<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>mpokb &#187; Asbun Bukan Aspal</title>
	<atom:link href="http://mpokb.com/category/asbun-bukan-aspal/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mpokb.com</link>
	<description>JILL OF ALL TRADES AND MISTRESS OF NONE</description>
	<lastBuildDate>Sat, 07 Jan 2012 15:47:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.2</generator>
		<item>
		<title>Curhat Seusai Lebaran</title>
		<link>http://mpokb.com/2011/09/10/curhat-seusai-lebaran/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2011/09/10/curhat-seusai-lebaran/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Sep 2011 03:08:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asbun Bukan Aspal]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan Bersama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=784</guid>
		<description><![CDATA[Mumpung masih bulannya, izinkan saya mohon maaf lahir dan batin atas segala kesalahan saya selama ini. Selamat Idul Fitri. Seusai Lebaran, salah satu topik yang banyak dibicarakan adalah meningkatnya jumlah perantau, sekarang lebih sering disebut pendatang, ke Ibu Kota dan sekitarnya. Memang, cerita tentang indahnya Jakarta, walaupun sering kali hanya sebatas yang terlihat, begitu memicu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Mumpung masih bulannya, izinkan saya mohon maaf lahir dan batin atas segala kesalahan saya selama ini. Selamat Idul Fitri. Seusai Lebaran, salah satu topik yang banyak dibicarakan adalah meningkatnya jumlah perantau, sekarang lebih sering disebut pendatang, ke Ibu Kota dan sekitarnya. Memang, cerita tentang indahnya Jakarta, walaupun sering kali hanya sebatas yang terlihat, begitu memicu penasaran bagi orang yang tinggal jauh dari sana. Di luar itu, kesempatan untuk meraih penghidupan yang lebih baik tetap menjadi alasan utama orang hijrah ke Jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu saja, dengan semakin berkembangnya usaha kecil dan menengah, bukan cuma industri dan perusahaan besar, peluang untuk bekerja di Jakarta, sebetulnya lebih tepat Jabodetabek, juga kian besar. Setidaknya, tenaga kerja terserap, tidak terbuang atau &#8220;idle&#8221; ketika konsumsi harus jalan terus. Ini &#8220;sesuatu&#8221; yang membikin hati kita boleh optimistis. Apalagi menurut kabar berita, Indonesia saat ini termasuk negara yang cukup menjanjikan bagi investor asing. Ketika kekuatan ekonomi yang dianggap mapan seperti Amerika dan Inggris mengalami krisis, kita justru tengah menjadi pasar tumbuh terbesar di Asia Tenggara. Hebat, kan?</p>
<p style="text-align: justify;">Kata berita pula (silakan tanya Google ya) saat ini modal asing telah mengalir deras ke negeri kita sejak tahun lalu. Ketika seseorang menanamkan uangnya pada kita, berarti dia sudah memberi kepercayaan bahwa kita mampu mengelolanya dengan baik dan menghasilkan keuntungan. Tinggal bagaimananya kita menjalankan kepercayaan tersebut. Apakah dana itu akan kita belanjakan untuk sesuatu yang besar namun bermanfaat bagi orang banyak, atau kita bagikan langsung sedikit-sedikit tapi merata, namun dengan kemampuan kelola si penerima yang entah bagaimana?</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa tahun lalu, ketika kelas menengah Amerika mulai melakukan gerakan hidup irit, merelakan rumah disita karena tidak kuat lagi bayar cicilan yang melangit, kelas menengah Indonesia justru berlomba-lomba membeli rumah dan kendaraan pribadi, juga semakin giat belanja dan&#8230;mengembangkan usaha sendiri. Itu baru yang terlihat oleh orang awam seperti saya. Tanda-tanda apakah ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Optimisme memang harus terus dipupuk, karena &#8211; membeo ucapan para motivator &#8211; tanpa itu kita hanya akan menjadi bagian dari masalah. Bagaimanapun, akan tetap menjadi masalah ketika optimisme itu ternyata tidak terbagi merata ke seluruh penjuru Tanah Air, karena kemampuan kelola yang buruk, apalagi bila perhatian seluruh Indonesia harus selalu terkonsentrasi pada sebuah titik kecil di peta bernama Jakarta. Maka sebagai orang Bogor saya heran, ketika di koran seorang pakar berkoar, provinsi lain harus siap menopang pasokan air ke Jakarta, padahal air di Jakarta banyak terbuang akibat kelalaian dan pembiaran. Ibarat bagian tubuh manusia, semua harus mendapat perawatan dan perhatian yang sama, supaya seluruhnya tetap berfungsi sempurna.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2011/09/10/curhat-seusai-lebaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pusat dan Daerah</title>
		<link>http://mpokb.com/2010/10/28/pusat-dan-daerah/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2010/10/28/pusat-dan-daerah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Oct 2010 04:33:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asbun Bukan Aspal]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan Bersama]]></category>
		<category><![CDATA[dikotomi pusat dan daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Republik Federasi Indonesia saja bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[Sumpah Pemuda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=653</guid>
