Prangko Seri Caleg

Posted by mpokb on 01 Mei 2009 | Tagged as: Tak Berkategori

 

Sejak prangko bergambar foto diri diluncurkan beberapa tahun lalu, pernahkah Anda coba membuatnya? Sungguh perkembangan yang luar biasa, karena ketika prangko mulai beredar pada pertengahan abad ke-19, yang bisa muncul di prangko hanyalah kepala negara seperti para raja, ratu atau presiden. Saya tidak tahu persis berapa harga selembar prangko bergambar foto diri seperti yang dibuat oleh nyonya caleg di atas. Jangankan membeli prangko, surat-menyurat via pos saja sudah tidak pernah. Terakhir kalinya mungkin sekitar 10 tahun yang lalu, dan lebih sering untuk kirim lamaran :D

Siapa tahu, pembuatan prangko berfoto diri oleh caleg akan menjadi trend dalam pemilu-pemilu berikutnya? Bukan tidak mungkin, setiap 5 tahun sekali akan beredar “prangko versi caleg”. Filatelis bakal perlu album prangko dalam jumlah besar :)

Menghimpun Suara dengan Suara

Posted by mpokb on 02 Apr 2009 | Tagged as: Asbun Bukan Aspal

Ada banyak cara untuk meraih cita-cita. Ketika teknologi dan peluang dimanfaatkan melalui kreativitas, bukan tidak mungkin harapan terwujud menjadi kenyataan. D’Bus yang ini tidak sama dengan debus asal Banten, meskipun keduanya bisa dibilang sama-sama produk budaya. Dengan harapan bisa menjadi bintang, D’Bus mengajak khalayak memilih mereka untuk bisa tampil sebagai finalis di 10 besar kompetisi “Wanna Be Star 2″ yang diadakan sebuah TV/Radio lokal Bogor.

Selama menjadi penglaju Bogor – Jakarta dengan menumpang bus, saya tidak tahu apakah pernah bertemu dan mendengarkan musik mereka. Ada begitu banyak pengamen antarkota yang bergantian menemani perjalanan Bogor – perempatan UKI, Cawang, Jakarta Timur. Tidak sedikit yang benar-benar bisa bermusik dan bernyanyi :)

Selebaran yang dibagikan kepada para penumpang angkutan umum ini diharapkan bisa meningkatkan perolehan suara mereka supaya gol menjadi finalis. Ya, sejak kemunculan American Idol, ada banyak kontes yang menggunakan pengumpulan suara seperti ini. Seleksi kemampuan ada di awal, selanjutnya lebih tergantung pada para penonton. Demokratis? Belum tentu, karena setiap orang boleh mengirimkan SMS lebih dari sekali. Akan tetapi, sebagai usaha untuk mengubah nasib, keuletan dan kreativitas grup ini dengan mencetak dan membagikan selebaran memang layak dikasih aplaus.

PS : Thanks, Tia!

Politikus Mestinya Ngeblog

Posted by mpokb on 18 Mar 2009 | Tagged as: Asbun Bukan Aspal

Di televisi kadang ada temu wicara atau debat terbuka para politikus dari partai. Biasanya pemandu acara akan mengemukakan sebuah topik, kemudian masing-masing kubu menyampaikan pendapatnya. Entah sejauh mana acara semacam ini menarik minat penonton. Kadang ada saja satu dua penonton yang merelakan pulsa untuk ikut nimbrung, kasih komentar via telepon.

Dalam acara berdurasi 1 jam, kerap diselingi iklan, tentu saja penonton hanya bisa menilai kapasitas si politikus secara sekilas. Itu pun sebatas pada topik yang dikemukakan. Kadang keterbatasan waktu mengharuskan moderator sudah harus menyela ketika salah satu orang masih semangat berbicara.

