<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>mpokb &#187; Pemanja Lidah</title>
	<atom:link href="http://mpokb.com/category/pemanja-lidah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mpokb.com</link>
	<description>JILL OF ALL TRADES AND MISTRESS OF NONE</description>
	<lastBuildDate>Sat, 07 Jan 2012 15:47:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.2</generator>
		<item>
		<title>Sisir Paulus</title>
		<link>http://mpokb.com/2011/05/10/sisir-paulus/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2011/05/10/sisir-paulus/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 May 2011 04:12:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemanja Lidah]]></category>
		<category><![CDATA[roti paulus]]></category>
		<category><![CDATA[roti sisir]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=750</guid>
		<description><![CDATA[Sebetulnya foto ini sudah lama sekali, tapi lupa mau dipunggah. Ini buah tangan seorang kawan di bekas kantor saya, anak Surabaya. Beberapa kali pulang ke Surabaya, dia membawa roti ini untuk oleh-oleh ke Jakarta. Sebungkus untuk setiap orang di ruangan kami. Roti sisir sebenarnya sama dengan roti lainnya, hanya saja setelah dibentuk pipih, adonan roti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><center><a href="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2011/05/sisirpaulus.jpg"><img class="size-full wp-image-746 aligncenter" title="sisirpaulus" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2011/05/sisirpaulus.jpg" alt="" width="384" height="288" /></a></center></p>
<p style="text-align: justify;">Sebetulnya foto ini sudah lama sekali, tapi lupa mau dipunggah. Ini buah tangan seorang kawan di bekas kantor saya, anak Surabaya. Beberapa kali pulang ke Surabaya, dia membawa roti ini untuk oleh-oleh ke Jakarta. Sebungkus untuk setiap orang di ruangan kami. Roti sisir sebenarnya sama dengan roti lainnya, hanya saja setelah dibentuk pipih, adonan roti disusun berdiri dan bagian sisinya diolesi campuran mentega dan gula sebelum dipanggang. Setelah roti matang, bahan olesan sudah meleleh rata di sisi roti. Kadang ada juga yang menambahkan taburan gula pasir. Hasilnya tambah maniiiissss&#8230;. Anda pernah atau suka makan roti sisir?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2011/05/10/sisir-paulus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cakue Bandung dari Gang City</title>
		<link>http://mpokb.com/2011/01/18/cakue-bandung-dari-gang-city/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2011/01/18/cakue-bandung-dari-gang-city/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Jan 2011 15:16:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemanja Lidah]]></category>
		<category><![CDATA[cakue bandung samping ngesti]]></category>
		<category><![CDATA[cakue ranggagading]]></category>
		<category><![CDATA[jalan suryakencana]]></category>
		<category><![CDATA[kue bantal]]></category>
		<category><![CDATA[odading]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=700</guid>
		<description><![CDATA[Mengusung nama kota lain untuk makanan, baik khas maupun tidak, sudah sejak lama menjadi salah satu taktik dagang yang paling banyak dipakai. Misalnya &#8220;cakue Bandung&#8221; ini. Meskipun dijual di Bogor, dan di Bogor sendiri banyak penjaja cakue, penambahan kata &#8220;Bandung&#8221; mungkin diharap akan lebih menarik pembeli. Gerobak cakue Bandung ini sudah lama ada, seingat saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-701" style="float: left; margin: 0px 10px 10px 0px;" title="bungkus-cakwe" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2011/01/bungkus-cakwe.jpg" border="0" alt="" width="338" height="254" /></p>
<p style="text-align: justify;">Mengusung nama kota lain untuk makanan, baik khas maupun tidak, sudah sejak lama menjadi salah satu taktik dagang yang paling banyak dipakai. Misalnya &#8220;cakue Bandung&#8221; ini. Meskipun dijual di Bogor, dan di Bogor sendiri banyak penjaja cakue, penambahan kata &#8220;Bandung&#8221; mungkin diharap akan lebih menarik pembeli.</p>
