Archive for the ‘Selamat!’ Category

Persepsi Anda, Saya dan Mereka

Rabu, Desember 30th, 2009
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka, “persepsi” adalah : 1. tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu; serapan; dan 2. proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancaindranya. Karena setiap orang memiliki pola pikir berbeda yang terbentuk melalui pengalaman hidup masing-masing, maka persepsi Anda, persepsi saya dan persepsi orang lain terhadap sesuatu sangat mungkin berbeda. Ditambah dengan variasi sudut pandang, semakin banyaklah kemungkinan persepsi yang terbentuk di kepala kita.
Sebuah buku yang belakangan banyak dicari orang karena konon “menghebohkan”, mendadak hilang dari toko-toko buku. Tersiar kabar, buku itu dilarang beredar, diberangus, karena konon di dalamnya terdapat data-data yang bisa mengungkapkan borok seorang penguasa. Penulisnya seseorang yang memang kerap dikenal vokal dalam mengkritisi kalangan penguasa. Tentu saja bukan sejenis bloger abal-abal macam saya maupun penulis yang menulis sekadar hobi. Beliau seorang peneliti yang karena kerajinannya mencari data, maka banyak orang yang mengakui kesahihan tulisannya.
Hilangnya buku itu dari toko-toko buku bahkan sampai membuat sebuah organisasi pembela hak asasi manusia turun dan memeriksa benar tidaknya terjadi pelarangan peredaran buku tersebut. Dari sebuah toko buku besar didapat keterangan bahwa keputusan untuk tidak menjual buku itu berasal dari pihak manajemen sendiri. Ada pula distributor buku yang mengaku tetap menjualnya, sehingga lekas kehabisan stok, bahkan buku itu sempat ditawar hingga sepuluh kali lipat dari harga banderolnya. Terus terang, saya sempat punya persepsi bahwa ini utak-atik dagang yang sesungguhnya sah-sah saja. Ketika permintaan naik, maka harga harus naik. Namanya juga dagang. Tidak heran jika buku yang konon dilarang beredar ini sesungguhnya tetap beredar dan bisa dibeli dengan menghubungi nomor-nomor ponsel tertentu. Bukan, saya bukan salah satu yang mencarinya, karena sejak awal saya sudah punya persepsi sendiri terhadap buku itu. Selain itu, kisah sejati pendaki gunung Greg Mortenson dalam “Three Cups of Tea” sudah lebih dulu menyita perhatian saya dan dua jam menunggu rambut selesai dicat di salon ternyata hanya membawa saya ke seperenam jumlah halaman. Masih banyak pengalaman batin yang memperkaya jiwa menanti untuk ditemukan di sana.
Ah, ada terlalu banyak kata “konon” di tulisan sependek ini, karena catatan pribadi ini semata hanya untuk mengeluarkan apa yang ada dalam benak saya. Persepsi saya. Saya bukan hendak meyakinkan Anda yang bisa membentuk persepsi masing-masing. Saya bukan pembela si A atau si B. Info yang saya peroleh tentang kabar kabur ini pun saya dapatkan dari berbagai liputan kabur tentang kasus yang kabur. Apa boleh buat, sementara ini kita masih hidup di negeri yang banyak ralat. Ketika si X mengatakan begini, si Y mengatakan begitu, yang terjadi adalah adu debat berkepanjangan dengan memanfaatkan begitu banyak celah yang bisa diralat sewaktu-waktu. Selamat Tahun Baru, bagi Anda yang merayakannya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka, “persepsi” adalah : 1. tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu; serapan; dan 2. proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancaindranya. Karena setiap orang memiliki pola pikir berbeda yang terbentuk melalui pengalaman hidup masing-masing, maka persepsi Anda, persepsi saya dan persepsi orang lain terhadap sesuatu sangat mungkin berbeda. Ditambah dengan variasi sudut pandang, semakin banyaklah kemungkinan persepsi yang terbentuk di kepala kita.

Sebuah buku yang belakangan banyak dicari orang karena konon “menghebohkan”, mendadak hilang dari toko-toko buku. Tersiar kabar, buku itu dilarang beredar, diberangus, karena konon di dalamnya terdapat data-data yang bisa mengungkapkan borok seorang penguasa. Penulisnya seseorang yang memang kerap dikenal vokal dalam mengkritisi kalangan penguasa. Tentu saja bukan sejenis bloger abal-abal macam saya maupun penulis yang menulis sekadar hobi. Beliau seorang peneliti yang karena kerajinannya mencari data, maka banyak orang yang mengakui kesahihan tulisannya.

Hilangnya buku itu dari toko-toko buku bahkan sampai membuat sebuah organisasi pembela hak asasi manusia turun dan memeriksa benar tidaknya terjadi pelarangan peredaran buku tersebut. Dari sebuah toko buku besar didapat keterangan bahwa keputusan untuk tidak menjual buku itu berasal dari pihak manajemen sendiri. Ada pula distributor buku yang mengaku tetap menjualnya, sehingga lekas kehabisan stok, bahkan buku itu sempat ditawar hingga sepuluh kali lipat dari harga banderolnya. Terus terang, saya sempat punya persepsi bahwa ini taktik dagang yang sesungguhnya sah-sah saja. Ketika permintaan naik, maka harga harus naik. Namanya juga dagang. Tidak heran jika buku yang konon dilarang beredar ini sesungguhnya tetap beredar dan bisa dibeli dengan menghubungi nomor-nomor ponsel tertentu. Bukan, saya bukan salah satu yang mencarinya, karena sejak awal saya sudah punya persepsi sendiri terhadap buku itu. Selain itu, kisah sejati pendaki gunung Greg Mortenson dalam “Three Cups of Tea” sudah lebih dulu menyita perhatian saya dan dua jam menunggu rambut selesai dicat di salon ternyata hanya membawa saya ke seperenam jumlah halaman. Masih banyak pengalaman batin yang memperkaya jiwa menanti untuk ditemukan di sana.

