Kontraktor Bilbor yang Bangor

Posted by mpokb on 07 Jan 2012 | Tagged as: Kehidupan Bersama

 

Mengapa si kontraktor saya sebut bangor? Karena melaksanakan pekerjaan pemasangan rangka bilbor tanpa memerhatikan keamanan bagi pekerjanya maupun masyarakat umum pengguna jalan. Padahal bilbor ini salah satu mata rantai bisnis yang konon nilainya bisa mencapai em-eman, lho. Lihat saja, calon rangka bilbor baru yang disusun di tepi jalan, di sisi kiri foto atas. Pengelasannya dilakukan di sana tanpa ada pembatas dengan jalan raya. Trotoar dan selokan pun dipakai untuk menumpuk material dan sampah hasil pekerjaan. Saya tahu, karena selama pekerjaan berlangsung, saya beberapa kali berjalan kaki melewati rangka yang sedang dilas. Ya, pejalan kaki terpaksa tidak bisa memakai trotoar karena pembuatan bilbor ini. Mereka harus siap-siap tersambar arus lalu lintas dari arah belakang yang berjalan terlalu ke tepi. Tidak ada papan bertuliskan “harap maklum bla bla bla”, apalagi permintaan maaf. Semua dianggap normal saja, bahkan sampai pekerjaan pengelasan dan pemasangan rangka bilbor selesai, tidak pernah pembatas dengan jalan raya dipasang. Saya simpulkan, semua sudah sesuai restu pihak berwenang.

 

 

 

Lihatlah keberanian pekerja kontraktor bilbor di kanan atas itu. Entah berapa upahnya sehingga dia nekat bertaruh nyawa. Mungkin dia punya asuransi tenaga kerja yang sangat memadai. Memanjat rangka bilbor tanpa pengaman, bak pemain akrobat kawakan, untuk sebuah proyek bernilai em-eman. Namun bisa saya bayangkan, bagi masyarakat yang nrimo dan pasrah, setiap kecelakaan kerja pun bakal dianggap musibah. Begitulah.

7 Responses to “Kontraktor Bilbor yang Bangor”

  1. on 07 Jan 2012 at 23:23 1.jeni said …

    dianggapnya kita kucing kali ya mpok, yg nyawanya banyak… :(
    btw, itu bilbor bakal menghalangi pemandangan ke gn gede pangrango ya …

    – Nyawa udah murah deh, Mbak. Btw ini nggak jauh dari E-plaza.. Selewat itu gunung masih kelihatan kok..

  2. on 08 Jan 2012 at 21:10 2.endik said …

    haha.. kesadaran diri itu mahal, kalo belum jatuh dan bayar rumah sakit, belum kapok

    – padahal harga helm dan tali pengaman tak semahal biaya rumah sakit..

  3. on 09 Jan 2012 at 01:15 3.Desto said …

    Itulah sisi positipnya negeri ini mpok, yang selalu bisa nrimo dan pasrah antara si bangor dengan si longor.

    – simbiosis mutualisme yang terpaksa gitu, yak? :|

  4. on 12 Jan 2012 at 16:31 4.Fiz said …

    Di sini, Surabaya, bilbor semacam itu semakin jarang ditemui. Dulu, waktu ‘pembersihan’ bilbor dari atas jalan raya dan segala sesuatu yang berdiri di jalur hijau, nama kontraktor yang nakal sering disebut berulang-ulang di radio kota. Biar pada malu mungkin :)

    – Nah, kalau ada kontrol seperti itu, kan enak ya.. Salut deh buat Surabaya sekarang ^^

  5. on 17 Jan 2012 at 08:29 5.Hanif Mahaldi said …

    bener banget tuh, emang sayang sekali nantinya pemasangan billboard itu bisa jadi bencana kalau tidak diperhatikan.

    – masak mesti nunggu sampai ada yang celaka dulu ya..

  6. on 20 Jan 2012 at 13:57 6.Antyo said …

    Sebenarnya kalau bijak, pemkot bisa menata sumber pendapatan ini. Kalau sampai menghalangi pandangan ke gunung, spt kata Neng Jeni, wah payah juga. Soal kekuatan dan usia konstruksi, uh… kayaknya si kontraktor, pengawas kelayakan bangunan, dan pemilik media luar ruang (bedakan dari biro iklan/penyewa) berprinsip kumaha engkeh. BTW Di DKI yang proyek bilbornya sempat jadi berita karena korupsinya miliaran rupiah, ada yang dikenal sebagai “bandot”: bandit outdoor. Pemain utama di bidang ini merajai soal space dan lokasi. Bisa dicek ke Pakde Totot. :)

    – ooh.. yang pengusahanya aktor itu, Bang Paman, atau kasus lain? kalau sudah kena korupsi, nyawa orang pun dinomorsekiankan :( pembayar pajak nggak merasakan manfaatnya..

  7. on 18 Feb 2012 at 22:19 7.ali said …

    pemilu masih lama (2014) kok pasang bilbornya sekarang? :-D

Trackback This Post | Subscribe to the comments through RSS Feed

Leave a Reply

CommentLuv Enabled