<p style="text-align: justify;">Gerobak cakue Bandung ini sudah lama ada, seingat saya pada awal tahun &#8217;80-an pun sudah ada. Tapi, karena jarang beli di sana, saya kurang tahu apakah penjualnya dari dulu itu-itu saja atau diteruskan oleh orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Meskipun nama jalan tempat gerobak cakue ini mangkal sudah diganti menjadi Jalan Ranggagading, namun kertas pembungkus cakue tetap menerakan alamat &#8220;Gang City&#8221;, diambil dari bioskop &#8220;City Theatre&#8221;, khusus film-film Mandarin, yang berdiri di ujung jalan tersebut. Bioskop City pun akhirnya tutup, seiring masuknya jaringan bioskop 21 ke Bogor.</p>
<p style="text-align: justify;">Setahu saya, cakue selalu dijual bersamaan dengan &#8220;kue bantal&#8221;, di Bogor disebut &#8220;odading&#8221;, versi manis dari cakue yang berbentuk kotak gembung. Untuk bahan-bahan pembuatnya, silakan <em>googling</em> ya <img src='http://mpokb.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Harga cakue pada tahun &#8217;80-an adalah Rp 50, sudah lengkap dengan kuah kacang yang pekat. Saat itu gaji bulanan seorang peneliti perkebunan sekitar Rp 500.000. Cukup untuk membeli 10.000 potong cakue. Bandingkan dengan harga cakue yang saat ini berkisar antara Rp 800 &#8211; Rp 2.000 per buah, itu pun dengan kuah kacang yang encer. Apakah gaji peneliti sekarang dalam kisaran Rp 8 juta &#8211; 20 juta per bulan? Saya tidak tahu. Ini cuma hitung-hitungan naif anak SD, di luar inflasi dan lain-lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, kalau ada kesempatan ke Bogor, Jawa Barat, silakan coba cakue Bandung yang ini. Cari alamatnya tidak sulit, karena mulut Gang City alias Jalan Ranggagading itu terletak di kawasan niaga Jalan Suryakencana, amat sangat dekat dengan Pasar Bogor dan Kebun Raya, tetenger si Kota Hujan.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2011/01/cakwe-odading.jpg"><img class="size-full wp-image-702  aligncenter" title="cakwe-odading" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2011/01/cakwe-odading.jpg" alt="" width="422" height="317" /></a></p>
<p style="text-align: center;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2011/01/18/cakue-bandung-dari-gang-city/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buah Lokal : Sampai Kapan?</title>
		<link>http://mpokb.com/2010/10/19/buah-lokal-sampai-kapan/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2010/10/19/buah-lokal-sampai-kapan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Oct 2010 16:31:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemanja Lidah]]></category>
		<category><![CDATA[alpukat]]></category>
		<category><![CDATA[avokad]]></category>
		<category><![CDATA[jambu biji]]></category>
		<category><![CDATA[jambu klutuk]]></category>
		<category><![CDATA[kecapi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=649</guid>
		<description><![CDATA[Kalau buah lokal segar bisa dibeli dengan harga bersaing dibandingkan buah impor,  sedikit banyak kita bisa membantu petani buah lokal. Gerakan mengonsumsi hasil kebun atau hasil tani lokal telah dijalankan oleh sebagian warga negara industri. Mereka, sebagian warga &#8216;negara maju&#8217; itu, menolak mengonsumsi tanaman hasil budi daya perusahaan besar yang dianggap sudah tidak aman dikonsumsi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2010/10/buahlokal.jpg"><img class="size-full wp-image-650 aligncenter" title="buahlokal" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2010/10/buahlokal.jpg" alt="" width="420" height="337" /></a></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">Kalau buah lokal segar bisa dibeli dengan harga bersaing dibandingkan buah impor,  sedikit banyak kita bisa membantu petani buah lokal. Gerakan mengonsumsi hasil kebun atau hasil tani lokal telah dijalankan oleh sebagian warga negara industri. Mereka, sebagian warga &#8216;negara maju&#8217; itu, menolak mengonsumsi tanaman hasil budi daya perusahaan besar yang dianggap sudah tidak aman dikonsumsi, meskipun relatif lebih murah. Mereka bertanya-tanya, apa dampak manipulasi gen terhadap bibit tanaman terhadap kesehatan, dari mana buah-buahan berasal kalau bijinya tidak ada, mengapa buah sudah berminggu-minggu dipanen tidak kunjung busuk, dari mana tanaman musiman berasal kalau sedang tidak musim tapi tetap ada di pasar? Dan, sekian banyak pertanyaan lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana di negeri kita? Ada kekhawatiran, keraguan, yang dengan cantiknya diatasi melalui harga murah buah dan sayuran impor.