panjang yang ditambal. Jenggot berewoknya, wajah bopengnya serta matanya yang nyaris tak terlihat di bawah alis tebal dan menggantung, menjadikan raut mukanya kasar dan menakutkan. Selain itu, rambutnya yang awut-awutan menimbulkan kesan garang bak laba-laba. Dia bertelanjang kaki.
“Denis Grigoriev,” ujar hakim, “mendekatlah dan jawab pertanyaan saya. Ketika berpatroli menyusuri rel pada tanggal 7 Juli lalu, Ivan Akinfoff, petugas pemeriksa rel, melihat Anda di verst (1) ke-141 sedang melepaskan mur yang menyambungkan rel dengan balok. Ini mur yang Anda lepaskan waktu dia menahan Anda. Benarkah?”
“Apanya?”
“Apakah semuanya terjadi seperti yang dilaporkan oleh Akinfoff?”
“Ya, seperti yang dia laporkan.”
“Baiklah. Kalau begitu, apa maksud Anda melepaskan mur itu?”
“Apanya?”
“Jangan berkata ‘apanya’ terus dan jawab pertanyaan saya. Mengapa Anda melepaskan mur itu?”
“Jika saya tidak membutuhkan mur itu, saya tidak akan melepaskannya,” gerutu Denis sambil memandangi langit-langit.
“Untuk apa Anda membutuhkan mur?”
“Untuk apa? Kami membuat pemberat dari mur.”
“Siapa yang Anda maksud dengan ‘kami’?”
“Kami, para warga, kaum petani Klimov.”
“Begini, ya. Jangan berlagak bodoh! Bicaralah yang masuk akal, dan jangan bohongi saya tentang pemberat!”
“Saya tak pernah berbohong seumur hidup saya,” gumam Denis sambil berkedip. “Bagaimana mungkin seseorang memancing tanpa pemberat, Yang Mulia? Jika Anda memasang umpan di kail dengan benda berkilat atau kecoak, apa Anda kira kail itu bisa tenggelam ke dasar tanpa pemberat? Dan Anda bilang saya berbohong!” ujar Denis sambil tertawa. “Benda berkilat bisa menjadi umpan yang bagus, mengambang di permukaan air! Ikan bass (2), pike (3) atau belut selalu memakan umpan yang dilemparkan. Umpan yang mengapung hanya akan dimakan oleh garfish (4), ikan yang lain tidak mau. Lagi pula, di sungai kita tidak ada garfish. Mereka suka alam terbuka.
“Kenapa Anda membicarakan garfish dengan saya?”
“Apa? Bukankah Anda tadi bertanya tentang memancing? Semua pria seperti kami memancing seperti itu. Bahkan anak kecil saja tahu, mustahil memancing tanpa pemberat. Tentu saja, ada sebagian orang yang tak mengerti apa-apa, dan mereka suka memancing tanpa pemberat. Orang bodoh tak suka menuruti aturan.”
“Jadi, Anda melepaskan mur ini untuk dijadikan pemberat?”
“Untuk apa lagi saya melepaskannya? Untuk bermain halma?”
“Tapi, Anda bisa membuat pemberat dari timah, peluru, paku atau yang lainnya.”
“Timah tidak tumbuh di semak-semak, kita harus membelinya. Paku kurang bagus. Tidak ada yang lebih bagus untuk dijadikan pemberat selain mur. Selain berat, mur juga berlubang.”
“Kau berpura-pura bodoh! Sikapmu seperti bayi berumur sehari atau baru dilahirkan. Tidakkah kau mengerti, Bodoh, apa akibat dari melepaskan mur ini? Jika penjaga tidak menemukanmu, mungkin saja salah satu kereta yang lewat akan menyelonong ke luar rel dan membunuh semua penumpangnya, dan kaulah yang membunuh semuanya!”
“Amit-amit, Yang Mulia! Apakah Anda mengira kami penjahat kafir? Puji Tuhan, Tuan yang baik hati, kami bukan saja tidak pernah membunuh siapa pun, tapi berpikir tentang itu pun tidak! Bunda Kudus, lindungi kami dan ampunilah kami! Bagaimana Anda bisa bicara seperti itu?”
Denis tersenyum kecut dan mengedipkan mata seolah tak percaya pada si hakim pemeriksa. “Huh! Sudah berapa tahun seluruh penduduk desa melepaskan mur, dan kecelakaan belum pernah terjadi? Jika kami mengangkat rel itu, atau menggeletakkan balok kayu di atas jalur kereta, mungkin saja kereta api akan mengalami kecelakaan. Tapi, astaga! Sebutir mur, huh!”
