Pernah dengar mitos tentang pisang dempet? Saya sejak lama dengar mitos itu, tapi tak pernah yakin benar apa maksudnya. Sampai beberapa hari lalu waktu Bibi Iin pulang membawa pisang dari pasar.
“Wah, ini pisang dempet, ya, Bi?” kata saya. Si Bibi hanya tersenyum lebar sambil berkata, “Ih, amit-amit.”
Membingungkan juga sikap si Bibi ini. Dia yang beli pisang dempet itu, kok dia sendiri yang bilang amit-amit. Saya nggak dapat penjelasan apa-apa soal pisang dempet. Karena penasaran, maka saya googling. Oh, ternyata ada beberapa blogger yang pernah posting soal ini. Maaf saya lupa, blognya yang mana saja. Saya juga tak mendapat jawaban apakah mitos ini hanya dikenal di Jawa atau di seluruh Indonesia.
Dari situ saya ketahui, konon zaman dulu ada larangan makan pisang dempet bagi ibu hamil, karena takut bayinya terlahir kembar siam. Baiklah, terlepas apakah ada keturunan kembar atau tidak, pembuahan terjadi pada dua sel telur atau tidak, toh zaman dulu belum ada USG. Bahkan jenis kelamin bayi pun mungkin masih ditebak-tebak dari bentuk perut ibunya.
Ada pula yang bilang, larangan makan pisang dempet itu sebetulnya akal-akalan orang tua zaman dulu. Pisang dempet kan besar, jadi daripada dikasihkan pada anak, mending buat orang tuanya saja. Wah, entahlah. Saya nggak yakin bisa dipukul rata seperti itu. Bisa jadi orang tua melarang cuma karena mengikuti orang tuanya dulu. Mirip-mirip larangan makan brutu alias buntut ayam pada anak perempuan kali, yak?
Kembali ke pisang dempet di atas, saya tidak tahu siapa yang akhirnya menyantapnya di rumah saya. Tahu-tahu pisang dempet itu lenyap. Kalau pisang yang lain, saya ikut makan. Hitung-hitung menambah asupan vitamin C dan kalium, kan?