		<description><![CDATA[Setelah membaca posting Blogombal yang ini, dan mengikuti info bencana dalam beberapa hari terakhir, saya jadi kepikiran sendiri. Bukan tentang Pesta Blogger atau bencananya, melainkan tentang masih bercokolnya dikotomi &#8220;pusat &#8211; daerah&#8221; di benak kita, orang Indonesia. Kalau boleh ikut-ikutan lebay, inilah dampak paling mengerikan dari sistem pemerintahan yang serba terpusat, yang dulu mungkin tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah membaca <a href="http://blogombal.org/2010/10/28/pesta-blogger-menurut-saya/" target="_blank"><strong>posting Blogombal yang ini</strong></a>, dan mengikuti info bencana dalam beberapa hari terakhir, saya jadi kepikiran sendiri. Bukan tentang Pesta Blogger atau bencananya, melainkan tentang masih bercokolnya dikotomi &#8220;pusat &#8211; daerah&#8221; di benak kita, orang Indonesia. Kalau boleh ikut-ikutan lebay, inilah dampak paling mengerikan dari sistem pemerintahan yang serba terpusat, yang dulu mungkin tidak dipikirkan oleh para bapak pendiri bangsa. Terpeliharanya dikotomi yang membuat jutaan penduduk di luar Jakarta menanggung akibatnya.</p>
<p>Tentu, semangat Sumpah Pemuda 1928 jauh berbeda dengan 2010. Dahulu, bangsa Indonesia bersatu karena harus menghadapi musuh bersama, yaitu Belanda. Tidak ada cara lain kecuali mempersatukan seluruh kekuatan pemuda dari berbagai pulau, dan memusatkannya di Jawa.</p>
<p>Memang sih, sekarang ada otonomi daerah. Tapi ternyata otonomi daerah diartikan sebagian orang sebagai peluang untuk menjadi raja-raja kecil di tempatnya masing-masing. Malah jadi seperti balik lagi ke zaman feodal, dengan penjajah sesama bangsa sendiri. Saya nggak tahu salahnya di mana. Mungkin juga aji mumpung saja.</p>
<p>Seorang teman adik, penduduk Papua yang jadi pekerja LSM di Papua, pun sering kali mengalami hambatan birokrasi maupun dari masyarakat sendiri dalam kegiatannya. Dia mengeluh, para birokrat cenderung bertele-tele dan baru mau bergerak membantu kalau ada &#8220;orang pusat&#8221; datang. Dia heran, sebagian masyarakat yang sudah terbiasa disuapi akhirnya memang pasif dan acuh tak acuh untuk melakukan perubahan. Bukan berarti semua orang Papua harus jadi jutawan karena sumber daya alam lho, saya pikir merekalah yang paling berhak menentukan mau diapakan semua hasil sumber daya alam itu. Jangan tidak tahu apa-apa terus tiba-tiba terbawa banjir bandang!</p>
<p>Buat saya, musuh bersama bangsa Indonesia sekarang adalah kesenjangan. Dan itu tidak akan pernah teratasi tanpa ada koreksi atau bahkan perombakan dalam sistem terpusat yang sekarang dipertahankan. Perbedaan itu biasa, selisih sedikit itu wajar. Tapi kesenjangan pendidikan, informasi dan ekonomi, sudah saatnya dihapuskan. Kalau dipertahankan, akan selalu ada pihak yang tergantung dan akhirnya dibuat pasif. Masak sih, mau menolong warga yang tersapu tsunami, pemerintah setempat masih harus menunggu berhari-hari bantuan dari &#8220;pusat&#8221;?</p>
<p>Bagaimana, masih mau pakai istilah &#8220;pusat&#8221; dan &#8220;daerah&#8221;? Selamat Hari Sumpah Pemuda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2010/10/28/pusat-dan-daerah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peretas yang Menjengkelkan</title>
		<link>http://mpokb.com/2010/10/13/peretas-yang-menjengkelkan/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2010/10/13/peretas-yang-menjengkelkan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Oct 2010 14:16:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asbun Bukan Aspal]]></category>
		<category><![CDATA[peretas gemblung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=631</guid>
		<description><![CDATA[Sudah dua kali blog ini kena retas dalam waktu tak sampai dua bulan. Pertama orang Turki. Kedua orang Yaman. Saya yang gaptek cuma bisa puyeng klak-klik, cari info serampangan di mesin pencari dan tanya orang. Makan bandwidth, makan waktu, dan tetap saja tak memuaskan. Menjengkelkan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah dua kali blog ini kena retas dalam waktu tak sampai dua bulan. Pertama orang Turki. Kedua orang Yaman. Saya yang gaptek cuma bisa puyeng klak-klik, cari info serampangan di mesin pencari dan tanya orang. Makan <em>bandwidth</em>, makan waktu, dan tetap saja tak memuaskan. Menjengkelkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2010/10/13/peretas-yang-menjengkelkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Banjir Bohong</title>
		<link>http://mpokb.com/2010/04/05/banjir-bohong/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2010/04/05/banjir-bohong/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Apr 2010 14:37:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asbun Bukan Aspal]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan Bersama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=501</guid>
		<description><![CDATA[Hati-hati. Ini sudah tahun 2010, tetapi penipuan semacam ini masih ada, bahkan mungkin kian banyak. &#8220;Dapat mobil, Neng,&#8221; kata Bi Iin yang setiap hari mencuci di rumah saya. Kupon berupa potongan lembaran plastik keras. Saya tidak berniat menghubungi nomor &#8220;Suara Konsumen&#8221; yang tampak benar-benar mencurigakan. Dalam novel &#8220;Kite Runner&#8221; (Khaled Husseini), disebutkan bahwa di dunia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2010/04/banjir-bohong.jpg"><img class="size-full wp-image-500 aligncenter" title="banjir-bohong" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2010/04/banjir-bohong.jpg" alt="banjir-bohong" width="320" height="240" /></a></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">Hati-hati. Ini sudah tahun 2010, tetapi penipuan semacam ini masih ada, bahkan mungkin kian banyak. &#8220;Dapat mobil, Neng,&#8221; kata Bi Iin yang setiap hari mencuci di rumah saya. Kupon berupa potongan lembaran plastik keras. Saya tidak berniat menghubungi nomor &#8220;Suara Konsumen&#8221; yang tampak benar-benar mencurigakan. Dalam novel &#8220;Kite Runner&#8221; (Khaled Husseini), disebutkan bahwa di dunia hanya ada satu dosa : mencuri. Dengan menipu, kita telah mencuri kebenaran dari orang lain. Pembuat kupon ini mungkin belum membaca &#8220;Kite Runner&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2010/04/05/banjir-bohong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ala Pramuka</title>
