Archive for the Category »Tempat Singgah «

serambi botani-3

Namanya Kafe Serambi Botani. Terletak di serambi kiri pusat perbelanjaan Botani Square, Bogor. Di kafe ini, kita bisa mencicipi beberapa jenis kopi dari sejumlah daerah di Indonesia, seperti Aceh, Medan, Lampung, Jawa, Bali, Toraja dan Papua. Selain mengopi dan mengudap sambil mengobrol, Anda yang membawa laptop bisa melanjutkan kegiatan berinternet.

serambi botani-1

Kafe mungil berkapasitas sekitar 20 orang ini memanfaatkan sudut yang terletak di bawah salah satu eskalator gedung. Justru itulah yang membuat interior kedai tampak unik, karena bagian bawah eskalator ditutupi dengan papan bergambar logo Institut Pertanian Bogor, daun dan slogan-slogan cinta lingkungan. Salah satu dinding yang bergambar urat kayu dihiasi dengan ukiran berpola sulur tanaman dan kupu-kupu.

serambi botani-4

Benda unik lainnya adalah meja kaca dengan badan berbentuk peti yang terbuat dari papan, yang juga bertulisan slogan-slogan cinta lingkungan.

serambi botani-2

Kalau Anda sedang berjalan-jalan ke Bogor dan perlu meeting point di tengah kota sambil mengopi sesaat atau berinternet, atau sekadar menunggu kerabat berbelanja sembari melepas lelah, tak ada salahnya Anda mencoba tempat ini. Soal harga? Cukup bersahabat :)

kucingsimetris

Mengamati perilaku hewan adalah hal mengasyikkan buat saya, terutama kalau di sekitar saya sedang tidak ada manusia yang menarik untuk diamati :P  Misalnya, kedua kucing yang entah kenapa berbaring dengan posisi sejajar seperti ini. Kompak, padahal tidak ada yang mengatur. Lagi pula, setahu saya kucing bukan hewan yang mudah dilatih seperti anjing.

Kedua kucing ini kakak beradik, yang kakak betina lahir lebih dulu daripada si adik jantan. Akan tetapi, si adik jantan lebih bongsor daripada si kakak betina.

Seorang teman yang penyayang kucing pernah memberi tahu saya, konon kucing menganggap pemiliknya sebagai pelayannya, kebalikan dari anjing yang menganggap sang pemilik sebagai majikan. Benar atau tidaknya, silakan Anda bandingkan sendiri perilaku kedua jenis hewan peliharaan tersebut. Buat saya, sebagai teman maupun hiburan, keduanya sama-sama menggemaskan.

PS : Dulu, ketika sempat memelihara anjing sekaligus kucing, mereka bisa makan dengan tenang dari satu piring :)

