Archive for the Category »Kehidupan Bersama «

rpmkonten

Tugas pemerintah adalah melindungi segenap hak asasi warga negaranya, bukan main larang, titik.

Sebetulnya program ini sudah dimulai sejak tahun 2005. Pada tahun 2005 juga saya mengalami salah satu kejadian terpenting dalam hidup saya, tapi kali ini saya bukan mau membicarakan itu *belum-belum sudah ngelantur* :P . Program yang saya maksud adalah “1000 Buku untuk Tunanetra” yang diadakan oleh Mitra Netra. Pertama kalinya saya tahu tentang program bagus ini sekitar dua tahun lalu, ketika menghadiri presentasi Komunitas BHI di Wetiga, tentang kegiatan mereka, “Bloggers for Bangsari”.

Nah, waktu itu memang terpikir oleh saya, “Ah, kapan-kapan ikutan mengetik buku deh,” tapi ternyata baru tahun inilah saya bisa mulai nimbrung. Mengetik sebuah buku memang mengharuskan Anda menyisihkan sebagian waktu, dan buat mereka yang belajar maupun bekerja, tentu ini tidak selalu mudah.

Bagaimanapun, tidak ada kata terlambat untuk mulai. Lewat postingan ini, saya ingin mengajak Anda sekalian yang ingin menyumbangkan waktu untuk mengetikkan buku-buku yang menurut Anda pantas dibagikan, untuk kemudian akan dialihbahasakan ke dalam bahasa Braille oleh Mitra Netra. Kesempatan untuk belajar, menambah wawasan dan mengembangkan diri, mestinya tidak terbatas hanya karena seseorang punya hambatan fisik. Buku adalah jendela dunia, dan solidaritas Anda diperlukan untuk bantu membukakan jendela. Mari :)

PS : Tahukah Anda, para tunanetra mampu berbahasa Indonesia jauh lebih baik dan benar daripada sebagian dari kita?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka, “persepsi” adalah : 1. tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu; serapan; dan 2. proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancaindranya. Karena setiap orang memiliki pola pikir berbeda yang terbentuk melalui pengalaman hidup masing-masing, maka persepsi Anda, persepsi saya dan persepsi orang lain terhadap sesuatu sangat mungkin berbeda. Ditambah dengan variasi sudut pandang, semakin banyaklah kemungkinan persepsi yang terbentuk di kepala kita.
Sebuah buku yang belakangan banyak dicari orang karena konon “menghebohkan”, mendadak hilang dari toko-toko buku. Tersiar kabar, buku itu dilarang beredar, diberangus, karena konon di dalamnya terdapat data-data yang bisa mengungkapkan borok seorang penguasa. Penulisnya seseorang yang memang kerap dikenal vokal dalam mengkritisi kalangan penguasa. Tentu saja bukan sejenis bloger abal-abal macam saya maupun penulis yang menulis sekadar hobi. Beliau seorang peneliti yang karena kerajinannya mencari data, maka banyak orang yang mengakui kesahihan tulisannya.
Hilangnya buku itu dari toko-toko buku bahkan sampai membuat sebuah organisasi pembela hak asasi manusia turun dan memeriksa benar tidaknya terjadi pelarangan peredaran buku tersebut. Dari sebuah toko buku besar didapat keterangan bahwa keputusan untuk tidak menjual buku itu berasal dari pihak manajemen sendiri. Ada pula distributor buku yang mengaku tetap menjualnya, sehingga lekas kehabisan stok, bahkan buku itu sempat ditawar hingga sepuluh kali lipat dari harga banderolnya. Terus terang, saya sempat punya persepsi bahwa ini utak-atik dagang yang sesungguhnya sah-sah saja. Ketika permintaan naik, maka harga harus naik. Namanya juga dagang. Tidak heran jika buku yang konon dilarang beredar ini sesungguhnya tetap beredar dan bisa dibeli dengan menghubungi nomor-nomor ponsel tertentu. Bukan, saya bukan salah satu yang mencarinya, karena sejak awal saya sudah punya persepsi sendiri terhadap buku itu. Selain itu, kisah sejati pendaki gunung Greg Mortenson dalam “Three Cups of Tea” sudah lebih dulu menyita perhatian saya dan dua jam menunggu rambut selesai dicat di salon ternyata hanya membawa saya ke seperenam jumlah halaman. Masih banyak pengalaman batin yang memperkaya jiwa menanti untuk ditemukan di sana.
Ah, ada terlalu banyak kata “konon” di tulisan sependek ini, karena catatan pribadi ini semata hanya untuk mengeluarkan apa yang ada dalam benak saya. Persepsi saya. Saya bukan hendak meyakinkan Anda yang bisa membentuk persepsi masing-masing. Saya bukan pembela si A atau si B. Info yang saya peroleh tentang kabar kabur ini pun saya dapatkan dari berbagai liputan kabur tentang kasus yang kabur. Apa boleh buat, sementara ini kita masih hidup di negeri yang banyak ralat. Ketika si X mengatakan begini, si Y mengatakan begitu, yang terjadi adalah adu debat berkepanjangan dengan memanfaatkan begitu banyak celah yang bisa diralat sewaktu-waktu. Selamat Tahun Baru, bagi Anda yang merayakannya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka, “persepsi” adalah : 1. tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu; serapan; dan 2. proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancaindranya. Karena setiap orang memiliki pola pikir berbeda yang terbentuk melalui pengalaman hidup masing-masing, maka persepsi Anda, persepsi saya dan persepsi orang lain terhadap sesuatu sangat mungkin berbeda. Ditambah dengan variasi sudut pandang, semakin banyaklah kemungkinan persepsi yang terbentuk di kepala kita.

