Gerbong Perempuan, Masihkah Relevan?
Posted by mpokb on 21 Agu 2010 | Tagged as: Kehidupan Bersama
Dua hari yang lalu muncul berita tentang peresmian gerbong khusus perempuan untuk kereta api Jabotabek (silakan googling). Entah disengaja atau tidak, pemisahan penumpang berdasarkan jenis kelamin ini dilakukan tidak lama setelah dilakukan pemisahan antrean penumpang bus Trans-Jakarta. Menurut adik saya, sebetulnya beberapa tahun lalu pengadaan gerbong khusus perempuan untuk KA Jabotabek pernah dilakukan, tapi kemudian tidak berjalan lancar dan bahkan kembali ke kondisi semula, penumpang perempuan dan lelaki duduk di satu gerbong.
Dalam berita disebutkan, alasan utama pengadaan gerbong khusus perempuan ini adalah demi keamanan dan kenyamanan, mengingat di atas kereta api kerap terjadi pelecehan seksual terhadap kaum hawa. Dari wawancara sekilas yang ditampilkan, sepertinya mayoritas perempuan menyambut baik hal ini.
Buat saya pribadi, ide ini memunculkan sejumlah kebimbangan. Pertama, pemisahan penumpang berdasarkan jenis kelamin, sebetulnya tidak menyelesaikan persoalan yang lebih mendasar, yaitu kurangnya rasa aman dan nyaman perempuan ketika bepergian. Memang, di dalam gerbong kaum perempuan mendapat rasa aman dan nyaman, akan tetapi itu menempatkan kaum lelaki selalu sebagai ‘si jahat’. Anda mungkin akan bilang, “Memang, itu sudah sifat dasar lelaki yang tidak bisa diubah.” Saya setuju bahwa lelaki bisa saja menjadi makhluk paling berengsek. Saya pun cukup sering mengalami pelecehan seksual di tempat umum (di trotoar, angkot, bus, kereta api), yang sebagian bisa saya lawan dan sebagian lagi tidak, karena memang situasi tidak memungkinkan. Akan tetapi, saya masih ingin percaya pada satu instrumen yang seakan terabaikan dalam masalah ini, yaitu hukum. Padahal, penegakan hukum yang konsisten dengan sendirinya akan mengubah perilaku seseorang, dan itulah yang saat ini sering absen dalam kehidupan bermasyarakat. Apakah jumlah aparat penegak hukum sebegitu minimnya? Mengapa?
Kedua, kaum perempuan bukan bayi prematur yang harus hidup di lingkungan steril. Pemisahan penumpang hanya menjamin keselamatan perempuan di atas gerbong, akan tetapi kalau persoalan di luar itu tidak dibereskan, percuma saja. Perempuan tetap dalam posisi rentan, padahal mustahil mereka tinggal di rumah terus, apalagi sebagai kaum pasif. Saya khawatir, perlakuan khusus kepada kaum perempuan akan semakin menegaskan posisinya sebagai golongan kelas dua ketika zaman justru menuntut peran perempuan semakin banyak di luar rumah. Perlakuan khusus akan membentuk perempuan menjadi kaum yang cengeng dan manja, bahkan terjerumus dalam proses domestikasi terpaksa. Lalu, kapan perempuan dan lelaki akan setara? Setara lho, bukan sama.
Ketiga, kaum lelaki seharusnya tersinggung dengan pemisahan penumpang seperti ini, karena mereka dianggap makhluk tak berakal yang dengan mudahnya melakukan pelecehan seksual. Hanya karena perbuatan segelintir lelaki berengsek di tempat umum, bukan berarti mereka ikut-ikut jadi ‘si jahat’, kan? Tanyakanlah pada kerabat atau teman lelaki Anda tentang hal ini.
Keempat, pengawasan. Bagaimana jaminan keamanan dan kenyamanan seterusnya di gerbong perempuan ini, masih bisa dipertanyakan. Menurut saya, kalaupun gerbong itu heterogen, selama pengawasan dilakukan terus-menerus, ketertiban akan tetap terjaga dan menciptakan rasa aman dan nyaman itu tadi.