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan kita lupa nasib para petani lokal. Dan kita tak sadar, sedikit demi sedikit kita jualah yang membuat sekian varietas punah. Suatu saat, bukan tidak mungkin salah seorang keturunan Anda akan terheran-heran melihat foto buah kecapi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2010/10/19/buah-lokal-sampai-kapan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pisang Dempet</title>
		<link>http://mpokb.com/2010/07/28/pisang-dempet/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2010/07/28/pisang-dempet/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jul 2010 14:40:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan Bersama]]></category>
		<category><![CDATA[Pemanja Lidah]]></category>
		<category><![CDATA[kembar siam]]></category>
		<category><![CDATA[mitos]]></category>
		<category><![CDATA[pisang dempet]]></category>
		<category><![CDATA[pisang raja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=601</guid>
		<description><![CDATA[Pernah dengar mitos tentang pisang dempet? Saya sejak lama dengar mitos itu, tapi tak pernah yakin benar apa maksudnya. Sampai beberapa hari lalu waktu Bibi Iin pulang membawa pisang dari pasar. &#8220;Wah, ini pisang dempet, ya, Bi?&#8221; kata saya. Si Bibi hanya tersenyum lebar sambil berkata, &#8220;Ih, amit-amit.&#8221; Membingungkan juga sikap si Bibi ini. Dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2010/07/pisangdempet.jpg"><img class="size-full wp-image-602 aligncenter" title="pisangdempet" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2010/07/pisangdempet.jpg" alt="pisangdempet" width="442" height="331" /></a></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">Pernah dengar mitos tentang pisang dempet? Saya sejak lama dengar mitos itu, tapi tak pernah yakin benar apa maksudnya. Sampai beberapa hari lalu waktu Bibi Iin pulang membawa pisang dari pasar.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Wah, ini pisang dempet, ya, Bi?&#8221; kata saya. Si Bibi hanya tersenyum lebar sambil berkata, &#8220;Ih, amit-amit.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Membingungkan juga sikap si Bibi ini. Dia yang beli pisang dempet itu, kok dia sendiri yang bilang amit-amit. Saya nggak dapat penjelasan apa-apa soal pisang dempet. Karena penasaran, maka saya <em>googling</em>. Oh, ternyata ada beberapa blogger yang pernah posting soal ini. Maaf saya lupa, blognya yang mana saja. Saya juga tak mendapat jawaban apakah mitos ini hanya dikenal di Jawa atau di seluruh Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari situ saya ketahui, konon zaman dulu ada larangan makan pisang dempet bagi ibu hamil, karena takut bayinya terlahir kembar siam. Baiklah, terlepas apakah ada keturunan kembar atau tidak, pembuahan terjadi pada dua sel telur atau tidak, toh zaman dulu belum ada USG. Bahkan jenis kelamin bayi pun mungkin masih ditebak-tebak dari bentuk perut ibunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada pula yang bilang, larangan makan pisang dempet itu sebetulnya akal-akalan orang tua zaman dulu. Pisang dempet kan besar, jadi daripada dikasihkan pada anak, mending buat orang tuanya saja. Wah, entahlah. Saya nggak yakin bisa dipukul rata seperti itu. Bisa jadi orang tua melarang cuma karena mengikuti orang tuanya dulu. Mirip-mirip larangan makan <em>brutu</em> alias buntut ayam pada anak perempuan kali, yak?</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali ke pisang dempet di atas, saya tidak tahu siapa yang akhirnya menyantapnya di rumah saya. Tahu-tahu pisang dempet itu lenyap. Kalau pisang yang lain, saya ikut makan. Hitung-hitung menambah asupan vitamin C dan kalium, kan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2010/07/28/pisang-dempet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tenda Berpohon</title>