		<link>http://mpokb.com/2009/11/25/ala-pramuka/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2009/11/25/ala-pramuka/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 07:21:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asbun Bukan Aspal]]></category>
		<category><![CDATA[Percobaan gituh]]></category>
		<category><![CDATA[kepepet]]></category>
		<category><![CDATA[mcgyver]]></category>
		<category><![CDATA[pipa bocor]]></category>
		<category><![CDATA[pramuka]]></category>
		<category><![CDATA[primitif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=433</guid>
		<description><![CDATA[Konon, orang Indonesia sangat kreatif saat mencari penyelesaian masalah di tengah keterbatasan. Hidup dalam suasana yang serba tidak menentu, rupanya membikin mereka, eh kita, harus selalu siap menghadapi tantangan, dengan cara yang paling primitif sekalipun. Misalnya, kalau suatu saat pemanas air Anda rusak dan harus diperbaiki, lalu tukang servis lupa bahwa pipa yang terlepas akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-432 aligncenter" title="pipa" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2009/11/pipa.jpg" alt="pipa" width="416" height="312" /></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">Konon, orang Indonesia sangat kreatif saat mencari penyelesaian masalah di tengah keterbatasan. Hidup dalam suasana yang serba tidak menentu, rupanya membikin mereka, eh kita, harus selalu siap menghadapi tantangan, dengan cara yang paling primitif sekalipun.</p>
<p style="text-align: justify;">Misalnya, kalau suatu saat pemanas air Anda rusak dan harus diperbaiki, lalu tukang servis lupa bahwa pipa yang terlepas akan mengalirkan air, dan baru ngeh setelah pipa dilepaskan padahal Anda tidak punya sumbatnya, maka bisa saja tiba-tiba ide primitif untuk menutup pipa dengan plastik dan tali rafia muncul. Air tetap akan menetes, tapi masih bisa ditampung sambil menunggu pemanas diperbaiki. Dan, Anda tidak perlu keluar uang untuk membeli sumbat pipa.</p>
<p style="text-align: justify;">Pernahkah Anda berhujan-hujan sambil menutupi kepala dengan kantong plastik? Atau menggunakan nasi sebagai lem kertas? Atau menyalakan kapas dengan minyak kelapa ketika listrik mati dan lilin habis? Memakai irisan sandal jepit untuk menyumbat apa saja? Jadi bertanya-tanya, ada nggak ya blog yang menyajikan 1001 kiat ala Pramuka begitu?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2009/11/25/ala-pramuka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalimat Menjurus dalam Laporan</title>
		<link>http://mpokb.com/2009/11/20/kalimat-menjurus-dalam-laporan/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2009/11/20/kalimat-menjurus-dalam-laporan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 03:50:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asbun Bukan Aspal]]></category>
		<category><![CDATA[kalimat menjurus]]></category>
		<category><![CDATA[koran]]></category>
		<category><![CDATA[liputan]]></category>
		<category><![CDATA[penyempitan makna]]></category>
		<category><![CDATA[televisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=428</guid>
		<description><![CDATA[Belakangan ini,  kian sering saya menonton atau membaca laporan jurnalistik yang terasa emosional dan punya sentuhan personal. Dalam berita televisi, lebih-lebih, akan sangat terasa subjektivitas laporan apabila disertai mimik peliput yang melukiskan sikapnya terhadap topik tertentu. Sebagai pembaca koran maupun penonton televisi, adakalanya saya merasa jengah ketika menyimak kalimat yang menjurus, seakan mengarahkan opini, tanpa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-427 aligncenter" title="kompas 20 nov 09" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2009/11/kompas-20-nov-09.jpg" alt="kompas 20 nov 09" width="384" height="288" /></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">Belakangan ini,  kian sering saya menonton atau membaca laporan jurnalistik yang terasa emosional dan punya sentuhan personal. Dalam berita televisi, lebih-lebih, akan sangat terasa subjektivitas laporan apabila disertai mimik peliput yang melukiskan sikapnya terhadap topik tertentu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai pembaca koran maupun penonton televisi, adakalanya saya merasa jengah ketika menyimak kalimat yang menjurus, seakan mengarahkan opini, tanpa penjelasan mendalam mengenai sebuah topik. Saya tidak tahu. Para jurnalis pasti lebih tahu, apakah dalam kasus tertentu, kalimat-kalimat semacam itu memang diperlukan. Bahayanya adalah, kalau laporan hanya disimak separuh, dan hanya pada kalimat menjurus tersebut, akan terjadi penyempitan makna dari wacana sesungguhnya yang lebih luas.</p>