Saya ingat, menjelang Pemilu 1999, banyak orang terpikat pada tokoh-tokoh baru yang berbunga-bunga kalau bicara, meniupkan hawa surga pada rakyat yang kebingungan. Banyak pahlawan baru, satu lebih menonjol dari yang lain, meskipun belakangan terlihat juga plin-plan dan belangnya. Para pahlawan harapan bangsa ini tampil dengan simpatik di tivi, dielu-elukan seperti idola baru. Kamera menyukai mereka, penonton menunggu-nunggu idola mereka ditayangkan di tivi. Disadari maupun tidak, disengaja maupun tidak, politik telah menjadi bagian dari industri hiburan. 

Tidak semua politikus pandai berbicara, ternyata. Ada yang lebih suka diam saja, memancing rasa penasaran dan celetukan orang-orang usil. Mestinya orang-orang usil itu ingat bahwa Bung Hatta yang tidak begitu banyak bicara adalah seorang pemikir cemerlang. Dan mestinya orang-orang penasaran itu maklum bahwa tidak semua orang lancar berbicara sambil berpikir. Saya tidak tahu, yang lebih suka diam itu termasuk yang mana. Kalau diamati, banyak politikus lebih suka diam-diam saja ketika muncul isu sensitif, karena salah bicara sedikit saja bisa membahayakan posisinya. Perlu dicatat bahwa seorang Barack Obama bahkan sempat terdiam beberapa lamanya di tengah konferensi pers ketika ditanya pendapatnya tentang Iran. Jadi, pandai berdebat di depan publik memang membuat seorang politikus terlihat hebat, tapi tidak selalu memberi kesempatan bagi rakyat untuk menilai sikapnya dalam isu tertentu.

Ketimbang menilai dari ucapan di depan kamera, saya kok rasanya lebih sreg kalau bisa membaca isi kepala para politikus itu secara menyeluruh dalam bentuk tulisan. Supaya tidak hanya mereka yang pandai bicara saja yang dianggap layak jadi politikus, yang merasa bisa mengelola negara sesuai janji. Bagaimana caranya? Ya, menulis saja di koran, atau kalau kolom sekian banyak koran sudah penuh, menulis saja di blog. Lalu, biarkan pengunjung blog menyampaikan komentar, supaya terlihat bahwa politikus tersebut mau menerima umpan balik dari konstituen, bukan sekadar menghimpun suaranya dalam pilkada maupun pemilu. Anak-anak saja banyak yang ngeblog, masak sih politikus tidak mampu?

Ajang Pamer, Masa?

Posted by mpokb on 10 Mar 2009 | Tagged as: Asbun Bukan Aspal, Percobaan gituh

Seorang teman bertanya-tanya, mengapa di Facebook banyak orang memasang foto diri ketika sedang di luar negeri. Dia merasa tidak sreg ketika Facebook seolah-olah digunakan oleh banyak orang sebagai ajang pamer, bahwa orang tersebut pernah melanglang buana. Bahkan lebih keras lagi, mengatainya bermental inlander, membanggakan sesuatu yang berasal dari negara lain.

Di waktu lain di atas bus, saya mendengar omongan dua orang remaja tentang blog dan Friendster. Salah seorang mengaku punya akun Friendster, tapi tidak ngeblog. Menurutnya, blog adalah tempat para narsis yang berperilaku narsisis, sehingga menjadi penganut narsisisme… Hayah, yang terakhir itu saya tambahkan sendiri, untuk membedakan ketiga kata yang sering disalahpahami tersebut.

Saya jadi bingung mendengar pendapat remaja itu. Sebagai orang yang hobi ngeblog, alasan pertama saya sewaktu membuat blog bukan untuk jadi narsis, tapi karena ingin belajar menulis. Walaupun akhirnya menulis saya yah.. begini-begini saja, tetapi paling tidak saya berlatih untuk membuat kalimat yang enak dibaca. Semakin lama berusaha membuat kalimat berbahasa Indonesia yang baik, ternyata saya justru saya semakin tahu bahwa bahasa Indonesia tidak semudah yang saya kira. Walhasil saya semakin bingung :P . Oh ya, saya Juga perlu blog untuk menampung uneg-uneg yang kalau diomongkan bisa jadi polusi suara bagi orang lain. Daripada mengusik orang lain yang tidak mau mendengarkan, lebih baik saya curahkan saja isi kepala lewat tulisan. Kalau orang lain rela, boleh berkomentar. Kalau tidak suka, cukup menutup blog saya :D