		<link>http://mpokb.com/2010/03/27/tenda-berpohon/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2010/03/27/tenda-berpohon/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Mar 2010 15:35:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemanja Lidah]]></category>
		<category><![CDATA[Tempat Singgah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=492</guid>
		<description><![CDATA[Warung tenda penjaja tahu tek, tahu campur atau tahu telor ini, rupanya menganut prinsip evolusi : bertahan dengan cara beradaptasi. Maka pohon yang sudah lebih dulu ada, tumbuh di jalur hijau trotoar, disiasati dengan melubangi langit-langit tenda. Warung dan pohon sama-sama tetap berdiri, setidaknya sampai warung terkena &#8220;penertiban&#8221;.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center; "><a href="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2010/03/lubang-pohon.jpg"><img class="size-full wp-image-491 aligncenter" title="lubang pohon" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2010/03/lubang-pohon.jpg" alt="lubang pohon" width="311" height="414" /></a></p>
<p style="text-align: center; ">
<p style="text-align: justify;">Warung tenda penjaja tahu tek, tahu campur atau tahu telor ini, rupanya menganut prinsip evolusi : bertahan dengan cara beradaptasi. Maka pohon yang sudah lebih dulu ada, tumbuh di jalur hijau trotoar, disiasati dengan melubangi langit-langit tenda. Warung dan pohon sama-sama tetap berdiri, setidaknya sampai warung terkena &#8220;penertiban&#8221;.</p>
<p style="text-align: center; ">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2010/03/27/tenda-berpohon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sambutan Musim Rambutan</title>
		<link>http://mpokb.com/2010/01/23/sambutan-musim-rambutan/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2010/01/23/sambutan-musim-rambutan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 07:13:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemanja Lidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=471</guid>
		<description><![CDATA[Musim rambutan sudah dimulai. Unik memang, di negeri kita selain ada musim hujan dan musim panas, ada yang disebut musim durian, musim mangga dan musim rambutan. Istilah &#8220;musim durian&#8221; dan &#8220;musim mangga&#8221; tetap dipakai. Padahal sekarang, kalau tak peduli harga, durian bisa diperoleh kapan saja di pasar swalayan. Begitu pula mangga. Sejumlah mangga di pasar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2010/01/rambutan.jpg"><img class="size-full wp-image-470 aligncenter" title="rambutan" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2010/01/rambutan.jpg" alt="rambutan" width="331" height="442" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Musim rambutan sudah dimulai. Unik memang, di negeri kita selain ada musim hujan dan musim panas, ada yang disebut musim durian, musim mangga dan musim rambutan. Istilah &#8220;musim durian&#8221; dan &#8220;musim mangga&#8221; tetap dipakai. Padahal sekarang, kalau tak peduli harga, durian bisa diperoleh kapan saja di pasar swalayan. Begitu pula mangga. Sejumlah mangga di pasar swalayan bahkan didatangkan jauh-jauh dari Amerika Latin dan&#8230;Afrika! Kalau penggemar rambutan sih, setahu saya masih harus mengikuti musim. Saya belum pernah melihat buah rambutan impor kecuali yang kalengan.</p>
<p style="text-align: justify;">Musim mangga kemarin berlalu dengan sukses. Sukses musim buah menurut saya kalau buah-buahan yang berlimpah itu hasilnya bagus, bisa dijual dari yang mahal sampai yang amat murah. Artinya, panen tidak gagal dan hasil kebun berlimpah. Rupanya, tahun ini tahun yang baik buat buah-buahan. Setelah mangga, rambutan menyusul.</p>
