Bangsa Terbahagia

Posted by mpokb on 04 Apr 2011 | Tagged as: Kehidupan Bersama

Meskipun Universitas Leicester, Inggris, sudah bertahun-tahun mengadakan survey, tapi baru kali ini saya tahu bahwa bangsa Denmark adalah bangsa paling bahagia menurut survey tersebut. “Oprah Show” adalah salah satu tayangan yang pernah mengangkat topik ini, dan Oprah Winfrey sendiri melihat langsung sekilas seperti apa kehidupan sehari-hari masyarakat paling bahagia di dunia.

Mungkin agak di luar dugaan kita, ternyata kehidupan keluarga kebanyakan di ibu kota Denmark, Kopenhagen, tidak bisa dibilang mewah. Mereka tidak berkekurangan, tapi juga tidak berkelimpahan seperti bayangan kebanyakan orang tentang “hidup bahagia”. Fakta yang ditemukan Oprah ketika berkunjung ke Denmark adalah :

1. Penduduk Denmark membayar pajak tertinggi di dunia, sekitar 50% – 70% dari penghasilan. Tingkat kepercayaan pada pemerintah harus tinggi, percaya tidak akan dikorupsi :)

2. Apabila seseorang kehilangan pekerjaan dan tidak berpenghasilan, pemerintah akan memberi tunjangan yang besarnya hingga 90% gajinya, sampai dia mendapatkan pekerjaan lagi atau maksimal 4 tahun. Bayangkan, sampai 4 tahun menganggur tapi tetap terima gaji. Manusiawi sekali..

3. Biaya kesehatan gratis. Di sini obat Askes juga bisa gratis sih, tapi antrean dan keruwetan administrasinya itu lho…

4. Pendidikan dasar gratis.

5. Kalau mau berkuliah, anak akan diberi tunjangan kuliah $ 400 atau $ 500 per bulan.

6. Cuti melahirkan bagi wanita adalah 1 tahun, tetap digaji.

7. Kebanyakan orang Denmark pulang bekerja pukul 16.00 – 17.00 setiap hari. Nggak ada lembur atau begadang? Enak sekali, ya? Waktu luang untuk mengerjakan hal-hal selain pekerjaan masih ada, orang tua masih bisa bertemu lama dengan anak mereka sebelum waktu istirahat malam. Ada keseimbangan antara bekerja dan menjalani sisi hidup lain.

8. Sepeda adalah kendaraan utama yang banyak dipakai untuk kegiatan sehari-hari seperti bekerja, berbelanja dan lain-lain. Lha iyalah. Kesejahteraan kan tidak identik dengan punya kendaraan bermotor. Kalaupun punya, juga tidak harus dipakai setiap hari. Apalagi di negeri yang harga BBM-nya relatif mahal.

9. Lemari es mereka kecil, sehingga lebih banyak mengonsumsi makanan segar yang tidak perlu disimpan berlama-lama.

10. Dengan luas rumah yang terbatas (tapi tidak ada tunawisma), keluarga tidak bisa punya terlalu banyak barang. Hidup mereka terkesan bergaya minimalis, tidak direpotkan penyimpanan barang.

Ketika Oprah menyinggung bahwa Denmark adalah negara demokrasi yang menganut pandangan sosialis, seorang narasumber wanita Denmark berkata, tidak selalu berpikiran begitu. Bagi orang luar mereka mungkin dilabeli “sosialis”, tapi mereka menganggapnya “beradab”. Merawat orang tua dan orang sakit, menjamin semua orang terdidik melalui pendidikan dasar gratis, itulah yang membuat sebuah negara disebut beradab. Yang dihasilkan adalah masyarakat yang sehat dan terdidik.

Sekarang Anda paham kan, kenapa bangsa Denmark disebut sebagai bangsa paling bahagia di dunia?

Sumber : “The Oprah Show” episode #102109 “Oprah on Location : The Happiest People on Earth”

Kupon Tipuan (Lagi)

Posted by mpokb on 17 Mar 2011 | Tagged as: Kehidupan Bersama

Yang seperti ini sudah ada sejak lama, dan entah sudah berapa orang yang tertipu. Beberapa waktu lalu pernah ada juga yang melemparkan kupon seperti di atas ke pelataran rumah, dengan mencatut merek sabun cuci piring Sunlight. Ukuran kupon di atas hanya sebesar prangko, tapi di sini saya perbesar supaya jelas.

Berhati-hatilah dan ingatkan semua penghuni rumah kalau-kalau menerima kiriman kupon macam ini. Persaingan mencari nafkah semakin ketat, dan penyalahgunaan teknologi kian marak, termasuk untuk berbuat kriminal. Yah, untuk hidup nyaman dan aman di negeri dengan banyak ketidakpastian ini, kita tidak selalu bisa menyerahkan tanggung jawab dan pasrah sepenuhnya kepada hukum dan pihak yang berwenang. Tetap lebih baik menjaga kewaspadaan masing-masing :)

Kisah Bangunan Tua (dalam Posting)?

