Jajal Via Mobile

Posted by mpokb on 07 Okt 2011 | Tagged as: Tak Berkategori

Tes posting dengan ponsel yang katanya cerdas, menggunakan peranti Mobile WordPress, melahirkan kesimpulan sementara bahwa ponsel kurang oke buat posting panjang. Untuk balas komentar dan merambah blog ke sana kemari, bolehlah. Bukan apa-apa, ujung jari pun ternyata bisa pegal kalau diketukkan terus-menerus, setidaknya bagi saya lho :D

Curhat Seusai Lebaran

Posted by mpokb on 10 Sep 2011 | Tagged as: Asbun Bukan Aspal, Kehidupan Bersama

Mumpung masih bulannya, izinkan saya mohon maaf lahir dan batin atas segala kesalahan saya selama ini. Selamat Idul Fitri. Seusai Lebaran, salah satu topik yang banyak dibicarakan adalah meningkatnya jumlah perantau, sekarang lebih sering disebut pendatang, ke Ibu Kota dan sekitarnya. Memang, cerita tentang indahnya Jakarta, walaupun sering kali hanya sebatas yang terlihat, begitu memicu penasaran bagi orang yang tinggal jauh dari sana. Di luar itu, kesempatan untuk meraih penghidupan yang lebih baik tetap menjadi alasan utama orang hijrah ke Jakarta.

Tentu saja, dengan semakin berkembangnya usaha kecil dan menengah, bukan cuma industri dan perusahaan besar, peluang untuk bekerja di Jakarta, sebetulnya lebih tepat Jabodetabek, juga kian besar. Setidaknya, tenaga kerja terserap, tidak terbuang atau “idle” ketika konsumsi harus jalan terus. Ini “sesuatu” yang membikin hati kita boleh optimistis. Apalagi menurut kabar berita, Indonesia saat ini termasuk negara yang cukup menjanjikan bagi investor asing. Ketika kekuatan ekonomi yang dianggap mapan seperti Amerika dan Inggris mengalami krisis, kita justru tengah menjadi pasar tumbuh terbesar di Asia Tenggara. Hebat, kan?

Kata berita pula (silakan tanya Google ya) saat ini modal asing telah mengalir deras ke negeri kita sejak tahun lalu. Ketika seseorang menanamkan uangnya pada kita, berarti dia sudah memberi kepercayaan bahwa kita mampu mengelolanya dengan baik dan menghasilkan keuntungan. Tinggal bagaimananya kita menjalankan kepercayaan tersebut. Apakah dana itu akan kita belanjakan untuk sesuatu yang besar namun bermanfaat bagi orang banyak, atau kita bagikan langsung sedikit-sedikit tapi merata, namun dengan kemampuan kelola si penerima yang entah bagaimana?

Beberapa tahun lalu, ketika kelas menengah Amerika mulai melakukan gerakan hidup irit, merelakan rumah disita karena tidak kuat lagi bayar cicilan yang melangit, kelas menengah Indonesia justru berlomba-lomba membeli rumah dan kendaraan pribadi, juga semakin giat belanja dan…mengembangkan usaha sendiri. Itu baru yang terlihat oleh orang awam seperti saya. Tanda-tanda apakah ini?

Optimisme memang harus terus dipupuk, karena – membeo ucapan para motivator – tanpa itu kita hanya akan menjadi bagian dari masalah. Bagaimanapun, akan tetap menjadi masalah ketika optimisme itu ternyata tidak terbagi merata ke seluruh penjuru Tanah Air, karena kemampuan kelola yang buruk, apalagi bila perhatian seluruh Indonesia harus selalu terkonsentrasi pada sebuah titik kecil di peta bernama Jakarta. Maka sebagai orang Bogor saya heran, ketika di koran seorang pakar berkoar, provinsi lain harus siap menopang pasokan air ke Jakarta, padahal air di Jakarta banyak terbuang akibat kelalaian dan pembiaran. Ibarat bagian tubuh manusia, semua harus mendapat perawatan dan perhatian yang sama, supaya seluruhnya tetap berfungsi sempurna.

