<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>mpokb &#187; Kehidupan Bersama</title>
	<atom:link href="http://mpokb.com/category/kehidupan-bersama/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mpokb.com</link>
	<description>JILL OF ALL TRADES AND MISTRESS OF NONE</description>
	<lastBuildDate>Sat, 12 May 2012 08:48:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.2</generator>
		<item>
		<title>Mimin Bingung, Tambah Akun</title>
		<link>http://mpokb.com/2012/05/12/mimin-bingung-tambah-akun/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2012/05/12/mimin-bingung-tambah-akun/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 May 2012 08:48:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan Bersama]]></category>
		<category><![CDATA[interaksi dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[lapak daring]]></category>
		<category><![CDATA[lapak online]]></category>
		<category><![CDATA[mimin administrator]]></category>
		<category><![CDATA[momot moderator]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=810</guid>
		<description><![CDATA[Awalnya hanya ada satu lapak daring di Facebook yang menjual jersey (kaus) sepak bola &#8220;KW&#8221;. Beberapa saat kemudian muncul satu lapak lagi, lalu lagi, menjadi tiga lapak daring di tangan seorang pengelola atau &#8220;mimin&#8221; (panggilan akrab bagi administrator). Menurut seorang cewek 17 tahun yang menjadi pemilik lapak merangkap sebagai si mimin, dia terpaksa membuka tiga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Awalnya hanya ada satu lapak daring di Facebook yang menjual jersey (kaus) sepak bola &#8220;KW&#8221;. Beberapa saat kemudian muncul satu lapak lagi, lalu lagi, menjadi tiga lapak daring di tangan seorang pengelola atau &#8220;mimin&#8221; (panggilan akrab bagi administrator). Menurut seorang cewek 17 tahun yang menjadi pemilik lapak merangkap sebagai si mimin, dia terpaksa membuka tiga lapak untuk menghindarkan peperangan yang terjadi lewat wall maupun komentar foto. Bayangkan saja kalau Anda punya toko yang menjual kaus sepak bola, lalu ratusan orang dari dua kubu penggemar klub yang bersaing melakukan perkelahian di toko Anda. Toko Anda menjadi ajang sumpah serapah oleh orang-orang yang belum tentu berniat membeli dagangan Anda. Itu pula yang terjadi di lapak daring cewek tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Dunia maya memang bisa menghanyutkan dan bikin lupa diri. Karena semata-mata tidak berhadapan langsung dengan lawan bicara, kita merasa berhak untuk berucap semaunya. Tulisan netral saja bisa membuat tersinggung orang-orang &#8220;sensi&#8221; di forum, apalagi tulisan yang sengaja ditujukan untuk memancing amarah pihak yang dianggap &#8220;lawan&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana kalau ternyata salah bicara? Salah bicara  atau keceplosan bisa dialami siapa saja, bahkan oleh orang yang sudah lebih dulu berinteraksi di dunia maya lewat blog, misalnya, sebelum ada Facebook atau Twitter. Sedangkan tulisan yang sengaja memancing amarah &#8220;lawan&#8221; sepertinya lebih terkait emosi dan tingkat kedewasaan seseorang dalam berinteraksi di internet (yang tidak selalu berhubungan dengan usia, tentu saja, tapi pelakunya bisa dibayangkan lebih banyak remaja mengingat kalangan ini lebih akrab dengan interaksi di internet).</p>
<p style="text-align: justify;">Sebetulnya mimin yang bingung masih bisa mengingatkan, kalau perlu setengah mengancam, untuk mengeblok akun-akun nakal penyebar kebencian dan pemancing kerusuhan di internet. Selain merugikan lapak daring karena wall dan boks komentarnya jadi kotor, dia pun menambah pekerjaan mimin yang terpaksa menghapus komentar. Bisa pula diingatkan, bukan tidak mungkin kelak si komentator berurusan dengan pihak berwajib bila dianggap sudah keterlaluan oleh pihak &#8220;lawan&#8221;. Apalagi sekarang kan zamannya UU ITE&#8230; Upss, maaf <img src='http://mpokb.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2012/05/12/mimin-bingung-tambah-akun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kontraktor Bilbor yang Bangor</title>
		<link>http://mpokb.com/2012/01/07/kontraktor-bilbor-yang-bangor/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2012/01/07/kontraktor-bilbor-yang-bangor/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jan 2012 15:37:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan Bersama]]></category>
		<category><![CDATA[bilbor]]></category>
		<category><![CDATA[keselamatan pekerja seadanya]]></category>
