Tas Bintang Merah Pemicu Protes

Posted by mpokb on 20 Mei 2009 | Tagged as: Asbun Bukan Aspal

Sumber gambar : dari sini

Pertimbangan apa yang Anda buat ketika membeli sebuah tas? Kalau saya sih, apa pun barangnya, cenderung memilih berdasarkan fungsi. Terus terang, saya kurang paham trend fesyen, tapi juga tidak menolaknya sejauh tidak mengganggu kenyamanan sehari-hari. Begitu pula ketika saya membeli tas kurir ini. Ukurannya pas, warnanya pas, modelnya apalagi, banyak kantong sisipan untuk pernak-pernik. Ketika pertama kali melihatnya, saya langsung jatuh cinta. Pada modelnya, juga pada harganya yang “cuma” Rp. 75.000. Alasan ketertarikan terhadap tas ini sulit dijelaskan. Bagaimana menjelaskan selera seseorang?

Saya lupa tempo hari mau googling apa, ternyata yang ketemu malah berita basi ini. Tentang Cameron Diaz yang mendapat kritik pedas lantaran muncul di Peru sambil mengenakan tas bermodel serupa. Di Peru, perang saudara yang melibatkan kelompok Maois Sendero Luminoso (“Jalan Terang”) telah menewaskan dan menghilangkan sekitar 70.000 orang. Tidak heran kalau Nona Diaz yang datang ke Peru untuk promosi film dianggap tidak sensitif dan melukai hati keluarga para korban. Kisah selanjutnya, Nona Diaz pun minta maaf secara resmi dan menyatakan tidak bermaksud apa-apa dengan mengenakan tas yang dibelinya ketika melancong ke RRC itu. Yah, dasar Nona Diaz sedang apes.

Lantas, apakah setelah membaca berita itu, saya jadi urung mengenakan tas ini? Bintang merah. Tulisan dalam aksara Cina yang berarti “Melayani Rakyat”. Dalam hal ini, saya anggap si bintang merah dengan sendirinya sudah melayani rakyat dengan menjadi ikon yang bisa diperjualbelikan. Konsumen kebanyakan semacam saya, yang “tahu” tapi “tidak tahu”, sebetulnya tidak berharap lebih dari sebuah tas selain fungsinya sebagai pemenuhan atas kebutuhan dan selera. Perempuan Hong Kong yang melayani saya di tokonya tentu tidak peduli apa ideologi pembeli barang-barang bergambar bintang merah atau Ketua Mao, bahkan tidak peduli si pembeli berasal dari mana selama mereka membayar dengan mata uang yang dikenalnya, yaitu dolar Hong Kong.

Tidakkah saya peduli pada korban yang jatuh akibat sekelompok orang yang membabi buta membela ideologi? Haruskah saya takut dianggap mendukung sesuatu yang oleh sebagian kalangan dianggap berbahaya? Saya justru heran, kalau kita merasa yakin akan sesuatu yang menjadi pegangan hidup, mengapa harus takut pada sesuatu yang tidak sama dengan keyakinan kita? Lagi pula, dari semuanya itu, apa hubungannya dengan tas saya? Akan jadi aneh kalau tiba-tiba sebuah komoditas, barang seharga 75 ribu perak, dianggap mewakili ideologi seseorang. Bagaimana pendapat Anda? Ada yang punya tas bergambar Burung Garuda?

Mimpi Idilis

Posted by mpokb on 14 Mei 2009 | Tagged as: Tak Berkategori

 

Mimpi idilis saya tidak selamanya menjadi mimpi. Kadang mereka terwujud dalam kehidupan saya, dan ketika sedang beruntung, saya akan bisa merekam dan mengenangnya. Atau, jangan-jangan memang kehidupan itu sendiri merupakan serangkaian mimpi idilis? Dan saya terbangun di pagi hari dari satu mimpi ke mimpi lainnya? Entahlah. Kadang saya pikir, pembatasan-pembatasan semacam itu hanya mempersulit diri sendiri saja :)

Prangko Seri Caleg

Posted by mpokb on 01 Mei 2009 | Tagged as: Tak Berkategori

 

Sejak prangko bergambar foto diri diluncurkan beberapa tahun lalu, pernahkah Anda coba membuatnya? Sungguh perkembangan yang luar biasa, karena ketika prangko mulai beredar pada pertengahan abad ke-19, yang bisa muncul di prangko hanyalah kepala negara seperti para raja, ratu atau presiden. Saya tidak tahu persis berapa harga selembar prangko bergambar foto diri seperti yang dibuat oleh nyonya caleg di atas. Jangankan membeli prangko, surat-menyurat via pos saja sudah tidak pernah. Terakhir kalinya mungkin sekitar 10 tahun yang lalu, dan lebih sering untuk kirim lamaran :D

Siapa tahu, pembuatan prangko berfoto diri oleh caleg akan menjadi trend dalam pemilu-pemilu berikutnya? Bukan tidak mungkin, setiap 5 tahun sekali akan beredar “prangko versi caleg”. Filatelis bakal perlu album prangko dalam jumlah besar :)

Menghimpun Suara dengan Suara

Posted by mpokb on 02 Apr 2009 | Tagged as: Asbun Bukan Aspal

Ada banyak cara untuk meraih cita-cita. Ketika teknologi dan peluang dimanfaatkan melalui kreativitas, bukan tidak mungkin harapan terwujud menjadi kenyataan. D’Bus yang ini tidak sama dengan debus asal Banten, meskipun keduanya bisa dibilang sama-sama produk budaya. Dengan harapan bisa menjadi bintang, D’Bus mengajak khalayak memilih mereka untuk bisa tampil sebagai finalis di 10 besar kompetisi “Wanna Be Star 2″ yang diadakan sebuah TV/Radio lokal Bogor.

Selama menjadi penglaju Bogor – Jakarta dengan menumpang bus, saya tidak tahu apakah pernah bertemu dan mendengarkan musik mereka. Ada begitu banyak pengamen antarkota yang bergantian menemani perjalanan Bogor – perempatan UKI, Cawang, Jakarta Timur. Tidak sedikit yang benar-benar bisa bermusik dan bernyanyi :)

Selebaran yang dibagikan kepada para penumpang angkutan umum ini diharapkan bisa meningkatkan perolehan suara mereka supaya gol menjadi finalis. Ya, sejak kemunculan American Idol, ada banyak kontes yang menggunakan pengumpulan suara seperti ini. Seleksi kemampuan ada di awal, selanjutnya lebih tergantung pada para penonton. Demokratis? Belum tentu, karena setiap orang boleh mengirimkan SMS lebih dari sekali. Akan tetapi, sebagai usaha untuk mengubah nasib, keuletan dan kreativitas grup ini dengan mencetak dan membagikan selebaran memang layak dikasih aplaus.

PS : Thanks, Tia!

« Newer Entries - Older Entries »