Itu saja unek-unek saya tentang gerbong khusus perempuan. Kalau Anda punya pendapat lain, boleh lho dibagi di sini. Siapa tahu pendapat Anda lebih mencerahkan.
10 Comments »
on 21 Agu 2010 at 13:32 1.hedi said …
bagus sih ada pemisahan, tp ga akan berjalan mulus karena pemahaman, keteraturan, kebijaksaan di sini belum egaliter. paling lama sebulan udah ga karuan
hedi´s last blog ..Titik Nadir
– di berita disebutkan, ini kebijakan sementara.. sampai ada perubahan pola pikir.. nah, apakah sementaranya karena pola pikir yang berubah atau ada sebab lain, kita lihat saja

on 22 Agu 2010 at 06:40 2.Filsafat Konseling said …
Empat poin yang Anda sebutkan saya setuju, tidak untuk yang hukum. Jika bicara kejahatan, tidak seperti anggapan umum selama ini, tidak bisa diselesaikan secara linear dengan hukum. Berbagai penelitian mutakhir maupun lawas atas soal ini malah memperlihatkan bahwa tingkat penegakan hukum yang tinggi pun tidak meredam tindak kejelekan atau kejahatan. Paling banter kita bisa mengatakan bahwa hukum dengan angka kejahatan, dalam hal ini pelecehan seksual, hanya bekorelasi. Tetapi, korelasi bukan kausalitas.
Penelitian menunjukkan bahwa di suatu wilayah yang memiliki kontrol sosial tinggi dari partisipan sosialnya ketika dibandingkan dengan wilayah yang kontrol sosialnya rendah dari partisipan sosialnya malah diserahkan ke pihak aparat hukum, angka kejahatannya malah banyakkan yang wilayahnya dikontrol ketat oleh aparat hukum.
Jika kita mengacu pada hal ini, itu berarti “orang jahat” atau “orang baik” yang tergoda berbuat jahat lebih takut terhadap pos siskamling ketimbang pos polisi
Seperti yang Anda tahu, kalo massa biasanya main bakar aja
Tentu bukan soal main bakarnya yang hendak saya singgung, melainkan tingkat partisipasi warga. Gerbong kereta bisa kita modelkan sebagai lokus sosial di mana di dalamnya ada penumpang yang bisa kita lihat penghuni di lokus sosial itu. Nah, jika para penghuni itu saling menjaga dan mengontrol tidak apatis, orang yang hendak berbuat jahat akan menimbang lantaran perbuatan jahat yang murni bukan gangguan psikologis merupakan tindak rasional. Karena rasional, pasti ada hitungan untung-rugi.
Nah, selain soal kontrol sosial itu, ada penelitian lain yang bisa kita jadikan masukan yakni suatu tindak kejahatan dipengaruhi lingkungan sosialnya. Misalnya, seseorang yang hobi menggoda perempuan di jalan itu juga disebabkan oleh faktor sosialnya, di mana banyak temannya dan temannya temannya melakukan hal itu. Dari acuan ini, bisa diartikan bahwa jika masyarakat menjadikan soal pelecehan seksual ini bukan sekadar masalah perempuan atau lelaki, tetapi masalah relasi sosial, masalahnya akan lain lagi. Banyak orang yang menyaksikan pelecehan seksual, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Nah, itu kenapa bisa begitu?