		<category><![CDATA[kontraktor bangor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=795</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Mengapa si kontraktor saya sebut bangor? Karena melaksanakan pekerjaan pemasangan rangka bilbor tanpa memerhatikan keamanan bagi pekerjanya maupun masyarakat umum pengguna jalan. Padahal bilbor ini salah satu mata rantai bisnis yang konon nilainya bisa mencapai em-eman, lho. Lihat saja, calon rangka bilbor baru yang disusun di tepi jalan, di sisi kiri foto atas. Pengelasannya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2012/01/bilbor-1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-796" title="bilbor - 1" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2012/01/bilbor-1.jpg" alt="" width="510" height="301" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Mengapa si kontraktor saya sebut bangor? Karena melaksanakan pekerjaan pemasangan rangka bilbor tanpa memerhatikan keamanan bagi pekerjanya maupun masyarakat umum pengguna jalan. Padahal bilbor ini salah satu mata rantai bisnis yang konon nilainya bisa mencapai em-eman, lho. Lihat saja, calon rangka bilbor baru yang disusun di tepi jalan, di sisi kiri foto atas. Pengelasannya dilakukan di sana tanpa ada pembatas dengan jalan raya. Trotoar dan selokan pun dipakai untuk menumpuk material dan sampah hasil pekerjaan. Saya tahu, karena selama pekerjaan berlangsung, saya beberapa kali berjalan kaki melewati rangka yang sedang dilas. Ya, pejalan kaki terpaksa tidak bisa memakai trotoar karena pembuatan bilbor ini. Mereka harus siap-siap tersambar arus lalu lintas dari arah belakang yang berjalan terlalu ke tepi. Tidak ada papan bertuliskan &#8220;harap maklum bla bla bla&#8221;, apalagi permintaan maaf. Semua dianggap normal saja, bahkan sampai pekerjaan pengelasan dan pemasangan rangka bilbor selesai, tidak pernah pembatas dengan jalan raya dipasang. Saya simpulkan, semua sudah sesuai restu pihak berwenang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2012/01/bilbor-2.jpg"><img class="size-full wp-image-797 aligncenter" title="bilbor - 2" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2012/01/bilbor-2.jpg" alt="" width="375" height="356" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Lihatlah keberanian pekerja kontraktor bilbor di kanan atas itu. Entah berapa upahnya sehingga dia nekat bertaruh nyawa. Mungkin dia punya asuransi tenaga kerja yang sangat memadai. Memanjat rangka bilbor tanpa pengaman, bak pemain akrobat kawakan, untuk sebuah proyek bernilai em-eman. Namun bisa saya bayangkan, bagi masyarakat yang nrimo dan pasrah, setiap kecelakaan kerja pun bakal dianggap musibah. Begitulah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2012/01/07/kontraktor-bilbor-yang-bangor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Internet dan Perempuan, Pembebasan hingga Sirik-sirikan</title>
		<link>http://mpokb.com/2011/10/23/internet-dan-perempuan-pembebasan-hingga-sirik-sirikan/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2011/10/23/internet-dan-perempuan-pembebasan-hingga-sirik-sirikan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 14:59:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan Bersama]]></category>
		<category><![CDATA[lukisan darah menstruasi]]></category>
		<category><![CDATA[pembebasan berkat internet]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan suka sirik-sirikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=790</guid>
		<description><![CDATA[Dia, menurut pengakuannya, melukis semua gambar itu dengan darah menstruasi yang ditampung dalam menstrual cup atau cawan menstruasi, sebuah produk yang baru saya ketahui tanpa sengaja ketika googling mengenai menstruasi. Perempuan ini, entah berapa usianya dan tinggal di belahan dunia mana, mengaku bahwa melukis dengan darah menstruasi memberinya sebuah pengalaman yang mengasyikkan. Dia heran, mengapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dia, menurut pengakuannya, melukis semua gambar itu dengan darah menstruasi yang ditampung dalam <em>menstrual cup</em> atau cawan menstruasi, sebuah produk yang baru saya ketahui tanpa sengaja ketika <em>googling</em> mengenai menstruasi. Perempuan ini, entah berapa usianya dan tinggal di belahan dunia mana, mengaku bahwa melukis dengan darah menstruasi memberinya sebuah pengalaman yang mengasyikkan. Dia heran, mengapa tidak lebih banyak perempuan yang melakukan seperti dia, melukis dengan darah menstruasinya? Sejumlah foto karyanya dipamerkan di blog, lengkap berikut keterangan bahwa gambar itu dilukis dengan darah menstruasi hari pertama, ketiga dan seterusnya. Bahkan dia memasang foto bercak pada celana dalam yang masih dipakai(!) di masa mendekati akhir menstruasi untuk menekankan bahwa yang dia lakukan itu &#8220;<em>fun</em>&#8220;.</p>
<p>Lain budaya lain cara pandang. Lain orang lain pikiran. Bagi saya, semua foto yang ditampilkan itu terus terang menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan ngeri. Jangankan darah menstruasi, darah biasa pun bisa menimbulkan kesan ngeri kalau dibuat lukisan. Apalagi ini, sel-sel telur mati yang memang harus dikeluarkan dari tubuh perempuan demi kesehatan. Setahu saya, dalam budaya tradisional yang saya kenal yaitu Jawa, darah menstruasi itu kotor. Maka jamu tradisional kunyit asam pun diminum karena dipercaya punya khasiat untuk &#8220;membersihkan&#8221;. Dalam ajaran agama yang saya tahu pun, darah menstruasi dianggap najis sehingga perempuan yang datang bulan dilarang salat.</p>