Alkisah di Kota Hujan ada sebuah perumahan yang pada setiap
akhir pekan selalu dijadikan tempat usaha oleh para
pedagang, baik paruh waktu maupun mereka yang benar-benar
berprofesi sebagai pedagang.
Kompleks Melati, nama perumahan itu, sejak selepas subuh
kerap didatangi para warga yang kebanyakan tinggal di
sekitar lingkungan kompleks. Umumnya, mereka datang bersama
keluarga untuk jalan pagi dan membeli sarapan. Jalan pagi
dan membeli sarapan di akhir pekan rupanya sudah menjadi
kebiasaan para warga Kota Hujan yang sejuk. Para pedagang
kaki lima Kota Hujan gembira. Kompleks Melati menjadi tempat
usaha yang strategis. Meskipun yang dijual hanya
barang-barang kecil dan makanan, namun pada akhir pekan bisa
laris manis.
Kesempatan ini pun tidak disia-siakan oleh mereka, para
warga Kota Hujan yang sebetulnya bukan pedagang, namun ingin
mencari penghasilan tambahan. Kebanyakan dari mereka adalah
pegawai kantoran dari kelas menengah yang bekerja dari Senin
sampai Jumat. Oleh sebab itu, waktu mereka untuk berdagang
hanyalah hari Sabtu dan Minggu.
Dalam beberapa tahun, jumlah para pedagang ini kian
bertambah. Ada yang memakai lapak, ada yang memanfaatkan
mobil dan tenda, ada pula yang hanya menggunakan meja kecil
untuk memajang barang. Dagangan yang ditawarkan pun kian
beragam. Selalu ada barang baru dan jajanan rasa baru.
Mereka yang berjualan sudah punya tempat yang tetap, namun
tanpa batas fisik. Masing-masing hanya mengingat lokasi
berjualan dengan patokan di depan rumah nomor sekian, atau
di titik A atau B di dekat bundaran taman dan sebagainnya.
Calon pedagang yang baru datang akan diterima, tentu dengan
kesepakatan lisan bisa menempati tempat usaha yang tidak
mengganggu pedagang lama. Semua rukun, semua tetap membayar
uang terima kasih kepada petugas keamanan kompleks. Sesuatu
yang dianggap wajar, karena otomatis tugas petugas keamanan
kompleks bertambah dengan adanya begitu banyak pedagang
pendatang.
Sampai suatu ketika, para pedagang menerima surat edaran
bertulisan larangan berusaha di sana. Dalam surat itu
disebutkan, berhubung adanya kejadian pencurian di salah
satu rumah di Kompleks Melati, serta tabrak lari dengan
korban warga kompleks, maka lingkungan Kompleks Melati
dianggap sudah tidak aman lagi. Juga diambil kesimpulan
bahwa penyebabnya adalah para pedagang mingguan itu.
Para pedagang resah dan tidak terima dipersalahkan. Selidik
punya selidik, pencurian di rumah tersebut dilakukan oleh
bekas pekerja rumah itu sendiri. Dan pelaku tabrak lari pun
bukan dari kalangan pedagang. Kalau yang dipakai sebagai
alasan adalah menjaga kebersihan, para pedagang merasa sudah
memenuhi dengan menyediakan kantong sampah. Kebiasaan
membuang sampah sembarangan tidak bisa ditimpakan sebagai
kesalahan pedagang.
Rumor berkembang. Konon kabarnya, baru-baru ini seorang
jenderal pindah ke salah satu rumah di jalan yang kerap
digunakan untuk berdagang mingguan. Sang Jenderal rupanya
merasa istirahatnya di akhir pekan terganggu dengan kegiatan
para pedagang. Dia mengusulkan keberatan kepada Ketua RT dan
Ketua RW, agar di Kompleks Melati kegiatan berdagang
mingguan ditiadakan. Proses rembukan para warga kompleks
pada akhirnya melahirkan surat edaran larangan berdagang.
Kasus yang dialami oleh para penggiat di sektor informal ini
sebetulnya bukan yang pertama kali. Nasib yang lebih parah
kerap dialami oleh mereka yang berstatus Pedagang Kaki Lima.
Meskipun sudah membayar uang keamanan maupun uang
kebersihan, namun mereka tidak punya kepastian hukum dan
harus siap digusur sewaktu-waktu. Sungguh disayangkan,
mengingat perputaran uang yang terjadi di sana tidak bisa
dianggap remeh.

Alkisah di Kota Hujan ada sebuah perumahan yang pada setiap akhir pekan selalu dijadikan tempat usaha oleh para pedagang, baik paruh waktu maupun mereka yang benar-benar berprofesi sebagai pedagang. Kompleks Melati, nama perumahan itu, sejak selepas subuh kerap didatangi para warga yang kebanyakan tinggal di sekitar lingkungan kompleks. Umumnya, mereka datang bersama keluarga untuk jalan pagi dan membeli sarapan. Jalan pagi dan membeli sarapan di akhir pekan rupanya sudah menjadi kebiasaan para warga Kota Hujan yang sejuk. Para pedagang kaki lima Kota Hujan gembira. Kompleks Melati menjadi tempat usaha yang strategis. Meskipun yang dijual hanya barang-barang kecil dan makanan, namun pada akhir pekan bisa laris manis.

Kesempatan ini pun tidak disia-siakan oleh mereka, para warga Kota Hujan yang sebetulnya bukan pedagang, namun ingin mencari penghasilan tambahan. Kebanyakan dari mereka adalah pegawai kantoran dari kelas menengah yang bekerja dari Senin sampai Jumat. Oleh sebab itu, waktu mereka untuk berdagang hanyalah hari Sabtu dan Minggu.

Dalam beberapa tahun, jumlah para pedagang ini kian bertambah. Ada yang memakai lapak, ada yang memanfaatkan mobil dan tenda, ada pula yang hanya menggunakan meja kecil untuk memajang barang. Dagangan yang ditawarkan pun kian beragam. Selalu ada barang baru dan jajanan rasa baru. Mereka yang berjualan sudah punya tempat yang tetap, namun tanpa batas fisik. Masing-masing hanya mengingat lokasi berjualan dengan patokan di depan rumah nomor sekian, atau di titik A atau B di dekat bundaran taman dan sebagainnya. Calon pedagang yang baru datang akan diterima, tentu dengan kesepakatan lisan bisa menempati tempat usaha yang tidak mengganggu pedagang lama. Semua rukun, semua tetap membayar uang terima kasih kepada petugas keamanan kompleks. Sesuatu yang dianggap wajar, karena otomatis tugas petugas keamanan kompleks bertambah dengan adanya begitu banyak pedagang pendatang.