Betapapun, jangan dilupakan bahwa hukum juga salah satu alat kekerasan pada dasarnya, dan kekerasan dibalas kekerasan biasanya semakin besar; dan hukum hukuman manusia itu agak aneh dibanding dengan spesies atau entitas manapun di muka Bumi ini lantaran hanya manusialah yang mengerangkeng sesama spesiesnya
O, iya, kan kalo kita membawa senjata tajam, meski itu pisau dapur, jika sedang apes kena razia polisi, pasti kita akan diinterogasi, diduga akan berbuat kejahatan; bahkan saya punya kenalan yang ditangkap lantaran membawa kertas “papir” atau kertas rokok untuk tembakau, yang memang sering digunakan untuk mengisap ganja. Teman saya itu dituduh pengguna ganja. Jika asumsi hukum seperti itu, seharusnya para lelaki itu tidak boleh keluar atau berada di ruang publik membawa penisnya, lantaran dikhawatirkan penisnya berpotensi digunakan untuk melakukan kejahatan
Filsafat Konseling´s last blog ..Filsafat Ngeblog 1
– Hukum di sini saya maksud sebagai jaminan hidup saya sebagai warga negara. Akan lebih mengerikan kalau hukum diserahkan kepada khalayak, yang terjadi malah main hakim sendiri seperti sering terjadi belakangan ini. Di sisi lain, kontrol sosial, penyadaran bahwa tindakan itu salah dan rasa saling menghormati sesama manusia juga perlu..
on 23 Agu 2010 at 12:37 3.edratna said …
Saya pernah membaca tulisan teman yang tinggal di Jepang, disana juga ada pemisahan gerbong untuk perempuan….dimaksudkan untuk kaum perempuan yang bawa anak kecil, dan pada jam-jam tertentu yang sangat penuh penumpang.
Di satu sisi pengamanan juga perlu agar orang tak waras yang melakukan pelecehan ditindak….
Saya ingat zaman mahasiswa, yang setiap pulang kampung naik bis malam atau kereta api malam. Suatu ketika, lampu di gerbong padam, katanya agar kereta api bisa naik (aneh juga ya)…..pernah ada cowok yang kurang ajar, dan saat itu saya tak berani teriak…hanya berusaha menghindar. Setelah sampai Bandung, sepupuku mengajarkan, jika ada apa-apa di kendaraan umum sebaiknya langsung teriak, karena penumpang lain akan membantu. Dan kemudian terjadi lagi, kali ini saya sudah siap-siap…sambil saya pukul pakai payung saya teriak…akibatnya orang itu tak berani lagi duduk di tempat duduk semula sampai kereta sampai di setasiun Bandung…entah kenapa saat itu kereta api yang eksekutif hanya satu gerbong, lainnya kereta ekonomi dan lampu gerbong sering padam.
Masalahnya jika terjadi pelecehan kadang kita sudah keder duluan, dan jika bawa anak kecil, memang berisiko.
edratna´s last blog ..Melintas batas propinsi- mudik- jalan-jalan- nyadran- menemani tugas suami
– Turut prihatin Bu, pernah mengalami seperti itu. Salut juga, karena Ibu berani melawan. Memang idealnya begitu, supaya pelaku kapok dan tidak terulang ke orang lain..
on 23 Agu 2010 at 13:19 4.Antyo Rentjoko said …
Mengadabkan masyarakat itu lebih penting. Di dalamnya termasuk aspek hukum dan konseling yang harus ditempuh dengan edukasi. Tanpa itu, segregasi hanya menjadi sinyal macam ini, “Memang kami, lelaki ini, adalah serigala jahat. Maka hati-hatilah sama kami kalau di luar gerbong.”
Antyo Rentjoko´s last blog ..Tutup Tangki Septik
– Itu dia yang saya khawatirkan, Bang Paman. Tapi bingung juga caranya mengadabkan masyarakat yang terbiasa menganggap pelecehan adalah wajar. Apa perlu dibuat kampanye ya?
on 26 Agu 2010 at 23:09 5.Bri said …
niatnya sih mungkin baik ya… tapi gak yakin sama pelaksanaannya….
Paling juga kalau sudah penuh, yg cowok tetap aja aja bakal masuk ke dalam gerbong itu….apalagi kalau gak ada yg jaga….
Sebenarnya gak apa juga sih ada gerbong khusus… Bisa buat manula atau ibu hamil jadi gak terbatas cuman buat perempuan doang….