<p>Terlepas dari semua itu, untuk kesekian kalinya saya jadi takjub betapa internet telah menjadi penyingkap tabir tabu bagi sebagian perempuan modern. Bukan berarti hanya perempuan yang berubah karena internet, namun dampaknya memang terasa lebih drastis pada kaum hawa ketimbang kaum adam. Kalau dulu perempuan hanya bisa memendam perasaan, menulis di buku harian atau surat pada lelaki pujaan, sekarang mereka bisa menguraikan satu perasaan cinta dalam ratusan kata di sebuah blog, kalau perlu disebarluaskan melalui media sosial agar seisi dunia tahu bahwa dia punya &#8220;cinta&#8221; <img src='http://mpokb.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Bagaimana dengan foto eksplorasi tubuh sendiri? Tentu saja bertebaran. Maklum, selama ini banyak hal-hal yang begitu ditabukan sehingga wanita jadi merasa bersalah bahkan untuk menjelajahi anggota badan sendiri, padahal di masa depan bisa jadi pengetahuan itu penting baginya, termasuk yang menyangkut masalah kesehatan.</p>
<p>Internet menjadi wahana pembebasan, ajang berekspresi dan menegaskan eksistensi &#8220;bahwa saya ada&#8221;, &#8220;bahwa saya penting&#8221;, sekaligus berpacu menjadi seunik mungkin, semenonjol mungkin di antara ribuan, jutaan manusia dunia maya. Di luar motif ekonomi, perempuan yang selama ini kerap dianggap hanya kaum kelas dua, pun bisa menampilkan berbagai keunggulan mulai dari kemolekannya, kecerdasannya maupun ketangguhannya.</p>
<p>Terus terang, saya pun menikmati sisi pembebasan yang diberikan internet. Saya memanfaatkannya sebagai ruang pamer maupun wadah berekspresi yang mustahil saya lakukan di dunia nyata karena satu hal, yaitu masih harus menjaga perasaan orang tua dan sanak keluarga tersayang yang belum tentu memiliki persepsi sama tentang pembebasan. Pengecut? Takut konflik? Ya, demi kebaikan bersama <img src='http://mpokb.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Mungkin karena kurang luasnya pergaulan, belakangan pun saya baru sadar bahwa blog dan media sosial pun kerap dipergunakan oleh sebagian perempuan untuk membuat sirik perempuan lain. Suatu kegiatan yang menurut saya mengherankan, namun mungkin itulah salah satu cara orang untuk &#8220;merasa&#8221; unggul : dengan membuat orang lain &#8220;merasa&#8221; berkekurangan. Sebagai perempuan yang menurut teman saya &#8220;lempeng&#8221; dan &#8220;tahu apa yang diinginkan&#8221;, mungkin saya dianggap tertinggal karena &#8220;tidak ikutan&#8221;. Bagaimanapun, setelah menyadari adanya semacam persaingan ini, ternyata keinginan untuk &#8220;ikutan&#8221; tetap tidak ada. Saya pikir, yang namanya cari musuh itu sangat gampang, tabok saja orang sebelah. Tapi yang namanya cari teman sejati itu susah, masih jauh lebih gampang mencari teman merangkap lawan dalam sarung, eh selimut <img src='http://mpokb.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>PS : untuk posting ini sengaja tidak dicantumkan referensi, silakan googling sendiri <img src='http://mpokb.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2011/10/23/internet-dan-perempuan-pembebasan-hingga-sirik-sirikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Curhat Seusai Lebaran</title>
		<link>http://mpokb.com/2011/09/10/curhat-seusai-lebaran/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2011/09/10/curhat-seusai-lebaran/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Sep 2011 03:08:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asbun Bukan Aspal]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan Bersama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=784</guid>
		<description><![CDATA[Mumpung masih bulannya, izinkan saya mohon maaf lahir dan batin atas segala kesalahan saya selama ini. Selamat Idul Fitri. Seusai Lebaran, salah satu topik yang banyak dibicarakan adalah meningkatnya jumlah perantau, sekarang lebih sering disebut pendatang, ke Ibu Kota dan sekitarnya. Memang, cerita tentang indahnya Jakarta, walaupun sering kali hanya sebatas yang terlihat, begitu memicu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Mumpung masih bulannya, izinkan saya mohon maaf lahir dan batin atas segala kesalahan saya selama ini. Selamat Idul Fitri. Seusai Lebaran, salah satu topik yang banyak dibicarakan adalah meningkatnya jumlah perantau, sekarang lebih sering disebut pendatang, ke Ibu Kota dan sekitarnya. Memang, cerita tentang indahnya Jakarta, walaupun sering kali hanya sebatas yang terlihat, begitu memicu penasaran bagi orang yang tinggal jauh dari sana. Di luar itu, kesempatan untuk meraih penghidupan yang lebih baik tetap menjadi alasan utama orang hijrah ke Jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu saja, dengan semakin berkembangnya usaha kecil dan menengah, bukan cuma industri dan perusahaan besar, peluang untuk bekerja di Jakarta, sebetulnya lebih tepat Jabodetabek, juga kian besar. Setidaknya, tenaga kerja terserap, tidak terbuang atau &#8220;idle&#8221; ketika konsumsi harus jalan terus. Ini &#8220;sesuatu&#8221; yang membikin hati kita boleh optimistis. Apalagi menurut kabar berita, Indonesia saat ini termasuk negara yang cukup menjanjikan bagi investor asing. Ketika kekuatan ekonomi yang dianggap mapan seperti Amerika dan Inggris mengalami krisis, kita justru tengah menjadi pasar tumbuh terbesar di Asia Tenggara. Hebat, kan?</p>
