Archive for the ‘Pemanja Lidah’ Category

Pisang Dempet

Rabu, Juli 28th, 2010

pisangdempet

Pernah dengar mitos tentang pisang dempet? Saya sejak lama dengar mitos itu, tapi tak pernah yakin benar apa maksudnya. Sampai beberapa hari lalu waktu Bibi Iin pulang membawa pisang dari pasar.

“Wah, ini pisang dempet, ya, Bi?” kata saya. Si Bibi hanya tersenyum lebar sambil berkata, “Ih, amit-amit.”

Membingungkan juga sikap si Bibi ini. Dia yang beli pisang dempet itu, kok dia sendiri yang bilang amit-amit. Saya nggak dapat penjelasan apa-apa soal pisang dempet. Karena penasaran, maka saya googling. Oh, ternyata ada beberapa blogger yang pernah posting soal ini. Maaf saya lupa, blognya yang mana saja. Saya juga tak mendapat jawaban apakah mitos ini hanya dikenal di Jawa atau di seluruh Indonesia.

Dari situ saya ketahui, konon zaman dulu ada larangan makan pisang dempet bagi ibu hamil, karena takut bayinya terlahir kembar siam. Baiklah, terlepas apakah ada keturunan kembar atau tidak, pembuahan terjadi pada dua sel telur atau tidak, toh zaman dulu belum ada USG. Bahkan jenis kelamin bayi pun mungkin masih ditebak-tebak dari bentuk perut ibunya.

Ada pula yang bilang, larangan makan pisang dempet itu sebetulnya akal-akalan orang tua zaman dulu. Pisang dempet kan besar, jadi daripada dikasihkan pada anak, mending buat orang tuanya saja. Wah, entahlah. Saya nggak yakin bisa dipukul rata seperti itu. Bisa jadi orang tua melarang cuma karena mengikuti orang tuanya dulu. Mirip-mirip larangan makan brutu alias buntut ayam pada anak perempuan kali, yak?

Kembali ke pisang dempet di atas, saya tidak tahu siapa yang akhirnya menyantapnya di rumah saya. Tahu-tahu pisang dempet itu lenyap. Kalau pisang yang lain, saya ikut makan. Hitung-hitung menambah asupan vitamin C dan kalium, kan?

Tenda Berpohon

Sabtu, Maret 27th, 2010

lubang pohon

Warung tenda penjaja tahu tek, tahu campur atau tahu telor ini, rupanya menganut prinsip evolusi : bertahan dengan cara beradaptasi. Maka pohon yang sudah lebih dulu ada, tumbuh di jalur hijau trotoar, disiasati dengan melubangi langit-langit tenda. Warung dan pohon sama-sama tetap berdiri, setidaknya sampai warung terkena “penertiban”.

Sambutan Musim Rambutan

Sabtu, Januari 23rd, 2010

rambutan

Musim rambutan sudah dimulai. Unik memang, di negeri kita selain ada musim hujan dan musim panas, ada yang disebut musim durian, musim mangga dan musim rambutan. Istilah “musim durian” dan “musim mangga” tetap dipakai. Padahal sekarang, kalau tak peduli harga, durian bisa diperoleh kapan saja di pasar swalayan. Begitu pula mangga. Sejumlah mangga di pasar swalayan bahkan didatangkan jauh-jauh dari Amerika Latin dan…Afrika! Kalau penggemar rambutan sih, setahu saya masih harus mengikuti musim. Saya belum pernah melihat buah rambutan impor kecuali yang kalengan.

Musim mangga kemarin berlalu dengan sukses. Sukses musim buah menurut saya kalau buah-buahan yang berlimpah itu hasilnya bagus, bisa dijual dari yang mahal sampai yang amat murah. Artinya, panen tidak gagal dan hasil kebun berlimpah. Rupanya, tahun ini tahun yang baik buat buah-buahan. Setelah mangga, rambutan menyusul.

Rambutan dalam foto di atas disebut “rambutan aceh”, entah dari mana asal-usul namanya. Rasanya manis, cukup berair dan kulit yang menempel pada biji bisa terkelupas atau “ngelotok”. Setelah banyak di pasar, harganya jadi murah, rata-rata Rp 5.000 untuk tiga ikatan. Ada pula yang dijual kiloan, sudah dibersihkan dari ranting dan daun. Harganya sekitar Rp 10.000 per tiga kilo.

Selidik punya selidik, rambutan tersebut ternyata menempuh perjalanan antarkota antarprovinsi cukup jauh, dari Serang, Banten. Maklum saja, pinggiran Kota Bogor yang dulu ditumbuhi pohon rambutan, kini sudah banyak berubah menjadi pemukiman suburban. Konon lagi di Jakarta, Kampung Rambutan nyaris tinggal nama.

PS : Ini ada situs menarik tentang rambutan, tapi nama Indonesia tidak termasuk yang disebut :)

Stroberi

Selasa, Januari 12th, 2010

stroberi

Saya lupa, sejak kapan persisnya stroberi jadi buah yang lazim ditemui di pasar dan toko swalayan. Kalau 10 tahun lalu sih, rasanya masih jarang. Sekarang, dengan kian banyaknya kebun stroberi lokal – setahu saya di Jawa Barat ada di sekitar Bandung dan Garut – buah yang cenderung asam ini kian mudah diperoleh.

Semasa saya kecil di Bogor, Jawa Barat, memang sudah ada buah stroberi, kadang dijual bersama arbei, yang berasal dari kawasan Puncak. Akan tetapi, buahnya jauh lebih kecil dari yang beredar sekarang. Mungkin lebih enak kalau dibuat selai. Omong-omong soal selai, sebagian besar dari Anda mungkin sudah akrab dengan selai bluberi. Rasa ini mulai akrab di lidah orang Indonesia, termasuk saya. Padahal, seumur-umur saya belum pernah lihat pohon bluberi. Kalau ada yang punya bibitnya, pingin juga saya ikut menanam.

Buah stroberi yang beredar di pasar dan toko swalayan Indonesia, entah kenapa, memang bukan dari varietas yang manis-manis amat atau besar-besar amat. Padahal, kalau bisa mendapatkan varietas stroberi yang besar dan manis itu, bukan tidak mungkin petani Indonesialah yang suatu saat akan mengekspor stroberi ke Amerika atau Australia. Lha iya lah. Masak mau yang enak-enak harus impor terus.