
Musim rambutan sudah dimulai. Unik memang, di negeri kita selain ada musim hujan dan musim panas, ada yang disebut musim durian, musim mangga dan musim rambutan. Istilah “musim durian” dan “musim mangga” tetap dipakai. Padahal sekarang, kalau tak peduli harga, durian bisa diperoleh kapan saja di pasar swalayan. Begitu pula mangga. Sejumlah mangga di pasar swalayan bahkan didatangkan jauh-jauh dari Amerika Latin dan…Afrika! Kalau penggemar rambutan sih, setahu saya masih harus mengikuti musim. Saya belum pernah melihat buah rambutan impor kecuali yang kalengan.
Musim mangga kemarin berlalu dengan sukses. Sukses musim buah menurut saya kalau buah-buahan yang berlimpah itu hasilnya bagus, bisa dijual dari yang mahal sampai yang amat murah. Artinya, panen tidak gagal dan hasil kebun berlimpah. Rupanya, tahun ini tahun yang baik buat buah-buahan. Setelah mangga, rambutan menyusul.
Rambutan dalam foto di atas disebut “rambutan aceh”, entah dari mana asal-usul namanya. Rasanya manis, cukup berair dan kulit yang menempel pada biji bisa terkelupas atau “ngelotok”. Setelah banyak di pasar, harganya jadi murah, rata-rata Rp 5.000 untuk tiga ikatan. Ada pula yang dijual kiloan, sudah dibersihkan dari ranting dan daun. Harganya sekitar Rp 10.000 per tiga kilo.
Selidik punya selidik, rambutan tersebut ternyata menempuh perjalanan antarkota antarprovinsi cukup jauh, dari Serang, Banten. Maklum saja, pinggiran Kota Bogor yang dulu ditumbuhi pohon rambutan, kini sudah banyak berubah menjadi pemukiman suburban. Konon lagi di Jakarta, Kampung Rambutan nyaris tinggal nama.
PS : Ini ada situs menarik tentang rambutan, tapi nama Indonesia tidak termasuk yang disebut

Saya lupa, sejak kapan persisnya stroberi jadi buah yang lazim ditemui di pasar dan toko swalayan. Kalau 10 tahun lalu sih, rasanya masih jarang. Sekarang, dengan kian banyaknya kebun stroberi lokal – setahu saya di Jawa Barat ada di sekitar Bandung dan Garut – buah yang cenderung asam ini kian mudah diperoleh.
Semasa saya kecil di Bogor, Jawa Barat, memang sudah ada buah stroberi, kadang dijual bersama arbei, yang berasal dari kawasan Puncak. Akan tetapi, buahnya jauh lebih kecil dari yang beredar sekarang. Mungkin lebih enak kalau dibuat selai. Omong-omong soal selai, sebagian besar dari Anda mungkin sudah akrab dengan selai bluberi. Rasa ini mulai akrab di lidah orang Indonesia, termasuk saya. Padahal, seumur-umur saya belum pernah lihat pohon bluberi. Kalau ada yang punya bibitnya, pingin juga saya ikut menanam.
Buah stroberi yang beredar di pasar dan toko swalayan Indonesia, entah kenapa, memang bukan dari varietas yang manis-manis amat atau besar-besar amat. Padahal, kalau bisa mendapatkan varietas stroberi yang besar dan manis itu, bukan tidak mungkin petani Indonesialah yang suatu saat akan mengekspor stroberi ke Amerika atau Australia. Lha iya lah. Masak mau yang enak-enak harus impor terus.

Namanya Kafe Serambi Botani. Terletak di serambi kiri pusat perbelanjaan Botani Square, Bogor. Di kafe ini, kita bisa mencicipi beberapa jenis kopi dari sejumlah daerah di Indonesia, seperti Aceh, Medan, Lampung, Jawa, Bali, Toraja dan Papua. Selain mengopi dan mengudap sambil mengobrol, Anda yang membawa laptop bisa melanjutkan kegiatan berinternet.

Kafe mungil berkapasitas sekitar 20 orang ini memanfaatkan sudut yang terletak di bawah salah satu eskalator gedung. Justru itulah yang membuat interior kedai tampak unik, karena bagian bawah eskalator ditutupi dengan papan bergambar logo Institut Pertanian Bogor, daun dan slogan-slogan cinta lingkungan. Salah satu dinding yang bergambar urat kayu dihiasi dengan ukiran berpola sulur tanaman dan kupu-kupu.

Benda unik lainnya adalah meja kaca dengan badan berbentuk peti yang terbuat dari papan, yang juga bertulisan slogan-slogan cinta lingkungan.

Kalau Anda sedang berjalan-jalan ke Bogor dan perlu meeting point di tengah kota sambil mengopi sesaat atau berinternet, atau sekadar menunggu kerabat berbelanja sembari melepas lelah, tak ada salahnya Anda mencoba tempat ini. Soal harga? Cukup bersahabat
Kok Mentar