<p style="text-align: justify;">Kata berita pula (silakan tanya Google ya) saat ini modal asing telah mengalir deras ke negeri kita sejak tahun lalu. Ketika seseorang menanamkan uangnya pada kita, berarti dia sudah memberi kepercayaan bahwa kita mampu mengelolanya dengan baik dan menghasilkan keuntungan. Tinggal bagaimananya kita menjalankan kepercayaan tersebut. Apakah dana itu akan kita belanjakan untuk sesuatu yang besar namun bermanfaat bagi orang banyak, atau kita bagikan langsung sedikit-sedikit tapi merata, namun dengan kemampuan kelola si penerima yang entah bagaimana?</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa tahun lalu, ketika kelas menengah Amerika mulai melakukan gerakan hidup irit, merelakan rumah disita karena tidak kuat lagi bayar cicilan yang melangit, kelas menengah Indonesia justru berlomba-lomba membeli rumah dan kendaraan pribadi, juga semakin giat belanja dan&#8230;mengembangkan usaha sendiri. Itu baru yang terlihat oleh orang awam seperti saya. Tanda-tanda apakah ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Optimisme memang harus terus dipupuk, karena &#8211; membeo ucapan para motivator &#8211; tanpa itu kita hanya akan menjadi bagian dari masalah. Bagaimanapun, akan tetap menjadi masalah ketika optimisme itu ternyata tidak terbagi merata ke seluruh penjuru Tanah Air, karena kemampuan kelola yang buruk, apalagi bila perhatian seluruh Indonesia harus selalu terkonsentrasi pada sebuah titik kecil di peta bernama Jakarta. Maka sebagai orang Bogor saya heran, ketika di koran seorang pakar berkoar, provinsi lain harus siap menopang pasokan air ke Jakarta, padahal air di Jakarta banyak terbuang akibat kelalaian dan pembiaran. Ibarat bagian tubuh manusia, semua harus mendapat perawatan dan perhatian yang sama, supaya seluruhnya tetap berfungsi sempurna.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2011/09/10/curhat-seusai-lebaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Program Musim Panas</title>
		<link>http://mpokb.com/2011/07/07/program-musim-panas/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2011/07/07/program-musim-panas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jul 2011 15:06:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan Bersama]]></category>
		<category><![CDATA[ekstrakurikuler]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan dan industri]]></category>
		<category><![CDATA[program musim panas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=777</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Selebaran ini dikirim ke rumah, terselip dalam lipatan koran pagi langganan. Ah, macam-macam saja kegiatan bocah sekarang. Kalau dulu, ketika liburan panjang sekolah puluhan tahun lalu, hal paling menyenangkan bagi saya dan para saudara kandung maupun sepupu adalah berkunjung ke rumah kakek nenek di Ibu Kota. Tentu saja, mal di Jakarta belum sebanyak sekarang. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2011/07/program-musim-panas.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-778" title="program musim panas" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2011/07/program-musim-panas.jpg" alt="" width="442" height="331" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Selebaran ini dikirim ke rumah, terselip dalam lipatan koran pagi langganan. Ah, macam-macam saja kegiatan bocah sekarang. Kalau dulu, ketika liburan panjang sekolah puluhan tahun lalu, hal paling menyenangkan bagi saya dan para saudara kandung maupun sepupu adalah berkunjung ke rumah kakek nenek di Ibu Kota. Tentu saja, mal di Jakarta belum sebanyak sekarang. Kami mengisi waktu luang dengan membuat permainan sendiri, sedikiiiiit belajar berhitung, pergi ke taman ria atau Pekan Raya Jakarta (:D), dan sisanya dihabiskan dengan mengamati kegiatan rumah makan yang dikelola Nenek. Antara lain mengamati para &#8216;pegawai&#8217; memetik buah kelapa dan menyembelih ayam kampung. Lho, kok seperti di desa? Katanya di Ibu Kota? Lho, kota kan aslinya kumpulan dari banyak desa <img src='http://mpokb.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Nah, jadi tidak ada tuh, kegiatan libur sekolah seperti yang disebutkan dalam selebaran di atas. Ada sih yang saya kenal sebagai &#8220;les&#8221;, tapi bukan sebagai pengisi liburan yang dikelola sekolah, melainkan kegiatan di tempat-tempat les umum maupun privat. Paling-paling ya les tari Bali, les balet, les organ, les renang. Sekadar hobi dan mengisi waktu luang, belum tentu mendalami apalagi sampai mengarah ke profesi. Belum ada les masak atau fotografi, apalagi jurnalisme untuk kanak-kanak.