Bri´s last blog ..Gravel in your life
on 28 Agu 2010 at 10:51 6.winy said …
numpang ngasih pendapat ya mpok…
tentang kebimbangan pertama:salah satu persoalannya memang tentang keamanan dan kenyamanan perempuan dalam bepergian. menurut pendapat saya, dengan model gerbong ini adalah salah satu usaha untuk mewujudkan hal itu. mungkin ini sebuah usaha kecil, tapi saya pikir sedikit-sedikit jika diikuti yang lain maka akan bisa saling menyukseskan usaha memberi keamanan-kenyamanan itu. nah, yang lain itu juga diperlukan, yaitu penegakan hukum dan pendidikan yang memanusiakan. penegakan hukum saja tak selalu memberi jawab, setau saya sudah beberapa negara yang menerapkan ini dan mereka termasuk yang maju dalam hal penegakan hukum.
tentang kebimbangan kedua: saya gak melihat hubungan antara pemisahan gerbong kereta dengan masalah kesetaraan pria-wanita. pemisahan di alat transportasi adalah sesuatu yang berlangsung dalam tempo tertentu saja, disebabkan kondisi-kondisi khusus (pelecehan, kenyamanan membawa anak, dll), seperti halnya di toilet, yang kita pakai sementara saja namun tidak nyaman rasanya menggunakan toilet di beberapa terminal bis yang multi-user.
tentang kebimbangan ketiga:saya pikir tidak perlu begitu. beberapa lelaki teman saya menjadi kikuk saat naik bis penuh yang memaksa ia mendesak penumpang lain di sekitarnya, termasuk perempuan, dikira akan melakukan sesuatu yang hina, padahal ia pun terpaksa, padahal ia pun tak nyaman. jadi kan 2 kali ga enak, sudah terdesak-desak, dipelototi pula. dengan pemisahan ini saya pikir justru melegakan bagi laki-laki yang selama ini “tertindas” seperti itu. segolongan laki-laki juga menyambut baik hal ini karena menurut keyakinannya, mereka (dan istri, ibu, anak perempuan mereka) terhindar dari ikhtilat (ini apa ya artinya, mmm…percampuranlah kira2). Selain itu, masyarakat pun tahu bahwa yang jahat bukan hanya lelaki, pemisahan ini bisa jadi tidak menghindarkan penumpang perempuan jadi korban copet perempuan.
tentang kebimbangan keempat: saya pikir ini mirip dengan yang pertama. saya setuju pengawasan sebagai salah satu usaha yang mendukung terciptanya keamanan-kenyamanan tsb, tapi tidak berdiri sendiri. setuju juga bahwa ini harusnya konsisten.
kalo pendapat saya sih gitu mpok. setuju soal kampanye melawan pelecehan seksual
on 07 Sep 2010 at 12:29 7.Joko Sutarto said …
Saya jadi berandai-andai jika suatu saat saya harus naik kereta model seperti ini dengan istri saya, gimana? Masak dengan istri sendiri harus dipisah, jauh-jauhan akibat aturan ini?
Saya sependapat dengan Anda. Pemisahan ini saya rasa bukan solusi terbaik dan mungkin tak sama dengan pemisahan antara Pria dan wanita di toilet. Karena di toilet memang kita harus membuka celana kalau mau pipis atau buang air besar jadi tak mungkin dicampur antara pria dan wanita.
on 08 Sep 2010 at 08:10 8.mpokb said …
tanpa gerbong khusus pun, cukup kursi khusus, dan asal kitanya tertib, ibu hamil, orang tua tetap bisa nyaman..
on 08 Sep 2010 at 08:12 9.mpokb said …
Lha ya itu. Lebih penting menyebarkan kesadaran bahwa kesetaraan perlu dibarengi dengan sikap saling menghargai, menghormati, bukan main colek, kan jeng..? Ini pun berlaku untuk lelaki, karena pelecehan bisa terjadi juga pada kaum lelaki (teman saya pernah ngalami).
on 08 Sep 2010 at 08:14 10.mpokb said …
Ada yang dipisahkan, istrinya malah ketinggalan di kereta waktu suaminya turun, Pak..