“Bisakah kalian mengerti, bahwa mur mengencangkan rel pada bantalan kayu?”
“Ya, kami mengerti. Makanya, kami tidak melepaskan semuanya. Kami selalu menyisakan sebagian. Kami melakukannya dengan berhati-hati, kami mengerti.”
Denis menguap dan membuat tanda salib di mulutnya.
“Tahun lalu, serangkaian kereta api keluar dari relnya tidak jauh dari sini,” ujar hakim pemeriksa. “Sekarang saya tahu penyebabnya.”
“Apa Anda bilang?”
“Saya bilang, saya tahu kenapa kereta api itu keluar dari relnya tahun lalu.”
“Ya. Anda dididik untuk mengetahui hal-hal semacam ini, Tuan yang baik. Anda bisa mengerti penyebab segala hal. Tapi, petugas pengawas itu hanya petani yang tidak mengerti apa-apa. Dia langsung mencengkeram kerah mantel saya dan menyeret saya. Seseorang seharusnya menilai dulu sebelum menyeret. Tapi, seorang petani hanya memiliki kemampuan untuk menilai seorang petani. Silakan Anda catat, Yang mulia, bahwa dia memukul saya dua kali. Pada mulut dan dada saya.”
“Sebuah mur lain ditemukan ketika rumah Anda digeledah. Di mana Anda mencopotnya, dan kapan?”
“Maksud Anda, mur yang ada di bawah peti kecil berwarna merah?”
“Saya tidak tahu di mana mur itu tergeletak, tapi mur itu ditemukan. Di mana Anda mencopotnya?”
“Saya tidak mencopotnya. Mur itu pemberian Ignashka, putra Simon si Mata Satu. Maksud saya, mur di bawah peti kecil berwarna merah, yang ada di kereta luncur di halaman. Mitrofan dan saya melepaskannya bersama-sama.”
“Mitrofan yang mana?”
“Mitrofan Petrov. Anda belum pernah mendengar tentang dirinya? Dia membuat jala dan menjualnya pada para penduduk. Dia membutuhkan banyak mur untuk usahanya. Selusin untuk setiap jala.”
“Dengar! Dalam pasal 1081 Undang-undang, disebutkan bahwa ‘Barangsiapa dengan sengaja merusak jalur rel, dan bisa mengakibatkan kereta api mengalami kecelakaan, dan menyadari bahwa kecelakaan itu mungkin terjadi’ – apakah Anda mendengarnya? Menyadari – ‘akan dijatuhi hukuman berat’. Anda pasti tahu apa akibat melepaskan mur itu. Hukumannya pengasingan dan kerja keras.”
“Tentu saja, Anda lebih mengerti daripada saya. Orang-orang seperti kami hidup dalam kegelapan. Bagaimana mungkin kami mengerti hal-hal semacam ini?”
“Anda sangat mengerti. Anda berbohong dan berlagak bodoh.”
“Mengapa saya harus berbohong? Tanyakan pada siapa pun di desa, jika Anda tak memercayai saya. Mereka tidak pernah berhasil mendapatkan apa pun selain kecoak jika tidak memakai pemberat, bahkan seekor gudgeon (5) tidak akan mau menggigit umpan kecuali Anda memakai pemberat.”
“Sekarang Anda mulai membicarakan garfish lagi!” ujar hakim pemeriksa sambil tersenyum.
“Di sungai kami tidak ada garfish. Jika kami membiarkan umpan mengambang di permukaan air tanpa pemberat, kadang-kadang kami berhasil menangkap perch (6), tapi tidak sering.”
“Oh, berhentilah bicara!”
Mendadak sepi. Denis mula-mula berdiri dengan membebankan diri pada satu kaki, lalu mengubah posisi ke kaki satunya sambil memandangi meja. Matanya berkedip-kedip dengan cepat, seakan menatap matahari dan bukan taplak berwarna hijau. Hakim pemeriksa itu menulis dengan cepat.
“Saya akan menahan Anda dan menjebloskan Anda ke penjara.”
Denis berhenti berkedip, mengangkat alisnya yang tebal dan menatap penuh tanya pada hakim pemeriksa.
“Apa maksud Anda? Penjara? Yang Mulia, saya tidak punya waktu! Saya harus ke pasar untuk menagih uang tiga rubel, utang Gregory untuk membeli gemuk.”