Nah, Friendster yang tadinya hanya berupa situs jejaring pertemanan, kemudian malah ikut membikin fitur blogging. Saya tidak tahu, apakah si mahasiswa tadi akhirnya malah ketagihan ngeblog. Saya harap sih, iya, supaya uneg-unegnya di atas bus itu bisa tersalurkan dengan mobile blogging dan tidak membikin polusi suara untuk penumpang lain :D

Lalu, apa hubungannya pasang foto diri di luar negeri pada akun Facebook dengan kegemaran ngeblog? Menurut pengamatan saya yang sekenanya, situs pertemanan semacam Facebook, Friendster maupun blog, selain sebagai ajang sosialisasi, ternyata bisa sekaligus menjadi pemenuh kebetuhan seseorang untuk memperolah pengakuan dari orang lain, dalam hal apa saja. Apa ada orang yang tidak mau keberadaan dirinya diakui oleh orang lain? Mungkin ada, tapi jarang. Atau ada, tapi malu-malu meskipun mau juga.

Berusaha untuk diakui maupun membuat orang lain terkesan bukanlah kejahatan. Tapi, seperti yang pernah saya tonton di salah satu episode Oprah Winfrey, kadang kita berbuat berlebihan untuk membuat orang lain terkesan, padahal kita belum tentu mengenalnya, juga belum tentu menyukainya. Jadi, kita seakan-akan melakukan sesuatu yang percuma dan merugikan diri sendiri. Lain halnya kalau Anda melakukannya demi kesenangan sendiri. Kalau orang lain ikut senang, tentu baik. Kalau orang lain susah, belum tentu juga buruk, karena kriteria baik atau buruk kadang samar-samar. Memangnya kita robot?

Di blogosfer, pembahasan tentang kecenderungan sikap pamer (tolong bedakan dengan berbagi info, misalnya tentang perjalanan ke suatu tempat atau kunjungan ke sebuah resto) dan narsisis sudah lama berlalu. Akan tetapi, dengan semakin panasnya demam Facebook belakangan ini, topik itu seakan menghangat di luar blogosfer. Seorang facebooker bertanya, apakah kebutuhan seseorang untuk dilihat orang lain di dunia maya itu lantaran dia tidak bahagia di dunia nyata? Saya tidak tahu, dan tidak mau menghakimi, karena saya sendiri tidak suka diperlakukan begitu. Yang saya tahu, manusia punya satu sifat yang tidak dimiliki oleh makhluk hidup lain, yaitu iseng. Ya. Terpikirkah oleh Anda, bahwa yang dilakukan seseorang di internet mungkin bukan didasarkan atas alasan tertentu, melainkan sekadar iseng? Sekadar ingin memancing reaksi orang lain? Coba saja Anda jalan-jalan ke mal. Setiap orang punya kebutuhan untuk melihat dan dilihat, karena… Saya tidak tahu. Kalau menurut Anda, karena apa?

Omong-omong, setelah ngeblog beberapa saat dan bertemu langsung dengan sejumlah blogger, saya tidak lagi sepenuhnya membedakan kehidupan nyata dan maya. Pertama, karena saya tahu, orang yang berinteraksi dengan saya di blogosfer selama ini benar-benar ada. Kalaupun ada identitas palsu (bukan sekadar alias, tapi benar-benar menyamar, misalnya), saya akan menganggap orang itu sedang berlatih menulis fiksi :D . Kedua, yang namanya manipulasi bisa ada di mana saja. Ketiga, kalau segala hal yang terlihat nyata Anda anggap sebagai kebenaran sejati, maka sebaiknya kata “bohong” dihapus dari kamus. Keempat, kriteria bahagia ditentukan oleh seseorang sebagai subjek, bukan oleh orang lain. Kelima, silakan berinterpretasi :D

« Newer Entries - Older Entries »