<p style="text-align: justify;">PS : artikel dicuplik dari berita Kompas <a href="http://regional.kompas.com/read/xml/2009/11/20/08094942/elegi.minah.dan.tiga.buah.kakao.di.meja.hijau..." target="_blank"><strong>hari ini</strong></a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2009/11/20/kalimat-menjurus-dalam-laporan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kasus Pedagang Mingguan di Kota Hujan</title>
		<link>http://mpokb.com/2009/11/06/kasus-pedagang-mingguan-di-kota-hujan/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2009/11/06/kasus-pedagang-mingguan-di-kota-hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 09:58:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asbun Bukan Aspal]]></category>
		<category><![CDATA[Tempat Singgah]]></category>
		<category><![CDATA[kota hujan]]></category>
		<category><![CDATA[krisis]]></category>
		<category><![CDATA[pedagang mingguan]]></category>
		<category><![CDATA[sektor informal]]></category>
		<category><![CDATA[usaha kecil dan menengah]]></category>
		<category><![CDATA[wiraswasta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=404</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah di Kota Hujan ada sebuah perumahan yang pada setiap akhir pekan selalu dijadikan tempat usaha oleh para pedagang, baik paruh waktu maupun mereka yang benar-benar berprofesi sebagai pedagang. Kompleks Melati, nama perumahan itu, sejak selepas subuh kerap didatangi para warga yang kebanyakan tinggal di sekitar lingkungan kompleks. Umumnya, mereka datang bersama keluarga untuk jalan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Alkisah di Kota Hujan ada sebuah perumahan yang pada setiap</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">akhir pekan selalu dijadikan tempat usaha oleh para</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">pedagang, baik paruh waktu maupun mereka yang benar-benar</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">berprofesi sebagai pedagang.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Kompleks Melati, nama perumahan itu, sejak selepas subuh</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">kerap didatangi para warga yang kebanyakan tinggal di</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">sekitar lingkungan kompleks. Umumnya, mereka datang bersama</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">keluarga untuk jalan pagi dan membeli sarapan. Jalan pagi</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">dan membeli sarapan di akhir pekan rupanya sudah menjadi</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">kebiasaan para warga Kota Hujan yang sejuk. Para pedagang</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">kaki lima Kota Hujan gembira. Kompleks Melati menjadi tempat</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">usaha yang strategis. Meskipun yang dijual hanya</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">barang-barang kecil dan makanan, namun pada akhir pekan bisa</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">laris manis.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Kesempatan ini pun tidak disia-siakan oleh mereka, para</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">warga Kota Hujan yang sebetulnya bukan pedagang, namun ingin</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">mencari penghasilan tambahan. Kebanyakan dari mereka adalah</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">pegawai kantoran dari kelas menengah yang bekerja dari Senin</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">sampai Jumat. Oleh sebab itu, waktu mereka untuk berdagang</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">hanyalah hari Sabtu dan Minggu.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Dalam beberapa tahun, jumlah para pedagang ini kian</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">bertambah. Ada yang memakai lapak, ada yang memanfaatkan</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">mobil dan tenda, ada pula yang hanya menggunakan meja kecil</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">untuk memajang barang. Dagangan yang ditawarkan pun kian</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">beragam. Selalu ada barang baru dan jajanan rasa baru.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Mereka yang berjualan sudah punya tempat yang tetap, namun</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">tanpa batas fisik. Masing-masing hanya mengingat lokasi</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">berjualan dengan patokan di depan rumah nomor sekian, atau</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">di titik A atau B di dekat bundaran taman dan sebagainnya.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Calon pedagang yang baru datang akan diterima, tentu dengan</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">kesepakatan lisan bisa menempati tempat usaha yang tidak</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">mengganggu pedagang lama. Semua rukun, semua tetap membayar</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">uang terima kasih kepada petugas keamanan kompleks. Sesuatu</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">yang dianggap wajar, karena otomatis tugas petugas keamanan</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">kompleks bertambah dengan adanya begitu banyak pedagang</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">pendatang.