“Berhentilah bicara! Jangan menyela!”
“Ke penjara! Kalau ada alasannya, tentu saja saya mau. Tapi, kalau hidup seperti saya, apa gunanya? Saya tidak merampok siapa pun, bahkan saya belum pernah berkelahi. Kalau yang Anda pikirkan masalah pembayaran sewa rumah saya, janganlah Anda percaya pada ucapan juru sita itu, Yang Mulia. Tanyakanlah pada salah satu pria terhormat. Juru sita itu seorang pencuri, Yang Mulia!”
“Berhentilah bicara!”
“Saya akan diam,” gerutu Denis. “Bagaimanapun, saya bersumpah bahwa Juru Sita telah berbuat curang dengan catatannya. Dalam keluarga kami ada tiga bersaudara. Kuzma, Gregory dan saya…”
“Anda menyela omongan saya. Kemarilah, Simon!” panggil Hakim. “Bawa lelaki ini pergi.”
“Dalam keluarga kami ada tiga bersaudara,” gumam Denis ketika dua serdadu berbadan tegap mencengkeramnya dan membawanya ke luar ruangan. “Saya tidak bisa bertanggung jawab untuk saudara saya. Kuzma tidak mau membayar utangnya, dan saya, Denis, yang harus menderita! Anda menyebut diri Anda hakim! Jika tuan kita yang dulu, sang Jenderal, masih hidup, beliau akan mengajari Anda cara menghakimi. Anda harus bersikap masuk akal, dan tidak menghukum dengan sewenang-wenang. Cambuklah seseorang jika dia memang harus dicambuk…”
Keterangan :
1. Verst : satuan panjang di Rusia, sekitar 1,1 kilometer
2. Bass : ikan air tawar semacam ikan bandeng
3. Pike : ikan air tawar berbadan dan bergigi panjang
4. Garfish : ikan laut dengan rahang berbentuk paruh dan bergigi tajam
5. Gudgeon : sejenis ikan air tawar kecil yang biasa dijadikan umpan
6. Perch : sejenis ikan air tawar dengan sirip belakang berduri, sayap bawah jingga
Diterjemahkan dari cerita pendek berjudul “The Malefactor” (judul asli : “Zloumyshlennik”) karya Anton Chekhov (1885).
5 Comments »
on 07 Jul 2010 at 13:40 1.jun said …
Jika di Jakarta, mungkin Denis Grigoriev ini langsung dihukum seumur hidup ! [karena ngeuyel pol dan nggak nyambung (1), dan karena nggak nyogok (2)].
– atau… diadilinya sebelum maju ke sidang, Pak..?
on 10 Jul 2010 at 18:30 2.Bri said …
baca dua kali gue masih tetap bingung neh…. Jadi Si Denis ini sebenarnya salah apa gak sih krn nyolong mur? Apa karena dia miskin jadi dituduh demikian? Terus gak jadi dihukum karena dia jadi nyerocos soal kehidupannya?
*bego.com*
Bri´s last blog ..When will be your turn
– hehe, membingungkan ya terjemahannya..
on 13 Jul 2010 at 10:27 3.Fiz said …
Lebih baik nyolong mur, daripada motongin rel untuk dijual kiloan
Fiz´s last blog ..Masuk Sekolah Lagi
– waa… dua-duanya nggak mending deh..
on 21 Jul 2010 at 13:04 4.winy said …
menarik..sungguh menarik….ampe sekarang juga masih kejadian ya yang kayak gini. tapi gak tau juga, orang indonesia se-ngeyel (atau berani) ini gak sih?
winy´s last blog ..Gara-gara Rok Saja
– iya, tapi proses penjatuhan vonisnya juga penting, bukti belum jelas sudah divonis bersalah

on 23 Jul 2010 at 09:47 5.frozzy said …
ndak jauh beda sama kejadian di negeri ini, cukup dengan label bodoh, miskin dan tidak berdaya, orang2 seperti Denis ini bisa dengan mudah dijatuhi vonis. Tidak perlu teori hukum yang macam2, yah sesimpel itu. masih untung sempat disidang ? kalo keburu dipenjara tanpa pernah ada proses persidangan bgmn ? tragis yah mpok.
anyway….lama sekali saya nggak dolan ke sini, mpok…:D
frozzy´s last blog ..PESTA BUKU JAKARTA 2010
– alo juga non frozzy.. iya.. sudah susah, nggak ada yang belain, disidang secara tidak adil, tahu2 jadi tahanan ya Non..