<p style="text-align: justify;">Rambutan dalam foto di atas disebut &#8220;rambutan aceh&#8221;, entah dari mana asal-usul namanya. Rasanya manis, cukup berair dan kulit yang menempel pada biji bisa terkelupas atau &#8220;ngelotok&#8221;. Setelah banyak di pasar, harganya jadi murah, rata-rata Rp 5.000 untuk tiga ikatan. Ada pula yang dijual kiloan, sudah dibersihkan dari ranting dan daun. Harganya sekitar Rp 10.000 per tiga kilo.</p>
<p style="text-align: justify;">Selidik punya selidik, rambutan tersebut ternyata menempuh perjalanan antarkota antarprovinsi cukup jauh, dari Serang, Banten. Maklum saja, pinggiran Kota Bogor yang dulu ditumbuhi pohon rambutan, kini sudah banyak berubah menjadi pemukiman suburban. Konon lagi di Jakarta, Kampung Rambutan nyaris tinggal nama.</p>
<p style="text-align: justify;">PS : Ini ada <strong><a href="http://rambutan.com" target="_blank">situs menarik tentang rambutan</a><span style="font-weight: normal;">, tapi</span> </strong>nama Indonesia tidak termasuk yang disebut <img src='http://mpokb.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2010/01/23/sambutan-musim-rambutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Stroberi</title>
		<link>http://mpokb.com/2010/01/12/stroberi/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2010/01/12/stroberi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 04:09:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemanja Lidah]]></category>
		<category><![CDATA[buah impor]]></category>
		<category><![CDATA[buah-buahan]]></category>
		<category><![CDATA[budidaya tanaman]]></category>
		<category><![CDATA[stroberi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=467</guid>
		<description><![CDATA[Saya lupa, sejak kapan persisnya stroberi jadi buah yang lazim ditemui di pasar dan toko swalayan. Kalau 10 tahun lalu sih, rasanya masih jarang. Sekarang, dengan kian banyaknya kebun stroberi lokal &#8211; setahu saya di Jawa Barat ada di sekitar Bandung dan Garut &#8211; buah yang cenderung asam ini kian mudah diperoleh. Semasa saya kecil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2010/01/stroberi.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-466" title="stroberi" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2010/01/stroberi.jpg" alt="stroberi" width="376" height="281" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Saya lupa, sejak kapan persisnya stroberi jadi buah yang lazim ditemui di pasar dan toko swalayan. Kalau 10 tahun lalu sih, rasanya masih jarang. Sekarang, dengan kian banyaknya kebun stroberi lokal &#8211; setahu saya di Jawa Barat ada di sekitar Bandung dan Garut &#8211; buah yang cenderung asam ini kian mudah diperoleh.</p>
<p style="text-align: justify;">Semasa saya kecil di Bogor, Jawa Barat, memang sudah ada buah stroberi, kadang dijual bersama arbei, yang berasal dari kawasan Puncak. Akan tetapi, buahnya jauh lebih kecil dari yang beredar sekarang. Mungkin lebih enak kalau dibuat selai. Omong-omong soal selai, sebagian besar dari Anda mungkin sudah akrab dengan selai bluberi. Rasa ini mulai akrab di lidah orang Indonesia, termasuk saya. Padahal, seumur-umur saya belum pernah lihat pohon bluberi. Kalau ada yang punya bibitnya, pingin juga saya ikut menanam.</p>
<p style="text-align: justify;">Buah stroberi yang beredar di pasar dan toko swalayan Indonesia, entah kenapa, memang bukan dari varietas yang manis-manis amat atau besar-besar amat. Padahal, kalau bisa mendapatkan varietas stroberi yang besar dan manis itu, bukan tidak mungkin petani Indonesialah yang suatu saat akan mengekspor stroberi ke Amerika atau Australia. Lha iya lah. Masak mau yang enak-enak harus impor terus.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2010/01/12/stroberi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengopi di Serambi</title>