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesimpulan saya, anak-anak sekarang seperti diarahkan lebih dini untuk mengenal dunia kerja dan industri. Maka tidak heran ketika seorang cewek kelas 3 SMP ditanya tentang masa depan, dia dengan mantap menjawab, &#8220;Aku tuh mau jadi <em>businesswoman</em>, lalu masuk partai, terus mencalonkan diri jadi presiden.&#8221; &#8220;Mau kuliah di mana?&#8221; &#8220;Di Cambridge.&#8221; <img src='http://mpokb.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Memang sih, omongan bisa jadi sekadar omongan, tapi dari omongan bisa terbayangkan sejauh mana fantasinya terpupuk dan cita-citanya tergantung. Beda dari angkatan saya, yang kebanyakan bercita-cita menjadi guru, polisi, dokter, insinyur. Ada sih satu dua teman yang ingin jadi presiden, tapi saya nggak yakin mereka dulu sudah kenal partai <img src='http://mpokb.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2011/07/07/program-musim-panas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Panduan Makan Pepaya</title>
		<link>http://mpokb.com/2011/06/06/panduan-makan-pepaya/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2011/06/06/panduan-makan-pepaya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Jun 2011 11:24:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan Bersama]]></category>
		<category><![CDATA[pepaya california]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=770</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Saya tak mengira suatu saat akan ada pepaya bermerek. Kalau pisang, memang sudah lama ada, terutama yang dibudidayakan di negara-negara Amerika Latin. Nah, untuk pepaya, seingat saya dulu hanya ada pepaya biasa dan pepaya bangkok. Lalu, sekitar 3 &#8211; 4 tahun terakhir, pepaya california mulai banyak menghiasi rak-rak buah di supermarket dan hipermarket. Ketika tanaman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><center><a href="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2011/06/pepaya-sunripe.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-771" title="pepaya sunripe" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2011/06/pepaya-sunripe.jpg" alt="" width="384" height="288" /></a></center></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tak mengira suatu saat akan ada pepaya bermerek. Kalau pisang, memang sudah lama ada, terutama yang dibudidayakan di negara-negara Amerika Latin. Nah, untuk pepaya, seingat saya dulu hanya ada pepaya biasa dan pepaya bangkok. Lalu, sekitar 3 &#8211; 4 tahun terakhir, pepaya california mulai banyak menghiasi rak-rak buah di supermarket dan hipermarket.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika tanaman buah menjadi produk agroindustri, mengharapkan buah matang pohon menjadi nyaris mustahil. Untuk mempermudah distribusi dan pemasaran, kebanyakan buah yang dipetik dan dijajakan adalah buah yang masih mengkal, harus disimpan dulu beberapa hari sebelum dikonsumsi. Konsumen harus percaya saja bahwa buah akan ranum dan manis. Tidak selalu berhasil. Beberapa kali saya membeli mangga dan avokad yang masih mengkal, akhirnya malah mengeras di luar tapi busuk di dalam dan tidak bisa dimakan. Ya, bisa jadi penyimpanannya yang salah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesiapan produsen pepaya bermerek ini dengan mewanti-wanti konsumen sangat layak ditiru produsen lain untuk buah lain. Konsumen awam banyak yang tidak tahu cara memilih atau menyimpan buah yang benar, apalagi orang modern perkotaan yang tidak pernah hidup bersama pohon buah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2011/06/06/panduan-makan-pepaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SMS Wan Abu Tipu-tipu</title>
		<link>http://mpokb.com/2011/05/15/sms-wan-abu-tipu-tipu/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2011/05/15/sms-wan-abu-tipu-tipu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 May 2011 11:44:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan Bersama]]></category>
		<category><![CDATA[jual beli data]]></category>
		<category><![CDATA[kebocoran data]]></category>
		<category><![CDATA[SMS penipuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=754</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Selain mendadak dipanggil &#8220;mama&#8221; atau &#8220;papa&#8221; agar mengirimkan pulsa dengan alasan &#8220;penting&#8221;, atau tiba-tiba dimintai pulsa oleh &#8220;papa&#8221; (padahal ayah saya sudah almarhum), saya pernah juga satu dua kali menerima SMS yang menyuruh mengetikkan kode tertentu untuk melihat MMS yang &#8220;katanya&#8221; dikirimkan kepada saya, padahal itu kode untuk transfer pulsa. Kalau cuma demi pulsa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-755" title="Abubakar" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2011/05/Abubakar.jpg" alt="" width="216" height="288" /> <img class="aligncenter size-full