Program Musim Panas

Posted by mpokb on 07 Jul 2011 | Tagged as: Kehidupan Bersama

 

Selebaran ini dikirim ke rumah, terselip dalam lipatan koran pagi langganan. Ah, macam-macam saja kegiatan bocah sekarang. Kalau dulu, ketika liburan panjang sekolah puluhan tahun lalu, hal paling menyenangkan bagi saya dan para saudara kandung maupun sepupu adalah berkunjung ke rumah kakek nenek di Ibu Kota. Tentu saja, mal di Jakarta belum sebanyak sekarang. Kami mengisi waktu luang dengan membuat permainan sendiri, sedikiiiiit belajar berhitung, pergi ke taman ria atau Pekan Raya Jakarta (:D), dan sisanya dihabiskan dengan mengamati kegiatan rumah makan yang dikelola Nenek. Antara lain mengamati para ‘pegawai’ memetik buah kelapa dan menyembelih ayam kampung. Lho, kok seperti di desa? Katanya di Ibu Kota? Lho, kota kan aslinya kumpulan dari banyak desa :D

Nah, jadi tidak ada tuh, kegiatan libur sekolah seperti yang disebutkan dalam selebaran di atas. Ada sih yang saya kenal sebagai “les”, tapi bukan sebagai pengisi liburan yang dikelola sekolah, melainkan kegiatan di tempat-tempat les umum maupun privat. Paling-paling ya les tari Bali, les balet, les organ, les renang. Sekadar hobi dan mengisi waktu luang, belum tentu mendalami apalagi sampai mengarah ke profesi. Belum ada les masak atau fotografi, apalagi jurnalisme untuk kanak-kanak.

Kesimpulan saya, anak-anak sekarang seperti diarahkan lebih dini untuk mengenal dunia kerja dan industri. Maka tidak heran ketika seorang cewek kelas 3 SMP ditanya tentang masa depan, dia dengan mantap menjawab, “Aku tuh mau jadi businesswoman, lalu masuk partai, terus mencalonkan diri jadi presiden.” “Mau kuliah di mana?” “Di Cambridge.” :D Memang sih, omongan bisa jadi sekadar omongan, tapi dari omongan bisa terbayangkan sejauh mana fantasinya terpupuk dan cita-citanya tergantung. Beda dari angkatan saya, yang kebanyakan bercita-cita menjadi guru, polisi, dokter, insinyur. Ada sih satu dua teman yang ingin jadi presiden, tapi saya nggak yakin mereka dulu sudah kenal partai :D

Panduan Makan Pepaya

Posted by mpokb on 06 Jun 2011 | Tagged as: Kehidupan Bersama

 

Saya tak mengira suatu saat akan ada pepaya bermerek. Kalau pisang, memang sudah lama ada, terutama yang dibudidayakan di negara-negara Amerika Latin. Nah, untuk pepaya, seingat saya dulu hanya ada pepaya biasa dan pepaya bangkok. Lalu, sekitar 3 – 4 tahun terakhir, pepaya california mulai banyak menghiasi rak-rak buah di supermarket dan hipermarket.

Ketika tanaman buah menjadi produk agroindustri, mengharapkan buah matang pohon menjadi nyaris mustahil. Untuk mempermudah distribusi dan pemasaran, kebanyakan buah yang dipetik dan dijajakan adalah buah yang masih mengkal, harus disimpan dulu beberapa hari sebelum dikonsumsi. Konsumen harus percaya saja bahwa buah akan ranum dan manis. Tidak selalu berhasil. Beberapa kali saya membeli mangga dan avokad yang masih mengkal, akhirnya malah mengeras di luar tapi busuk di dalam dan tidak bisa dimakan. Ya, bisa jadi penyimpanannya yang salah.

Kesiapan produsen pepaya bermerek ini dengan mewanti-wanti konsumen sangat layak ditiru produsen lain untuk buah lain. Konsumen awam banyak yang tidak tahu cara memilih atau menyimpan buah yang benar, apalagi orang modern perkotaan yang tidak pernah hidup bersama pohon buah.

« Newer Entries - Older Entries »