Posted by mpokb on 29 Jan 2011 | Tagged as: Kehidupan Bersama

Buku “Hundert Haeuser Hundert Tafeln” (“Seratus Rumah Seratus Papan Nama”) ini memuat kumpulan kisah di balik seratus bangunan tua di sebuah kota kecil bernama Goettingen, Niedersachsen, Jerman. Meskipun buku ini terhitung tipis dan ringkas, namun penyusunannya memerlukan waktu tujuh tahun. Penelusuran sejarah terhadap satu bangunan memang tidak semudah yang kita bayangkan, kadang usaha yang dilakukan sama mengagumkannya dengan kisah tentang bangunan itu sendiri.

Goettingen memang “kota universitas” yang unik. Menurut sejarah, banyak sekali budayawan dan ilmuwan termasyhur Jerman pernah tinggal dan berkarya di sana, antara lain Grimm Bersaudara, Carl Gauss,  Max Planck dan Robert Koch. Kota ini pun jadi semacam museum hidup, dengan berbagai sudut yang menyimpan pesona dan legendanya masing-masing. Dengan sendirinya, banyak hal yang bisa ditampilkan untuk tujuan pariwisata, tanpa perlu mencari-cari sesuatu yang artifisial dan asing bahkan bagi warga Goettingen sendiri.

Setiap kota menyimpan keunikan masing-masing. Selain Bandung, Yogyakarta, Denpasar, Solo atau Surabaya, masih banyak kota di negeri kita yang punya keunggulan semacam itu, namun belum begitu terlihat. Ah, tentu saja akan sulit membicarakan pengembangan pariwisata di sebuah kota tanpa memikirkan dampak sosialnya, belum lagi benturan budaya yang terjadi antara tamu dengan warga setempat. Maka kita bisa maklum ketika berkunjung ke sebuah kota yang sebetulnya indah, namun seperti dibiarkan tak terurus, karena memang tidak pernah diseriuskan untuk menjadi tujuan wisata.

Kembali ke kisah tentang bangunan tua. Sudah adakah yang membuat buku atau kumpulan kisah tentang bangunan-bangunan tua di kota Anda? Kalau belum, kisah subjektif sekalipun dengan sudut pandang seorang blogger, buat saya tetap menarik. Bisa jadi ingatan Anda dan ingatan teman Anda tentang sebuah gedung bioskop tua atau bangunan bekas sekolah tidak sama. Terlepas dari mana yang lebih mendekati fakta, semua itu akan tetap memperkaya khazanah sejarah kota Anda sendiri, dan bisa menjadi rujukan bagi “orang luar”. Tentu, sebelum semua kota kita kelak kehilangan identitas dan keunikan, lantas menjadi seragam dengan hiasan bangunan restoran, bioskop, hipermarket dan toko grosir yang serupa atau bahkan itu-itu saja. Bukankah saat ini pun mimikri kota sudah mulai terjadi?

Foto :  ”Hundert Haeuser Hundert Tafeln” (Der Geschichtsverein fuer Goettingen und Umgebung e.V. & der Fremdenverkehrsverein e.V., Goettingen, 1998).

Cakue Bandung dari Gang City

Posted by mpokb on 18 Jan 2011 | Tagged as: Pemanja Lidah

Mengusung nama kota lain untuk makanan, baik khas maupun tidak, sudah sejak lama menjadi salah satu taktik dagang yang paling banyak dipakai. Misalnya “cakue Bandung” ini. Meskipun dijual di Bogor, dan di Bogor sendiri banyak penjaja cakue, penambahan kata “Bandung” mungkin diharap akan lebih menarik pembeli.

Gerobak cakue Bandung ini sudah lama ada, seingat saya pada awal tahun ’80-an pun sudah ada. Tapi, karena jarang beli di sana, saya kurang tahu apakah penjualnya dari dulu itu-itu saja atau diteruskan oleh orang lain.

Meskipun nama jalan tempat gerobak cakue ini mangkal sudah diganti menjadi Jalan Ranggagading, namun kertas pembungkus cakue tetap menerakan alamat “Gang City”, diambil dari bioskop “City Theatre”, khusus film-film Mandarin, yang berdiri di ujung jalan tersebut. Bioskop City pun akhirnya tutup, seiring masuknya jaringan bioskop 21 ke Bogor.

Setahu saya, cakue selalu dijual bersamaan dengan “kue bantal”, di Bogor disebut “odading”, versi manis dari cakue yang berbentuk kotak gembung. Untuk bahan-bahan pembuatnya, silakan googling ya :D

Harga cakue pada tahun ’80-an adalah Rp 50, sudah lengkap dengan kuah kacang yang pekat. Saat itu gaji bulanan seorang peneliti perkebunan sekitar Rp 500.000. Cukup untuk membeli 10.000 potong cakue. Bandingkan dengan harga cakue yang saat ini berkisar antara Rp 800 – Rp 2.000 per buah, itu pun dengan kuah kacang yang encer. Apakah gaji peneliti sekarang dalam kisaran Rp 8 juta – 20 juta per bulan? Saya tidak tahu. Ini cuma hitung-hitungan naif anak SD, di luar inflasi dan lain-lain.

Nah, kalau ada kesempatan ke Bogor, Jawa Barat, silakan coba cakue Bandung yang ini. Cari alamatnya tidak sulit, karena mulut Gang City alias Jalan Ranggagading itu terletak di kawasan niaga Jalan Suryakencana, amat sangat dekat dengan Pasar Bogor dan Kebun Raya, tetenger si Kota Hujan.

« Newer Entries - Older Entries »