wp-image-756" title="Cirebon" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2011/05/Cirebon.jpg" alt="" width="216" height="288" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Selain mendadak dipanggil &#8220;mama&#8221; atau &#8220;papa&#8221; agar mengirimkan pulsa dengan alasan &#8220;penting&#8221;, atau tiba-tiba dimintai pulsa oleh &#8220;papa&#8221; (padahal ayah saya sudah almarhum), saya pernah juga satu dua kali menerima SMS yang menyuruh mengetikkan kode tertentu untuk melihat MMS yang &#8220;katanya&#8221; dikirimkan kepada saya, padahal itu kode untuk transfer pulsa. Kalau cuma demi pulsa puluhan ribu, yang mungkin untuk cuap-cuap sebentar segera habis, apalagi sudah banyak yang tahu bahwa itu penipuan, kenapa masih ada saja yang begitu rajin kirim SMS ke para &#8216;papa&#8217; dan &#8216;mama&#8217;, ya? Saya pikir, di situ ada unsur keisengan juga. Iseng mengerjai orang dengan harapan dapat pulsa.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, kali ini ada dua SMS model baru. Yang pertama lebih canggih, pakai bahasa Inggris. Ceritanya Mister, eh, Wan Abubakar ini mau tanam modal sebesar &#8220;satu setengah juta dolar&#8221;, saudara-saudari. Ini karena beliau, konon dari Libya, sedang mencari partner lokal. Kalau dengar kata &#8220;partner&#8221; ini saya jadi agak curiga. <em>Partner in bed</em> atau <em>partner in crime</em>, yak, maksudnya? Haha! Bagi yang berminat, saya tidak menyarankan Anda untuk mengirimkan surel pada Wan Abu, tapi kalau Anda tetap mengotot, risiko tanggung sendiri lho.. Saya sudah memperingatkan..</p>
<p style="text-align: justify;">Yang, kedua, tetap canggih juga, karena si pengirim tahu nama saya dan &#8220;seakan tahu&#8221; saya punya rekening di Bank Mandiri. Saya tidak tahu kebetulan menebak nama bank atau tidak, tapi yang jelas SMS kedua itu cukup meyakinkan seakan si pengirim termasuk orang yang saya kenal. Hanya &#8220;cukup&#8221;, tidak &#8220;sangat&#8221;, sehingga SMS itu pun tidak saya tindak lanjuti. Toh setelah mendiamkan sampai beberapa hari, tidak ada kabar apa-apa dari keluarga maupun kerabat saya. Saran saya, kalau Anda menerima SMS seperti ini, jangan langsung ambil tindakan apa pun. Orang yang mengalami kecelakaan nyaris mustahil hanya mengabari lewat SMS. Perhatikan juga cara si pengirim memakai kata sapa, &#8220;mbak&#8221;, &#8220;mas&#8221;, &#8220;oom&#8221;, &#8220;tante&#8221;. Siapa yang kira-kira akan menyapa Anda begitu? Dengan cara ini pula saya yakin, bahwa si pengirim bukan orang yang saya kenal dan tidak mengenal saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Daripada mengutuki pelaku tidak karuan, padahal belum tentu dia jera, lebih baik kita mawas diri saja. Entah penipuan model SMS apa lagi yang akan muncul. Sebetulnya hal-hal semacam ini membuat saya sedih sekaligus kasihan. Sifat baik seseorang diincar untuk dimanfaatkan lewat manipulasi demi keuntungan instan. Padahal saya yakin, pelaku pun punya keluarga dan kerabat yang tidak dia harapkan bakal menjadi korban penipuan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2011/05/15/sms-wan-abu-tipu-tipu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bangsa Terbahagia</title>
		<link>http://mpokb.com/2011/04/04/bangsa-terbahagia/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2011/04/04/bangsa-terbahagia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Apr 2011 16:11:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan Bersama]]></category>
		<category><![CDATA[bangsa Denmark terbahagia]]></category>
		<category><![CDATA[Oprah Show]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=741</guid>
		<description><![CDATA[Meskipun Universitas Leicester, Inggris, sudah bertahun-tahun mengadakan survey, tapi baru kali ini saya tahu bahwa bangsa Denmark adalah bangsa paling bahagia menurut survey tersebut. &#8220;Oprah Show&#8221; adalah salah satu tayangan yang pernah mengangkat topik ini, dan Oprah Winfrey sendiri melihat langsung sekilas seperti apa kehidupan sehari-hari masyarakat paling bahagia di dunia. Mungkin agak di luar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Meskipun Universitas Leicester, Inggris, sudah bertahun-tahun mengadakan survey, tapi baru kali ini saya tahu bahwa bangsa Denmark adalah bangsa paling bahagia menurut survey tersebut. &#8220;Oprah Show&#8221; adalah salah satu tayangan yang pernah mengangkat topik ini, dan Oprah Winfrey sendiri melihat langsung sekilas seperti apa kehidupan sehari-hari masyarakat paling bahagia di dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin agak di luar dugaan kita, ternyata kehidupan keluarga kebanyakan di ibu kota Denmark, Kopenhagen, tidak bisa dibilang mewah. Mereka tidak berkekurangan, tapi juga tidak berkelimpahan seperti bayangan kebanyakan orang tentang &#8220;hidup bahagia&#8221;. Fakta yang ditemukan Oprah ketika berkunjung ke Denmark adalah :</p>