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Sampai suatu ketika, para pedagang menerima surat edaran</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">bertulisan larangan berusaha di sana. Dalam surat itu</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">disebutkan, berhubung adanya kejadian pencurian di salah</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">satu rumah di Kompleks Melati, serta tabrak lari dengan</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">korban warga kompleks, maka lingkungan Kompleks Melati</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">dianggap sudah tidak aman lagi. Juga diambil kesimpulan</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">bahwa penyebabnya adalah para pedagang mingguan itu.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Para pedagang resah dan tidak terima dipersalahkan. Selidik</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">punya selidik, pencurian di rumah tersebut dilakukan oleh</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">bekas pekerja rumah itu sendiri. Dan pelaku tabrak lari pun</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">bukan dari kalangan pedagang. Kalau yang dipakai sebagai</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">alasan adalah menjaga kebersihan, para pedagang merasa sudah</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">memenuhi dengan menyediakan kantong sampah. Kebiasaan</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">membuang sampah sembarangan tidak bisa ditimpakan sebagai</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">kesalahan pedagang.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Rumor berkembang. Konon kabarnya, baru-baru ini seorang</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">jenderal pindah ke salah satu rumah di jalan yang kerap</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">digunakan untuk berdagang mingguan. Sang Jenderal rupanya</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">merasa istirahatnya di akhir pekan terganggu dengan kegiatan</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">para pedagang. Dia mengusulkan keberatan kepada Ketua RT dan</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Ketua RW, agar di Kompleks Melati kegiatan berdagang</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">mingguan ditiadakan. Proses rembukan para warga kompleks</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">pada akhirnya melahirkan surat edaran larangan berdagang.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Kasus yang dialami oleh para penggiat di sektor informal ini</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">sebetulnya bukan yang pertama kali. Nasib yang lebih parah</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">kerap dialami oleh mereka yang berstatus Pedagang Kaki Lima.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Meskipun sudah membayar uang keamanan maupun uang</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">kebersihan, namun mereka tidak punya kepastian hukum dan</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">harus siap digusur sewaktu-waktu. Sungguh disayangkan,</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">mengingat perputaran uang yang terjadi di sana tidak bisa</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">dianggap remeh.</div>
<p style="text-align: justify; ">Alkisah di Kota Hujan ada sebuah perumahan yang pada setiap akhir pekan selalu dijadikan tempat usaha oleh para pedagang, baik paruh waktu maupun mereka yang benar-benar berprofesi sebagai pedagang. Kompleks Melati, nama perumahan itu, sejak selepas subuh kerap didatangi para warga yang kebanyakan tinggal di sekitar lingkungan kompleks. Umumnya, mereka datang bersama keluarga untuk jalan pagi dan membeli sarapan. Jalan pagi dan membeli sarapan di akhir pekan rupanya sudah menjadi kebiasaan para warga Kota Hujan yang sejuk. Para pedagang kaki lima Kota Hujan gembira. Kompleks Melati menjadi tempat usaha yang strategis. Meskipun yang dijual hanya barang-barang kecil dan makanan, namun pada akhir pekan bisa laris manis.</p>
<p style="text-align: justify; ">Kesempatan ini pun tidak disia-siakan oleh mereka, para warga Kota Hujan yang sebetulnya bukan pedagang, namun ingin mencari penghasilan tambahan. Kebanyakan dari mereka adalah pegawai kantoran dari kelas menengah yang bekerja dari Senin sampai Jumat. Oleh sebab itu, waktu mereka untuk berdagang hanyalah hari Sabtu dan Minggu.</p>
<p style="text-align: justify; ">Dalam beberapa tahun, jumlah para pedagang ini kian bertambah. Ada yang memakai lapak, ada yang memanfaatkan mobil dan tenda, ada pula yang hanya menggunakan meja kecil untuk memajang barang. Dagangan yang ditawarkan pun kian beragam. Selalu ada barang baru dan jajanan rasa baru. Mereka yang berjualan sudah punya tempat yang tetap, namun tanpa batas fisik. Masing-masing hanya mengingat lokasi berjualan dengan patokan di depan rumah nomor sekian, atau di titik A atau B di dekat bundaran taman dan sebagainnya. Calon pedagang yang baru datang akan diterima, tentu dengan kesepakatan lisan bisa menempati tempat usaha yang tidak mengganggu pedagang lama. Semua rukun, semua tetap membayar uang terima kasih kepada petugas keamanan kompleks. Sesuatu yang dianggap wajar, karena otomatis tugas petugas keamanan kompleks bertambah dengan adanya begitu banyak pedagang pendatang.</p>
