Mumpung masih bulannya, izinkan saya mohon maaf lahir dan batin atas segala kesalahan saya selama ini. Selamat Idul Fitri. Seusai Lebaran, salah satu topik yang banyak dibicarakan adalah meningkatnya jumlah perantau, sekarang lebih sering disebut pendatang, ke Ibu Kota dan sekitarnya. Memang, cerita tentang indahnya Jakarta, walaupun sering kali hanya sebatas yang terlihat, begitu memicu penasaran bagi orang yang tinggal jauh dari sana. Di luar itu, kesempatan untuk meraih penghidupan yang lebih baik tetap menjadi alasan utama orang hijrah ke Jakarta.
Tentu saja, dengan semakin berkembangnya usaha kecil dan menengah, bukan cuma industri dan perusahaan besar, peluang untuk bekerja di Jakarta, sebetulnya lebih tepat Jabodetabek, juga kian besar. Setidaknya, tenaga kerja terserap, tidak terbuang atau “idle” ketika konsumsi harus jalan terus. Ini “sesuatu” yang membikin hati kita boleh optimistis. Apalagi menurut kabar berita, Indonesia saat ini termasuk negara yang cukup menjanjikan bagi investor asing. Ketika kekuatan ekonomi yang dianggap mapan seperti Amerika dan Inggris mengalami krisis, kita justru tengah menjadi pasar tumbuh terbesar di Asia Tenggara. Hebat, kan?
Kata berita pula (silakan tanya Google ya) saat ini modal asing telah mengalir deras ke negeri kita sejak tahun lalu. Ketika seseorang menanamkan uangnya pada kita, berarti dia sudah memberi kepercayaan bahwa kita mampu mengelolanya dengan baik dan menghasilkan keuntungan. Tinggal bagaimananya kita menjalankan kepercayaan tersebut. Apakah dana itu akan kita belanjakan untuk sesuatu yang besar namun bermanfaat bagi orang banyak, atau kita bagikan langsung sedikit-sedikit tapi merata, namun dengan kemampuan kelola si penerima yang entah bagaimana?
Beberapa tahun lalu, ketika kelas menengah Amerika mulai melakukan gerakan hidup irit, merelakan rumah disita karena tidak kuat lagi bayar cicilan yang melangit, kelas menengah Indonesia justru berlomba-lomba membeli rumah dan kendaraan pribadi, juga semakin giat belanja dan…mengembangkan usaha sendiri. Itu baru yang terlihat oleh orang awam seperti saya. Tanda-tanda apakah ini?
Optimisme memang harus terus dipupuk, karena – membeo ucapan para motivator – tanpa itu kita hanya akan menjadi bagian dari masalah. Bagaimanapun, akan tetap menjadi masalah ketika optimisme itu ternyata tidak terbagi merata ke seluruh penjuru Tanah Air, karena kemampuan kelola yang buruk, apalagi bila perhatian seluruh Indonesia harus selalu terkonsentrasi pada sebuah titik kecil di peta bernama Jakarta. Maka sebagai orang Bogor saya heran, ketika di koran seorang pakar berkoar, provinsi lain harus siap menopang pasokan air ke Jakarta, padahal air di Jakarta banyak terbuang akibat kelalaian dan pembiaran. Ibarat bagian tubuh manusia, semua harus mendapat perawatan dan perhatian yang sama, supaya seluruhnya tetap berfungsi sempurna.
10 Comments »