<p style="text-align: justify;">1. Penduduk Denmark membayar pajak tertinggi di dunia, sekitar 50% &#8211; 70% dari penghasilan. Tingkat kepercayaan pada pemerintah harus tinggi, percaya tidak akan dikorupsi <img src='http://mpokb.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">2. Apabila seseorang kehilangan pekerjaan dan tidak berpenghasilan, pemerintah akan memberi tunjangan yang besarnya hingga 90% gajinya, sampai dia mendapatkan pekerjaan lagi atau maksimal 4 tahun. Bayangkan, sampai 4 tahun menganggur tapi tetap terima gaji. Manusiawi sekali..</p>
<p style="text-align: justify;">3. Biaya kesehatan gratis. Di sini obat Askes juga bisa gratis sih, tapi antrean dan keruwetan administrasinya itu lho&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">4. Pendidikan dasar gratis.</p>
<p style="text-align: justify;">5. Kalau mau berkuliah, anak akan diberi tunjangan kuliah $ 400 atau $ 500 per bulan.</p>
<p style="text-align: justify;">6. Cuti melahirkan bagi wanita adalah 1 tahun, tetap digaji.</p>
<p style="text-align: justify;">7. Kebanyakan orang Denmark pulang bekerja pukul 16.00 &#8211; 17.00 setiap hari. Nggak ada lembur atau begadang? Enak sekali, ya? Waktu luang untuk mengerjakan hal-hal selain pekerjaan masih ada, orang tua masih bisa bertemu lama dengan anak mereka sebelum waktu istirahat malam. Ada keseimbangan antara bekerja dan menjalani sisi hidup lain.</p>
<p style="text-align: justify;">8. Sepeda adalah kendaraan utama yang banyak dipakai untuk kegiatan sehari-hari seperti bekerja, berbelanja dan lain-lain. Lha iyalah. Kesejahteraan kan tidak identik dengan punya kendaraan bermotor. Kalaupun punya, juga tidak harus dipakai setiap hari. Apalagi di negeri yang harga BBM-nya relatif mahal.</p>
<p style="text-align: justify;">9. Lemari es mereka kecil, sehingga lebih banyak mengonsumsi makanan segar yang tidak perlu disimpan berlama-lama.</p>
<p style="text-align: justify;">10. Dengan luas rumah yang terbatas (tapi tidak ada tunawisma), keluarga tidak bisa punya terlalu banyak barang. Hidup mereka terkesan bergaya minimalis, tidak direpotkan penyimpanan barang.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Oprah menyinggung bahwa Denmark adalah negara demokrasi yang menganut pandangan sosialis, seorang narasumber wanita Denmark berkata, tidak selalu berpikiran begitu. Bagi orang luar mereka mungkin dilabeli &#8220;sosialis&#8221;, tapi mereka menganggapnya &#8220;beradab&#8221;. Merawat orang tua dan orang sakit, menjamin semua orang terdidik melalui pendidikan dasar gratis, itulah yang membuat sebuah negara disebut beradab. Yang dihasilkan adalah masyarakat yang sehat dan terdidik.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang Anda paham kan, kenapa bangsa Denmark disebut sebagai bangsa paling bahagia di dunia?</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sumber : &#8220;The Oprah Show&#8221; episode #102109 &#8220;Oprah on Location : The Happiest People on Earth&#8221;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2011/04/04/bangsa-terbahagia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kupon Tipuan (Lagi)</title>
		<link>http://mpokb.com/2011/03/17/kupon-tipuan-lagi/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2011/03/17/kupon-tipuan-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Mar 2011 04:03:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan Bersama]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia banget]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[tango]]></category>
		<category><![CDATA[undian penipuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=736</guid>
		<description><![CDATA[Yang seperti ini sudah ada sejak lama, dan entah sudah berapa orang yang tertipu. Beberapa waktu lalu pernah ada juga yang melemparkan kupon seperti di atas ke pelataran rumah, dengan mencatut merek sabun cuci piring Sunlight. Ukuran kupon di atas hanya sebesar prangko, tapi di sini saya perbesar supaya jelas. Berhati-hatilah dan ingatkan semua penghuni [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><center><a href="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2011/03/tiputango-1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-734" title="tiputango-1" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2011/03/tiputango-1.jpg" alt="" width="320" height="203" /></a></center></p>
<p style="text-align: justify;">Yang seperti ini sudah ada sejak lama, dan entah sudah berapa orang yang tertipu. Beberapa waktu lalu pernah ada juga yang melemparkan kupon seperti di atas ke pelataran rumah, dengan mencatut merek sabun cuci piring Sunlight. Ukuran kupon di atas hanya sebesar prangko, tapi di sini saya perbesar supaya jelas.</p>
<p style="text-align: justify;">Berhati-hatilah dan ingatkan semua penghuni rumah kalau-kalau menerima kiriman kupon macam ini. Persaingan mencari nafkah semakin ketat, dan penyalahgunaan teknologi kian marak, termasuk untuk berbuat kriminal. Yah, untuk hidup nyaman dan aman di negeri dengan banyak ketidakpastian ini, kita tidak selalu bisa menyerahkan tanggung jawab dan pasrah sepenuhnya kepada hukum dan pihak yang berwenang. Tetap lebih baik menjaga kewaspadaan masing-masing <img src='http://mpokb.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">