<p style="text-align: justify; ">Sampai suatu ketika, para pedagang menerima surat edaran bertulisan larangan berusaha di sana. Dalam surat itu disebutkan, berhubung adanya kejadian pencurian di salah satu rumah di Kompleks Melati, serta tabrak lari dengan korban warga kompleks, maka lingkungan Kompleks Melati dianggap sudah tidak aman lagi. Juga diambil kesimpulan bahwa penyebabnya adalah para pedagang mingguan itu.</p>
<p style="text-align: justify; ">Para pedagang resah dan tidak terima dipersalahkan. Selidik punya selidik, pencurian di rumah tersebut dilakukan oleh bekas pekerja rumah itu sendiri. Dan pelaku tabrak lari pun bukan dari kalangan pedagang. Kalau yang dipakai sebagai alasan adalah menjaga kebersihan, para pedagang merasa sudah memenuhi dengan menyediakan kantong sampah. Kebiasaan membuang sampah sembarangan tidak bisa ditimpakan sebagai kesalahan pedagang.</p>
<p style="text-align: justify; ">Rumor berkembang. Konon kabarnya, baru-baru ini seorang jenderal pindah ke salah satu rumah di jalan yang kerap digunakan untuk berdagang mingguan. Sang Jenderal rupanya merasa istirahatnya di akhir pekan terganggu dengan kegiatan para pedagang. Dia mengusulkan keberatan kepada Ketua RT dan Ketua RW, agar di Kompleks Melati kegiatan berdagang mingguan ditiadakan. Proses rembukan para warga kompleks pada akhirnya melahirkan surat edaran larangan berdagang.</p>
<p style="text-align: justify; ">Kasus yang dialami oleh para penggiat di sektor informal ini sebetulnya bukan yang pertama kali. Nasib yang lebih parah kerap dialami oleh mereka yang berstatus Pedagang Kaki Lima. Meskipun sudah membayar uang keamanan maupun uang kebersihan, namun mereka tidak punya kepastian hukum dan harus siap digusur sewaktu-waktu. Sungguh disayangkan, mengingat perputaran uang yang terjadi di sana tidak bisa dianggap remeh.</p>
<p style="text-align: justify; ">&#8211; diposting juga di <a href="http://publikana.com" target="_blank"><strong>Publikana &#8211; Kesaksian dan Pengalaman Warga</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2009/11/06/kasus-pedagang-mingguan-di-kota-hujan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indahnya Warna Surga</title>
		<link>http://mpokb.com/2009/10/23/indahnya-warna-surga/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2009/10/23/indahnya-warna-surga/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 03:56:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asbun Bukan Aspal]]></category>
		<category><![CDATA[Hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[color of paradise]]></category>
		<category><![CDATA[film iran]]></category>
		<category><![CDATA[rang-e khoda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=362</guid>
		<description><![CDATA[Rang-e khoda (1999) Sutradara/Penulis : Majid Majidi Varahonar Company Film ini mengisahkan dilema yang dihadapi seorang ayah ketika harus mengurus anak lelakinya yang buta dan dua anak perempuan setelah ditinggal mati oleh istrinya. Konflik utama terjadi antara si ayah dan anak lelakinya. Si ayah yang berniat menikah lagi merasa tak sanggup merawat sendiri anak itu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Rang-e khoda (1999)</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Sutradara/Penulis : Majid Majidi</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Varahonar Company</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Film ini mengisahkan dilema yang dihadapi seorang ayah ketika harus mengurus anak lelakinya yang buta dan dua anak perempuan setelah ditinggal mati oleh istrinya.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Konflik utama terjadi antara si ayah dan anak lelakinya. Si ayah yang berniat menikah lagi merasa tak sanggup merawat sendiri anak itu, sehingga ingin menyerahkan pendidikannya pada seorang tukang kayu buta. Si anak lelaki yang ingin menjadi tukang kayu dan lebih suka belajar di sekolah berusaha menentang, namun tidak berdaya untuk mengurungkan niat ayahnya.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Protes Muhammad pada ayahnya didukung oleh neneknya yang menyadari bakat istimewa Mohammad di sekolah. Bahkan, setelah mengirimkan Muhammad ke rumah tukang kayu buta, si nenek melakukan protes dan angkat kaki dari rumah.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Tokoh nenek diperankan dengan amat baik oleh Salameh Feyzi. Adegan sangat menyentuh muncul ketika Mohammad baru pulang dari kota dan berusaha mengejutkan si nenek dengan kedatangannya. Sulit sekali melukiskan ekspresi wajah si nenek yang begitu gembira melihat cucunya datang. Dalam dialog minim, selama beberapa saat penonton diajak menghayati kecantikan perempuan Iran di usia senja, dan turut menggarisbawahi keistimewaan film Iran yang umumnya tetap indah dalam kesederhanaan tema maupun penggarapan.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Film ini juga menampilkan sisi lain Iran yang sebelumnya tidak terbayangkan oleh mereka yang cenderung sudah punya stereotipe tertentu tentang negeri ini. Selama ini, saya mengira Iran hanyalah sebuah negara dengan padang pasir, dan saya terheran-heran. Bagaimana mungkin negeri yang bertanah tandus seperti itu bisa menginspirasi banyak karya sastra dan film yang menggugah? Setting di alam terbuka berupa ladang yang ditumbuhi bunga-bunga bermekaran, bahkan di hutan rimba, sedikit banyak memberi saya pemahaman baru tentang tradisi masyarakat pedesaan di Iran.</div>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-392 aligncenter" title="colors of paradise" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2009/10/colors-of-paradise.jpg" alt="colors of paradise" width="216" height="327" /></p>
