Internet dan Perempuan, Pembebasan hingga Sirik-sirikan
Posted by mpokb on 23 Okt 2011 | Tagged as: Kehidupan Bersama
Dia, menurut pengakuannya, melukis semua gambar itu dengan darah menstruasi yang ditampung dalam menstrual cup atau cawan menstruasi, sebuah produk yang baru saya ketahui tanpa sengaja ketika googling mengenai menstruasi. Perempuan ini, entah berapa usianya dan tinggal di belahan dunia mana, mengaku bahwa melukis dengan darah menstruasi memberinya sebuah pengalaman yang mengasyikkan. Dia heran, mengapa tidak lebih banyak perempuan yang melakukan seperti dia, melukis dengan darah menstruasinya? Sejumlah foto karyanya dipamerkan di blog, lengkap berikut keterangan bahwa gambar itu dilukis dengan darah menstruasi hari pertama, ketiga dan seterusnya. Bahkan dia memasang foto bercak pada celana dalam yang masih dipakai(!) di masa mendekati akhir menstruasi untuk menekankan bahwa yang dia lakukan itu “fun“.
Lain budaya lain cara pandang. Lain orang lain pikiran. Bagi saya, semua foto yang ditampilkan itu terus terang menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan ngeri. Jangankan darah menstruasi, darah biasa pun bisa menimbulkan kesan ngeri kalau dibuat lukisan. Apalagi ini, sel-sel telur mati yang memang harus dikeluarkan dari tubuh perempuan demi kesehatan. Setahu saya, dalam budaya tradisional yang saya kenal yaitu Jawa, darah menstruasi itu kotor. Maka jamu tradisional kunyit asam pun diminum karena dipercaya punya khasiat untuk “membersihkan”. Dalam ajaran agama yang saya tahu pun, darah menstruasi dianggap najis sehingga perempuan yang datang bulan dilarang salat.
Terlepas dari semua itu, untuk kesekian kalinya saya jadi takjub betapa internet telah menjadi penyingkap tabir tabu bagi sebagian perempuan modern. Bukan berarti hanya perempuan yang berubah karena internet, namun dampaknya memang terasa lebih drastis pada kaum hawa ketimbang kaum adam. Kalau dulu perempuan hanya bisa memendam perasaan, menulis di buku harian atau surat pada lelaki pujaan, sekarang mereka bisa menguraikan satu perasaan cinta dalam ratusan kata di sebuah blog, kalau perlu disebarluaskan melalui media sosial agar seisi dunia tahu bahwa dia punya “cinta”
Bagaimana dengan foto eksplorasi tubuh sendiri? Tentu saja bertebaran. Maklum, selama ini banyak hal-hal yang begitu ditabukan sehingga wanita jadi merasa bersalah bahkan untuk menjelajahi anggota badan sendiri, padahal di masa depan bisa jadi pengetahuan itu penting baginya, termasuk yang menyangkut masalah kesehatan.
Internet menjadi wahana pembebasan, ajang berekspresi dan menegaskan eksistensi “bahwa saya ada”, “bahwa saya penting”, sekaligus berpacu menjadi seunik mungkin, semenonjol mungkin di antara ribuan, jutaan manusia dunia maya. Di luar motif ekonomi, perempuan yang selama ini kerap dianggap hanya kaum kelas dua, pun bisa menampilkan berbagai keunggulan mulai dari kemolekannya, kecerdasannya maupun ketangguhannya.
Terus terang, saya pun menikmati sisi pembebasan yang diberikan internet. Saya memanfaatkannya sebagai ruang pamer maupun wadah berekspresi yang mustahil saya lakukan di dunia nyata karena satu hal, yaitu masih harus menjaga perasaan orang tua dan sanak keluarga tersayang yang belum tentu memiliki persepsi sama tentang pembebasan. Pengecut? Takut konflik? Ya, demi kebaikan bersama
Mungkin karena kurang luasnya pergaulan, belakangan pun saya baru sadar bahwa blog dan media sosial pun kerap dipergunakan oleh sebagian perempuan untuk membuat sirik perempuan lain. Suatu kegiatan yang menurut saya mengherankan, namun mungkin itulah salah satu cara orang untuk “merasa” unggul : dengan membuat orang lain “merasa” berkekurangan. Sebagai perempuan yang menurut teman saya “lempeng” dan “tahu apa yang diinginkan”, mungkin saya dianggap tertinggal karena “tidak ikutan”. Bagaimanapun, setelah menyadari adanya semacam persaingan ini, ternyata keinginan untuk “ikutan” tetap tidak ada. Saya pikir, yang namanya cari musuh itu sangat gampang, tabok saja orang sebelah. Tapi yang namanya cari teman sejati itu susah, masih jauh lebih gampang mencari teman merangkap lawan dalam sarung, eh selimut
PS : untuk posting ini sengaja tidak dicantumkan referensi, silakan googling sendiri
11 Comments »
on 23 Okt 2011 at 23:37 1.Nieke,, said …
jd penasaran sama blog yang dimaksud. hehehe
bener ya, mpok. nyari musuh gampang tinggal tabok org sebelah.. sirik2an ga penting banget. ga cape bathin apa ya? hihihiii..
– Bayangkan bila semua energi sirik-sirikan dipakai buat bikin kue. Jadi berapa kilo, ya Jeng?
on 26 Okt 2011 at 10:01 2.regsa said …
Sebebas-bebasnya dunia internet tentu ada pagarnya, kalopun tidak diatur secara tertulis tentu yang mengatur adalah norma (tapi kasihan sekarang sejak kawin sama ujang, norma gak bisa ngatur2 lagi
)
Gak tertarik dengan yang berhubungan dgn darah2, apalagi yg mens….ono-ono wae….
– Wakakakak….! Norma itu ternyata tetanggamu tho?
)
on 26 Okt 2011 at 11:52 3.Fiz said …
Hiii… mending lihat pameran lukisan pelajar bertema Gus Dur yang dilukis dengan menggunakan ampas kopi.
– Di mana..? Ampas kopi? Waw.. Coba diposting