Sebuah buku yang belakangan banyak dicari orang karena konon “menghebohkan”, mendadak hilang dari toko-toko buku. Tersiar kabar, buku itu dilarang beredar, diberangus, karena konon di dalamnya terdapat data-data yang bisa mengungkapkan borok seorang penguasa. Penulisnya seseorang yang memang kerap dikenal vokal dalam mengkritisi kalangan penguasa. Tentu saja bukan sejenis bloger abal-abal macam saya maupun penulis yang menulis sekadar hobi. Beliau seorang peneliti yang karena kerajinannya mencari data, maka banyak orang yang mengakui kesahihan tulisannya.

Hilangnya buku itu dari toko-toko buku bahkan sampai membuat sebuah organisasi pembela hak asasi manusia turun dan memeriksa benar tidaknya terjadi pelarangan peredaran buku tersebut. Dari sebuah toko buku besar didapat keterangan bahwa keputusan untuk tidak menjual buku itu berasal dari pihak manajemen sendiri. Ada pula distributor buku yang mengaku tetap menjualnya, sehingga lekas kehabisan stok, bahkan buku itu sempat ditawar hingga sepuluh kali lipat dari harga banderolnya. Terus terang, saya sempat punya persepsi bahwa ini taktik dagang yang sesungguhnya sah-sah saja. Ketika permintaan naik, maka harga harus naik. Namanya juga dagang. Tidak heran jika buku yang konon dilarang beredar ini sesungguhnya tetap beredar dan bisa dibeli dengan menghubungi nomor-nomor ponsel tertentu. Bukan, saya bukan salah satu yang mencarinya, karena sejak awal saya sudah punya persepsi sendiri terhadap buku itu. Selain itu, kisah sejati pendaki gunung Greg Mortenson dalam “Three Cups of Tea” sudah lebih dulu menyita perhatian saya dan dua jam menunggu rambut selesai dicat di salon ternyata hanya membawa saya ke seperenam jumlah halaman. Masih banyak pengalaman batin yang memperkaya jiwa menanti untuk ditemukan di sana.

Ah, ada terlalu banyak kata “konon” di tulisan sependek ini, karena catatan pribadi ini semata hanya untuk mengeluarkan apa yang ada dalam benak saya. Persepsi saya. Saya bukan hendak meyakinkan Anda yang bisa membentuk persepsi masing-masing. Saya bukan pembela si A atau si B. Info yang saya peroleh tentang kabar kabur ini pun saya dapatkan dari kliping imajiner berbagai liputan kabur tentang kasus yang kabur. Apa boleh buat, sementara ini kita masih hidup di negeri yang banyak ralat. Ketika si X mengatakan begini, si Y mengatakan begitu, yang terjadi adalah adu debat berkepanjangan dengan memanfaatkan begitu banyak celah yang bisa diralat sewaktu-waktu. Selamat Tahun Baru, bagi Anda yang meyakininya.

koinuntukprita

Siapa yang tidak jengkel melihat keadilan dilecehkan? Untuk menyalurkan kepedulian, sikap dan tindakan Anda, maupun mengikuti kabar seputar pengumpulan koin, silakan klik di Koin Keadilan.