		<link>http://mpokb.com/2009/12/24/mengopi-di-serambi/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2009/12/24/mengopi-di-serambi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 13:14:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemanja Lidah]]></category>
		<category><![CDATA[Tempat Singgah]]></category>
		<category><![CDATA[bogor]]></category>
		<category><![CDATA[ipb]]></category>
		<category><![CDATA[kafe internet]]></category>
		<category><![CDATA[kopi]]></category>
		<category><![CDATA[serambi botani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=455</guid>
		<description><![CDATA[Namanya Kafe Serambi Botani. Terletak di serambi kiri pusat perbelanjaan Botani Square, Bogor. Di kafe ini, kita bisa mencicipi beberapa jenis kopi dari sejumlah daerah di Indonesia, seperti Aceh, Medan, Lampung, Jawa, Bali, Toraja dan Papua. Selain mengopi dan mengudap sambil mengobrol, Anda yang membawa laptop bisa melanjutkan kegiatan berinternet. Kafe mungil berkapasitas sekitar 20 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-457 aligncenter" title="serambi botani-3" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2009/12/serambi-botani-3.jpg" alt="serambi botani-3" width="317" height="422" /></p>
<p style="text-align: justify;">Namanya Kafe Serambi Botani. Terletak di serambi kiri pusat perbelanjaan Botani Square, Bogor. Di kafe ini, kita bisa mencicipi beberapa jenis kopi dari sejumlah daerah di Indonesia, seperti Aceh, Medan, Lampung, Jawa, Bali, Toraja dan Papua. Selain mengopi dan mengudap sambil mengobrol, Anda yang membawa laptop bisa melanjutkan kegiatan berinternet.</p>
<p><img class="size-full wp-image-454 aligncenter" title="serambi botani-1" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2009/12/serambi-botani-1.jpg" alt="serambi botani-1" width="279" height="373" /></p>
<p style="text-align: justify;">Kafe mungil berkapasitas sekitar 20 orang ini memanfaatkan sudut yang terletak di bawah salah satu eskalator gedung. Justru itulah yang membuat interior kedai tampak unik, karena bagian bawah eskalator ditutupi dengan papan bergambar logo Institut Pertanian Bogor, daun dan slogan-slogan cinta lingkungan. Salah satu dinding yang bergambar urat kayu dihiasi dengan ukiran berpola sulur tanaman dan kupu-kupu.</p>
<p style="text-align: center; "><img class="size-full wp-image-458 aligncenter" title="serambi botani-4" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2009/12/serambi-botani-4.jpg" alt="serambi botani-4" width="222" height="295" /></p>
<p style="text-align: justify;">Benda unik lainnya adalah meja kaca dengan badan berbentuk peti yang terbuat dari papan, yang juga bertulisan slogan-slogan cinta lingkungan.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-456 aligncenter" title="serambi botani-2" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2009/12/serambi-botani-2.jpg" alt="serambi botani-2" width="380" height="285" /></p>
<p style="text-align: justify;">Kalau Anda sedang berjalan-jalan ke Bogor dan perlu <em>meeting point</em> di tengah kota sambil mengopi sesaat atau berinternet, atau sekadar menunggu kerabat berbelanja sembari melepas lelah, tak ada salahnya Anda mencoba tempat ini. Soal harga? Cukup bersahabat <img src='http://mpokb.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2009/12/24/mengopi-di-serambi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kelepon Biru</title>
		<link>http://mpokb.com/2009/10/03/kelepon-biru/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2009/10/03/kelepon-biru/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 09:33:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asbun Bukan Aspal]]></category>
		<category><![CDATA[Pemanja Lidah]]></category>
		<category><![CDATA[Percobaan gituh]]></category>
		<category><![CDATA[biru]]></category>
		<category><![CDATA[humor]]></category>
		<category><![CDATA[iseng]]></category>
		<category><![CDATA[jayus]]></category>
		<category><![CDATA[kelepon]]></category>
		<category><![CDATA[kue tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[kurang kerjaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=370</guid>