Ah, ada terlalu banyak kata “konon” di tulisan sependek ini, karena catatan pribadi ini semata hanya untuk mengeluarkan apa yang ada dalam benak saya. Persepsi saya. Saya bukan hendak meyakinkan Anda yang bisa membentuk persepsi masing-masing. Saya bukan pembela si A atau si B. Info yang saya peroleh tentang kabar kabur ini pun saya dapatkan dari kliping imajiner berbagai liputan kabur tentang kasus yang kabur. Apa boleh buat, sementara ini kita masih hidup di negeri yang banyak ralat. Ketika si X mengatakan begini, si Y mengatakan begitu, yang terjadi adalah adu debat berkepanjangan dengan memanfaatkan begitu banyak celah yang bisa diralat sewaktu-waktu. Selamat Tahun Baru, bagi Anda yang meyakininya.

“Nice Post, BTW”

Senin, Oktober 26th, 2009

uangdalamkloset

uangdalamkloset-2

Sometimes blogging is overrated.

Kado Barang atau Uang?

Senin, Oktober 12th, 2009

kado

Kapan terakhir kali Anda memberikan kado pernikahan ketika datang ke resepsi? Mungkin saja Anda patungan bersama teman-teman sekantor atau seperumahan, atau bersama keluarga besar, untuk memberikan hadiah bertema. Misalnya peralatan rumah tangga, perlengkapan kamar tidur, atau ehem, lingerie yang mungkin tidak akan dibeli sendiri oleh mempelai wanita karena masih malu berpakaian seksi di depan suami? ;) Mungkin juga Anda sudah menyelipkan angpau “tanda kasih sayang”, tapi ingin tetap memberikan sesuatu yang berkesan bagi kedua mempelai? Walaupun sudah bukan keharusan, kado berupa barang masih saja dicari orang.

Dari resepsi pernikahan beberapa waktu lalu, saya mendapat info dari mempelai bahwa dari sekian tamu yang datang, sekitar 15% di antaranya menghadiahkan kado berupa barang. Sejumlah kado berupa barang yang sama, bahkan sampai ke merek dan modelnya :D Ini patut disyukuri, karena kalau barang tersebut rusak atau lapuk, si penerima masih punya cadangannya :)

Entah sejak kapan budaya membawa angpau ke pernikahan jadi “nasional”. Bagi pemberi dan penerima kado, uang memang lebih praktis. Dan umumnya bisa langsung dipakai sendiri oleh penerima :)  Dulu, orang akan maklum apabila mempelai memilih untuk menyimpan kado-kado yang tidak sempat terpakai, untuk diberikan lagi kepada pengantin baru lainnya. Barang-barang rumah tangga seperti pengering rambut, setrika, atau pemanggang roti, termasuk yang kerap diteruskan dari satu resepsi ke resepsi :)

Orang jarang membuat kado sendiri untuk diberikan kepada sepasang mempelai. Sekali waktu pernah ada seorang pelukis menghadiahi hasil karyanya, lukisan Kota Jakarta tempo doeloe, ketika masih bernama Batavia. Penuh sentuhan pribadi. Untuk ukuran zaman sekarang, mungkin bisa disamakan dengan menghadiahi blog atau situs bagi kedua mempelai :)

Ngeblog Belum Tentu Dapat Duit, tapi…

Selasa, Oktober 6th, 2009

Ketika seorang teman menanyakan cara untuk membuat tampilan blognya menarik dan memancing banyak pengunjung, saya bingung. Selama ngeblog, saya lebih sering memakai layout gratisan yang disediakan oleh bloghost atau buatan orang lain. Saya sendiri, nggak bisa otak-atik layout blog. Paling banter pasang gambar di sidebar atau gonta-ganti tautan :D

Setahu saya, banyak blogger menyiasati blog-nya agar dikunjungi orang lain dengan banyak-banyak blogwalking. Kalau popularitas blog terangkat, otomatis si blog akan mudah terendus oleh mesin pencari. Selain itu, bisa juga dengan memasang tag pada artikel yang ditulis.

Ah, gamang rasanya menulis soal ini. Tahu ilmunya cuma sedikit-sedikit, dan saya memang belum terpikir lebih jauh untuk cari uang lewat blog. Makanya saya diam saja waktu ditanya berapa biaya untuk pasang artikel dengan satu text link di blog lama saya. Selain tidak enak hati karena saya sudah hampir setahun pindah blog, membiarkan orang lain mengisi blog pribadi kok rasanya kurang asyik, ya? Saya cenderung kolot dalam ngeblog. Blog saya adalah saya, suka-suka dan tergantung mood saya. Tentu saja, akibatnya adalah nggak dapat duit lewat blog, hahaha!

Keharusan menerima artikel dan tautan dari orang lain itulah yang kurang sreg. Bersyukurlah para blogger yang dipasangi tautan tanpa merusak layout maupun mengganggu tema blog, dibayar pula. Yang enak adalah atas dasar suka sama suka, bahkan kalau perlu, tanpa dibayar sekalipun si blogger mau memasang tautan :)

Kali ini, atas dasar kekerabatan dan pertemanan, saya mau memperkenalkan tiga link di blogroll saya. Toko Anakku, Ble Kitchen dan Bunga Mukena. Bisa ditebak, kan, isinya apa? Kalau penasaran, klik saja langsung, lalu pesan deh :D Selamat berusaha buat Wina, Tantrie dan Astrid.. Laris manis tanjung kimpul..! :D