<p><center><a href="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2011/03/tiputango-2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-735" title="tiputango-2" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2011/03/tiputango-2.jpg" alt="" width="429" height="324" /></a></center></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2011/03/17/kupon-tipuan-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Bangunan Tua (dalam Posting)?</title>
		<link>http://mpokb.com/2011/01/29/kisah-bangunan-tua-dalam-posting/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2011/01/29/kisah-bangunan-tua-dalam-posting/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Jan 2011 16:18:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan Bersama]]></category>
		<category><![CDATA[bangunan tua]]></category>
		<category><![CDATA[goettingen]]></category>
		<category><![CDATA[hundert haeuser hundert tafeln]]></category>
		<category><![CDATA[mimikri kota]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah kota]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=714</guid>
		<description><![CDATA[Buku &#8220;Hundert Haeuser Hundert Tafeln&#8221; (&#8220;Seratus Rumah Seratus Papan Nama&#8221;) ini memuat kumpulan kisah di balik seratus bangunan tua di sebuah kota kecil bernama Goettingen, Niedersachsen, Jerman. Meskipun buku ini terhitung tipis dan ringkas, namun penyusunannya memerlukan waktu tujuh tahun. Penelusuran sejarah terhadap satu bangunan memang tidak semudah yang kita bayangkan, kadang usaha yang dilakukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2011/01/hunderthaeuser.jpg"><img class="size-full wp-image-715  aligncenter" title="hunderthaeuser" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2011/01/hunderthaeuser.jpg" alt="" width="416" height="312" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Buku &#8220;Hundert Haeuser Hundert Tafeln&#8221; (&#8220;Seratus Rumah Seratus Papan Nama&#8221;) ini memuat kumpulan kisah di balik seratus bangunan tua di sebuah kota kecil bernama <a href="http://www.goettingen.de/" target="_blank"><strong>Goettingen</strong></a>, Niedersachsen, Jerman. Meskipun buku ini terhitung tipis dan ringkas, namun penyusunannya memerlukan waktu tujuh tahun. Penelusuran sejarah terhadap satu bangunan memang tidak semudah yang kita bayangkan, kadang usaha yang dilakukan sama mengagumkannya dengan kisah tentang bangunan itu sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Goettingen memang &#8220;kota universitas&#8221; yang unik. Menurut sejarah, banyak sekali budayawan dan ilmuwan termasyhur Jerman pernah tinggal dan berkarya di sana, antara lain Grimm Bersaudara, Carl Gauss,  Max Planck dan Robert Koch. Kota ini pun jadi semacam museum hidup, dengan berbagai sudut yang menyimpan pesona dan legendanya masing-masing. Dengan sendirinya, banyak hal yang bisa ditampilkan untuk tujuan pariwisata, tanpa perlu mencari-cari sesuatu yang artifisial dan asing bahkan bagi warga Goettingen sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap kota menyimpan keunikan masing-masing. Selain Bandung, Yogyakarta, Denpasar, Solo atau Surabaya, masih banyak kota di negeri kita yang punya keunggulan semacam itu, namun belum begitu terlihat. Ah, tentu saja akan sulit membicarakan pengembangan pariwisata di sebuah kota tanpa memikirkan dampak sosialnya, belum lagi benturan budaya yang terjadi antara tamu dengan warga setempat. Maka kita bisa maklum ketika berkunjung ke sebuah kota yang sebetulnya indah, namun seperti dibiarkan tak terurus, karena memang tidak pernah diseriuskan untuk menjadi tujuan wisata.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali ke kisah tentang bangunan tua. Sudah adakah yang membuat buku atau kumpulan kisah tentang bangunan-bangunan tua di kota Anda? Kalau belum, kisah subjektif sekalipun dengan sudut pandang seorang blogger, buat saya tetap menarik. Bisa jadi ingatan Anda dan ingatan teman Anda tentang sebuah gedung bioskop tua atau bangunan bekas sekolah tidak sama. Terlepas dari mana yang lebih mendekati fakta, semua itu akan tetap memperkaya khazanah sejarah kota Anda sendiri, dan bisa menjadi rujukan bagi &#8220;orang luar&#8221;. Tentu, sebelum semua kota kita kelak kehilangan identitas dan keunikan, lantas menjadi seragam dengan hiasan bangunan restoran, bioskop, hipermarket dan toko grosir yang serupa atau bahkan itu-itu saja. Bukankah saat ini pun mimikri kota sudah mulai terjadi?</p>
<p><em>Foto :  &#8221;Hundert Haeuser Hundert Tafeln&#8221; (Der Geschichtsverein fuer Goettingen und Umgebung e.V. &amp; der Fremdenverkehrsverein e.V., Goettingen, 1998).</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2011/01/29/kisah-bangunan-tua-dalam-posting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