Sampai suatu ketika, para pedagang menerima surat edaran bertulisan larangan berusaha di sana. Dalam surat itu disebutkan, berhubung adanya kejadian pencurian di salah satu rumah di Kompleks Melati, serta tabrak lari dengan korban warga kompleks, maka lingkungan Kompleks Melati dianggap sudah tidak aman lagi. Juga diambil kesimpulan bahwa penyebabnya adalah para pedagang mingguan itu.

Para pedagang resah dan tidak terima dipersalahkan. Selidik punya selidik, pencurian di rumah tersebut dilakukan oleh bekas pekerja rumah itu sendiri. Dan pelaku tabrak lari pun bukan dari kalangan pedagang. Kalau yang dipakai sebagai alasan adalah menjaga kebersihan, para pedagang merasa sudah memenuhi dengan menyediakan kantong sampah. Kebiasaan membuang sampah sembarangan tidak bisa ditimpakan sebagai kesalahan pedagang.

Rumor berkembang. Konon kabarnya, baru-baru ini seorang jenderal pindah ke salah satu rumah di jalan yang kerap digunakan untuk berdagang mingguan. Sang Jenderal rupanya merasa istirahatnya di akhir pekan terganggu dengan kegiatan para pedagang. Dia mengusulkan keberatan kepada Ketua RT dan Ketua RW, agar di Kompleks Melati kegiatan berdagang mingguan ditiadakan. Proses rembukan para warga kompleks pada akhirnya melahirkan surat edaran larangan berdagang.

Kasus yang dialami oleh para penggiat di sektor informal ini sebetulnya bukan yang pertama kali. Nasib yang lebih parah kerap dialami oleh mereka yang berstatus Pedagang Kaki Lima. Meskipun sudah membayar uang keamanan maupun uang kebersihan, namun mereka tidak punya kepastian hukum dan harus siap digusur sewaktu-waktu. Sungguh disayangkan, mengingat perputaran uang yang terjadi di sana tidak bisa dianggap remeh.

– diposting juga di Publikana – Kesaksian dan Pengalaman Warga

Bekisting sudah dibuka, beton sudah mengeras, namun tulangan dibiarkan mencuat tanpa pengaman di sisi kiri kanan. Pada hari Minggu lalu selepas subuh, seorang pengendara mobil yang baru keluar dari gerbang kompleks berusaha menghindari deretan tulangan telanjang. “Takut ban tersobek tulangan,” katanya. Memang sih, ban sisi kanan selamat, namun sisi kiri badan mobil akhirnya tergores tembok kompleks, karena pengemudi tak sadar terlalu mepet ke kiri.
Terlepas dari keterbatasan kemampuan navigasi si pengemudi, maupun cahaya selepas subuh yang masih remang-remang, tulangan telanjang tetaplah berbahaya. Minimal bagi para warga pejalan kaki yang sering berseliweran di sana.
Faktor keamanan diperlukan bukan hanya untuk pekerja proyek, melainkan juga para warga yang melintas di sekitar lokasi pengecoran di Jalan Raya Tajur, Bogor, ini. Memang, sekadar papan pembatas pun (misalnya lisplank?) membutuhkan biaya yang bisa melambungkan rencana anggaran biaya. Kalau prinsipnya begini, apa-apa bisa jadi mahal. Hanya keselamatan manusia yang murah.

tulangan-1

Bekisting sudah dibuka, beton sudah mengeras, namun tulangan dibiarkan mencuat tanpa pengaman di sisi kiri kanan. Pada hari Minggu lalu selepas subuh, seorang pengendara mobil yang baru keluar dari gerbang kompleks berusaha menghindari deretan tulangan telanjang. “Takut ban tersobek tulangan,” katanya. Memang sih, ban sisi kanan selamat, namun sisi kiri badan mobil akhirnya tergores tembok kompleks, karena pengemudi tak sadar terlalu mepet ke kiri.

Terlepas dari keterbatasan kemampuan navigasi si pengemudi, maupun cahaya selepas subuh yang masih remang-remang, tulangan telanjang tetaplah berbahaya. Minimal bagi para warga pejalan kaki yang sering berseliweran di sana.

Faktor keamanan diperlukan bukan hanya untuk pekerja proyek, melainkan juga para warga yang melintas di sekitar lokasi pengecoran di Jalan Raya Tajur, Bogor, ini. Memang, sekadar papan pembatas pun (misalnya lisplank?) membutuhkan biaya yang bisa melambungkan rencana anggaran biaya. Kalau prinsipnya begini, apa-apa bisa jadi mahal. Hanya keselamatan manusia yang murah.

PS : Sudah pernah diposting di www.publikana.com. Mari bergabung di sana :)