Fiz´s last blog ..Tentang Aku, Kamera dan Blog
on 26 Okt 2011 at 22:52 4.Kaget said …
Ya,… setidaknya Mpok juga mau bilang “ngerasa” unggul dengan blogging
– Ah, masaa…? Blog adalah catatan pribadi saya, lanjutan buku harian sejak SD. Kadang heran juga kalau orang lain mau baca

Kaget´s last blog ..Sandal Murah Sepanjang Zaman
on 28 Okt 2011 at 16:51 5.Fiz said …
Di gedung Gus Dur, sekitar Masjid Agung Surabaya. Sayangnya itu berita koran kurang lebih satu tahun lalu Mpok. Semoga mbah gugel punya arsipnya…
– Baiklah, terima kasih atas infonya, Bung Fiz…
on 28 Okt 2011 at 19:12 6.genial Belajar Photoshop said …
dikatakan bebas itu karena ada batasnya
iya, kebebasan yang tidak melanggar kebebasan orang lain

genial Belajar Photoshop´s last blog ..Cara membuat Tanda Tangan Sendiri
on 31 Okt 2011 at 12:10 7.Antyo said …
Media sosial memberi peluang itu — berekpresi — kepada siapa saja, apapun jenis kelamin dan orientasi seksualnya. Maka wajar jika diterima sebagai pembebasan karena sebelumnya belum ada media yang semudah itu. Saya memfotokopi puisi lalu ditempel di tembok orang pasti dianggap vandalis, padahal puisi saya bisa saja indah dan mendalam
)
Media sosial, terutama yang beranah jejaring pertemanan, juga memindahkan — tepatnya menambah saluran dari — apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Pamer, menikmati sirik orang, itu memang bisa membuat seseorang lebih meng-ada. Sirik tanpa kebencian dianggap sebagai dukungan. Sirik dengan dengki mendalam, atau ditafsirkan demikian, akan dianggap sebagai riwil, tak bersahabat, bahkan bullying.
Nafsu pamer itu ada dalam setiap manusia, hanya kadar dan caranya yang berbeda-beda. Orang yang ingin pamer, termasuk pamer karya di blog, berarti masih punya kesadaran sosial bahwa apresiasi dan pengakuan dari orang lain itu perlu. Bukan begitu, bukan?
– Jawabannya tentu bukan “bukan”
Terima kasih atas penjelasan lain terkait “sirik”, Bang Paman. Semoga pamer tulisan saya ini bisa menginspirasi, minimal buat yang belum tapi ingin ngeblog, bukan sekadar diakui sebagai “tukang pamer”, atau “anak kecil yang kurang perhatian” *ngaca*

Antyo´s last blog ..Honda CB100 jingga
on 01 Nov 2011 at 04:18 8.Mpokb: Internet, Perempuan, Sirik-sirikan | dagdigdug.com said …
[...] sekali catatan Mpokb ini. Internet lebih memberikan rasa pembebasan bagi perempuan: lebih bebas mengekspresikan diri, bahkan [...]
on 03 Des 2011 at 20:55 9.siwoer said …
apa kabar pok? masih aktif ngeblog ya? salut!
btw, jgn nampilin foto hasil eksplorasi tubuh sendiri ya?! bikin susah tidur ntar malam
– Justru.. sekarang saya jarang ngeblog.. Ini kebetulan bisa, Bung Siwoer..
on 23 Mar 2012 at 13:08 10.Indah said …
yang namanya cari musuh itu sangat gampang, tabok saja orang sebelah. Tapi yang namanya cari teman sejati itu susah, masih jauh lebih gampang mencari teman merangkap lawan dalam sarung, eh selimut
Huehehehe.. ini bener bangets, Mpok
Nyari musuh emang amat sangat gampang bangets
)
Duhh.. penasaran pengen liat gambar yang Mpok maksud ituu, tapii.. rada2 geli juga ngebayangin itu digambar dari darah mens *ngg*
– Pasti ketemu kalau kita google, tapi kalau jadi geli jangan lho yaaaa…
on 01 Mei 2012 at 12:05 11.intan said …
aku dah liat, ngeri, jijik, n jadi mual gitu.. coba kalo pake cet air biasa… cakep nya keliatan tuh lukisan… *ngemut permen mint ben gak hoekhoek hihihi
– memang nggal lazim tu, Jeng Intan.. aku juga males lihat lagi