<p>Judul  : &#8220;The Color of Paradise&#8221; (1999)</p>
<p>Judul asli :  <a href="http://http://www.imdb.com/title/tt0191043/" target="_blank"><strong>&#8220;Rang-e khoda&#8221;</strong></a></p>
<p>Sutradara/Penulis : Majid Majidi</p>
<p style="text-align: justify;">Film ini mengisahkan dilema yang dihadapi oleh seorang ayah ketika harus mengurus anak lelakinya yang buta dan dua anak perempuan setelah ditinggal mati istrinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Konflik utama terjadi antara si ayah (Hossein Mahjoub) dan anak lelakinya, Mohammad (Mohsen Ramezani). Si ayah yang berniat menikah lagi merasa malu memiliki anak buta dan tak sanggup merawatnya, sehingga memutuskan untuk menyerahkan pendidikannya pada seorang tukang kayu buta. Mohammad, yang tergolong murid pandai di sekolah, tidak ingin menjadi tukang kayu dan berusaha menentang, namun tak berdaya untuk mengurungkan niat ayahnya. Protes Mohammad pada sang ayah didukung oleh neneknya yang menyadari bakat istimewa Mohammad di sekolah. Bahkan, setelah Mohammad diam-diam dikirim ke rumah tukang kayu buta untuk tinggal di sana, si nenek melakukan protes dan angkat kaki dari rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">Tokoh nenek diperankan dengan baik oleh Salameh Feyzi. Adegan sangat menyentuh muncul ketika Mohammad baru pulang dari kota untuk liburan musim panas dan berusaha mengejutkan si nenek dengan kedatangannya. Sulit melukiskan ekspresi wajah si nenek yang begitu gembira melihat cucunya datang. Dalam dialog minim, selama beberapa saat penonton diajak menghayati kecantikan perempuan Iran yang terpancar lewat tatapan penuh kasih seorang nenek. Kemesraan hubungan nenek dan cucu juga tampil lewat pujian yang dilontarkan Mohammad pada neneknya. Menurut Mohammad, si anak buta, tangan neneknya putih dan cantik.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;The Color of Paradise&#8221; juga menampilkan sisi lain Iran yang sebelumnya tidak terbayangkan oleh saya yang cenderung sudah punya stereotipe tertentu tentang negeri ini. Selama ini, saya yang mengira Iran hanyalah sebuah negara dengan padang pasir, kerap bertanya-tanya. Bagaimana mungkin sebuah negeri bertanah tandus seperti itu bisa menginspirasi begitu banyak karya sastra dan film yang menggugah? <em>Setting</em> di alam terbuka berupa ladang yang ditumbuhi bunga-bunga bermekaran, bahkan di hutan rimba, sedikit banyak memberi saya sebuah pemahaman baru tentang tradisi masyarakat pedesaan di Iran. Di beberapa adegan, keindahan alam terasa begitu sureal.</p>
<p style="text-align: justify;">Film ini meraih <a href="http://http://www.imdb.com/title/tt0191043/awards" target="_blank"><strong>berbagai penghargaan internasional</strong></a> dan semakin memperkuat karakter film Iran yang tetap indah, berbobot dan menghibur meskipun sering kali menampilkan kesederhanaan dalam tema maupun penggarapan.</p>
<p style="text-align: justify;">PS : foto dicomot dari <a href="http://http//www.imdb.com/title/tt0191043/" target="_blank"><strong>sini</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2009/10/23/indahnya-warna-surga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tulangan yang Mengundang Bencana</title>
		<link>http://mpokb.com/2009/10/16/tulangan-yang-mengundang-bencana/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2009/10/16/tulangan-yang-mengundang-bencana/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 09:08:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asbun Bukan Aspal]]></category>
		<category><![CDATA[Tempat Singgah]]></category>
		<category><![CDATA[besi tulangan]]></category>
		<category><![CDATA[pengecoran jalan]]></category>
		<category><![CDATA[standar keselamatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=387</guid>
		<description><![CDATA[Bekisting sudah dibuka, beton sudah mengeras, namun tulangan dibiarkan mencuat tanpa pengaman di sisi kiri kanan. Pada hari Minggu lalu selepas subuh, seorang pengendara mobil yang baru keluar dari gerbang kompleks berusaha menghindari deretan tulangan telanjang. &#8220;Takut ban tersobek tulangan,&#8221; katanya. Memang sih, ban sisi kanan selamat, namun sisi kiri badan mobil akhirnya tergores tembok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Bekisting sudah dibuka, beton sudah mengeras, namun tulangan dibiarkan mencuat tanpa pengaman di sisi kiri kanan. Pada hari Minggu lalu selepas subuh, seorang pengendara mobil yang baru keluar dari gerbang kompleks berusaha menghindari deretan tulangan telanjang. &#8220;Takut ban tersobek tulangan,&#8221; katanya. Memang sih, ban sisi kanan selamat, namun sisi kiri badan mobil akhirnya tergores tembok kompleks, karena pengemudi tak sadar terlalu mepet ke kiri.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Terlepas dari keterbatasan kemampuan navigasi si pengemudi, maupun cahaya selepas subuh yang masih remang-remang, tulangan telanjang tetaplah berbahaya. Minimal bagi para warga pejalan kaki yang sering berseliweran di sana.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Faktor keamanan diperlukan bukan hanya untuk pekerja proyek, melainkan juga para warga yang melintas di sekitar lokasi pengecoran di Jalan Raya Tajur, Bogor, ini. Memang, sekadar papan pembatas pun (misalnya lisplank?) membutuhkan biaya yang bisa melambungkan rencana anggaran biaya. Kalau prinsipnya begini, apa-apa bisa jadi mahal. Hanya keselamatan manusia yang murah.</div>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-388 aligncenter" title="tulangan-1" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2009/10/tulangan-1.jpg" alt="tulangan-1" width="448" height="336" /></p>