		<description><![CDATA[sepiring kelepon biru kubuatkan untukmu menjelang hari jadi pertemuan pertama kali sepiring kelepon biru untuk dirimu nan jauh ketimbang segera basi biar kusantap sendiri]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-369 aligncenter" title="kelepon biru-1" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2009/10/kelepon-biru-1.jpg" alt="kelepon biru-1" width="352" height="264" /></p>
<p style="text-align: center;">sepiring kelepon biru</p>
<p style="text-align: center;">kubuatkan untukmu</p>
<p style="text-align: center;">menjelang hari jadi</p>
<p style="text-align: center;">pertemuan pertama kali</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">sepiring kelepon biru</p>
<p style="text-align: center;">untuk dirimu nan jauh</p>
<p style="text-align: center;">ketimbang segera basi</p>
<p style="text-align: center;">biar kusantap sendiri</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-371 aligncenter" title="kelepon biru-2" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2009/10/kelepon-biru-2.jpg" alt="kelepon biru-2" width="352" height="264" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2009/10/03/kelepon-biru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lokal dan Tradisional, Konon</title>
		<link>http://mpokb.com/2009/08/20/lokal-dan-tradisional-konon/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2009/08/20/lokal-dan-tradisional-konon/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2009 05:14:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemanja Lidah]]></category>
		<category><![CDATA[kue basah]]></category>
		<category><![CDATA[kue tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[UKM]]></category>
		<category><![CDATA[wirausaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=298</guid>
		<description><![CDATA[Kok posting soal makanan lagi? Harap maklum yak, blog ini memang agak mirip warung, meskipun yang berjualan bukan saya. Inilah dagangan si mamang langganan yang lewat depan rumah tiap akhir pekan. Pukul 9.30 &#8211; 10.00 hari Sabtu, teriakannya selalu terdengar di depan rumah, &#8220;Kueeeee!&#8221; Kalau sudah dengar suara itu, rasanya seperti ada dorongan spontan untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-297 aligncenter" title="kue basah" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2009/08/kue-basah.jpg" alt="kue basah" width="416" height="312" /></p>
<p style="text-align: justify;">Kok posting soal makanan lagi? Harap maklum yak, blog ini memang agak mirip warung, meskipun yang berjualan bukan saya. Inilah dagangan si mamang langganan yang lewat depan rumah tiap akhir pekan. Pukul 9.30 &#8211; 10.00 hari Sabtu, teriakannya selalu terdengar di depan rumah, &#8220;Kueeeee!&#8221; Kalau sudah dengar suara itu, rasanya seperti ada dorongan spontan untuk segera ke depan rumah sambil bawa piring kosong. Bukan, itu bukan efek hipnotis atau pelet. Saya memang doyan, sungguh. Dulu, waktu si mamang baru mulai berjualan di komplek saya, rasanya saya sempat mengalami kekalapan seketika dalam memborong kue. Lama-kelamaan, kerakusan itu mulai berkurang dan sekarang saya insaf, membeli secukupnya saja untuk seisi rumah <img src='http://mpokb.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Kebiasaan membeli kue dari &#8220;orang lewat&#8221; itu dulu juga dilakukan ibu saya semasa saya kecil. Berbagai kue basah dengan cita rasa tradisional dan lokal (meskipun bahannya sekarang pun banyak yang diimpor, weeeksss..!), tetap akan punya tempat istimewa di indra pencecap dan hati saya. Hayah, ngomongin penganan saja kok jadi sentimental gini sih..</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil nunggu ide posting berikutnya, saya ajak Anda main tebak-tebakan. Apakah Anda tahu nama-nama kue di atas? Yang jawabannya benar semua, boleh borong kue si mamang <img src='http://mpokb.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2009/08/20/lokal-dan-tradisional-konon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