<p style="text-align: justify;">Bekisting sudah dibuka, beton sudah mengeras, namun tulangan dibiarkan mencuat tanpa pengaman di sisi kiri kanan. Pada hari Minggu lalu selepas subuh, seorang pengendara mobil yang baru keluar dari gerbang kompleks berusaha menghindari deretan tulangan telanjang. &#8220;Takut ban tersobek tulangan,&#8221; katanya. Memang sih, ban sisi kanan selamat, namun sisi kiri badan mobil akhirnya tergores tembok kompleks, karena pengemudi tak sadar terlalu mepet ke kiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Terlepas dari keterbatasan kemampuan navigasi si pengemudi, maupun cahaya selepas subuh yang masih remang-remang, tulangan telanjang tetaplah berbahaya. Minimal bagi para warga pejalan kaki yang sering berseliweran di sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Faktor keamanan diperlukan bukan hanya untuk pekerja proyek, melainkan juga para warga yang melintas di sekitar lokasi pengecoran di Jalan Raya Tajur, Bogor, ini. Memang, sekadar papan pembatas pun (misalnya lisplank?) membutuhkan biaya yang bisa melambungkan rencana anggaran biaya. Kalau prinsipnya begini, apa-apa bisa jadi mahal. Hanya keselamatan manusia yang murah.</p>
<p style="text-align: justify;">PS : Sudah pernah diposting di <a href="http://publikana.com" target="_blank">www.publikana.com</a>. Mari bergabung di sana <img src='http://mpokb.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2009/10/16/tulangan-yang-mengundang-bencana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kado Barang atau Uang?</title>
		<link>http://mpokb.com/2009/10/12/kado-barang-atau-uang/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2009/10/12/kado-barang-atau-uang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 12:12:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asbun Bukan Aspal]]></category>
		<category><![CDATA[Selamat!]]></category>
		<category><![CDATA[angpau]]></category>
		<category><![CDATA[kado pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[resepsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=383</guid>
		<description><![CDATA[Kapan terakhir kali Anda memberikan kado pernikahan ketika datang ke resepsi? Mungkin saja Anda patungan bersama teman-teman sekantor atau seperumahan, atau bersama keluarga besar, untuk memberikan hadiah bertema. Misalnya peralatan rumah tangga, perlengkapan kamar tidur, atau ehem, lingerie yang mungkin tidak akan dibeli sendiri oleh mempelai wanita karena masih malu berpakaian seksi di depan suami? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center; ">
<p style="text-align: center; "><img class="size-full wp-image-382 aligncenter" title="kado" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2009/10/kado.jpg" alt="kado" width="201" height="416" /></p>
<p style="text-align: center; ">
<p style="text-align: justify;">Kapan terakhir kali Anda memberikan kado pernikahan ketika datang ke resepsi? Mungkin saja Anda patungan bersama teman-teman sekantor atau seperumahan, atau bersama keluarga besar, untuk memberikan hadiah bertema. Misalnya peralatan rumah tangga, perlengkapan kamar tidur, atau ehem, <em>lingerie</em> yang mungkin tidak akan dibeli sendiri oleh mempelai wanita karena masih malu berpakaian seksi di depan suami? <img src='http://mpokb.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  Mungkin juga Anda sudah menyelipkan angpau &#8220;tanda kasih sayang&#8221;, tapi ingin tetap memberikan sesuatu yang berkesan bagi kedua mempelai? Walaupun sudah bukan keharusan, kado berupa barang masih saja dicari orang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari resepsi pernikahan beberapa waktu lalu, saya mendapat info dari mempelai bahwa dari sekian tamu yang datang, sekitar 15% di antaranya menghadiahkan kado berupa barang. Sejumlah kado berupa barang yang sama, bahkan sampai ke merek dan modelnya <img src='http://mpokb.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Ini patut disyukuri, karena kalau barang tersebut rusak atau lapuk, si penerima masih punya cadangannya <img src='http://mpokb.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Entah sejak kapan budaya membawa angpau ke pernikahan jadi &#8220;nasional&#8221;. Bagi pemberi dan penerima kado, uang memang lebih praktis. Dan umumnya bisa langsung dipakai sendiri oleh penerima <img src='http://mpokb.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />   Dulu, orang akan maklum apabila mempelai memilih untuk menyimpan kado-kado yang tidak sempat terpakai, untuk diberikan lagi kepada pengantin baru lainnya. Barang-barang rumah tangga seperti pengering rambut, setrika, atau pemanggang roti, termasuk yang kerap diteruskan dari satu resepsi ke resepsi <img src='http://mpokb.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Orang jarang membuat kado sendiri untuk diberikan kepada sepasang mempelai. Sekali waktu pernah ada seorang pelukis menghadiahi hasil karyanya, lukisan Kota Jakarta tempo doeloe, ketika masih bernama Batavia. Penuh sentuhan pribadi. Untuk ukuran zaman sekarang, mungkin bisa disamakan dengan menghadiahi blog atau situs bagi kedua mempelai <img src='http://mpokb.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2009/10/12/kado-barang-atau-uang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

