Gerakan Mitra Bercahaya

Posted by mpokb on 16 Des 2010 | Tagged as: Kehidupan Bersama

Meneruskan surat elektronik dari Mitra Netra. Silakan diteruskan lagi supaya lebih banyak orang yang bisa berpartisipasi, yaaa.. Terima kasih, teman-temin :)

————————————————————————

Apa dan Bagaimana Mitra Bercahaya

Perpustakaan khusus untuk tunanetra di Yayasan Mitra Netra adalah lokomotif yang menarik 35 gerbong perpustakaan Sekolah Luar Biasa di seluruh Indonesia dengan kurang lebih 2000 siswa tunanetra di dalamnya. Setiap tahun, para siswa tunanetra dapat menikmati bacaan dari 1.500 buku berbentuk CD audio dari perpustakaan ini. Untuk wilayah Jabodetabek sendiri, setiap tahun lokomotif ini melayani sekitar 1.000 tunanetra yang meminjam lebih dari 4.000 judul buku yang tersedia. Tidak hanya itu, lokomotif ini pun menjadi saksi bisu curahan cinta para sukarelawan yang membacakan buku dan merekam suara mereka untuk para tunanetra; sekitar 300 judul buku audio dihasilkan oleh para sukarelawan ini setiap tahunnya.

Namun, lokomotif dengan luas 56 m2 yang telah berusia 10 tahun itu kini sudah tak layak lagi disebut perpustakaan. Dia lebih pantas disebut gudang; dindingnya telah retak, atapnya bocor parah, awning halaman depan perpustakaan itu pun sudah pernah ambruk. Padahal, di dalamnya tersimpan 3.184 judul buku bicara analog (kaset), 1.413 judul buku bicara digital (CD), dan 1.305 judul buku Braille. Semua itu adalah cahaya ilmu dan pengetahuan yang begitu limpah ruah bagi para tunanetra Indonesia.

Oleh karena itu, agar para tunanetra dapat terus memperoleh informasi dan pengetahuan melalui buku demi kelangsungan masa depan mereka, kami mengundang Anda untuk berpartisipasi dalam Gerakan Mitra Bercahaya.

Apakah Gerakan Mitra Bercahaya itu?

Gerakan Mitra Bercahaya adalah sebuah gerakan penggalangan dana yang diadakan oleh Yayasan Mitra Netra untuk mengajak Anda bergotong-royong merehabilitasi dan memperluas gedung perpustakaan khusus bagi tunanetra di Yayasan Mitra Netra.

Gerakan penggalangan dana dilaksanakan mulai tanggal 10 Nopember 2010 sampai 2 Mei 2011. Sedangkan pembangunan rehabilitasi dan perluasan perpustakaan yang diperkirakan akan memakan biaya sebesar Rp 300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah) akan dimulai pada bulan Mei 2011.

Diharapkan, 3 bulan berikutnya, gedung perpustakaan Yayasan Mitra Netra yang baru seluas 200 m2 sudah berdiri, siap melayani para tunanetra di seluruh Indonesia dengan lebih baik lagi.

Pengiriman donasi dilakukan dengan sistem per paket. Setiap donatur dapat mengirimkan donasinya sebanyak minimal 1 paket Rp. 300.000,- (tiga ratus ribu rupiah).

Silakan kirim donasi Anda ke:

Bank Mandiri, Cabang Bona Indah, nomor rekening 101-000-210-7942

BCA, KCP Bona Indah, nomor rekening 6080-279-441

atas nama Yayasan Mitra Netra.

Harap informasikan jumlah paket donasi yang sudah Anda kirimkan melalui email ke mitrabercahaya@yahoo.co.id atau fax ke 021-7655264. Untuk mengetahui perkembangan besarnya dana yang sudah terkumpul, silakan berkunjung ke Daftar Donasi Mitra Bercahaya.

Ayo ambil bagian dalam Gerakan Mitra Bercahaya! Jadilah mitra yang berbagi cahaya untuk para tunanetra!

Untuk keterangan lebih lanjut, silakan hubungi:

Yayasan Mitra Netra

Jl. Gunung Balong II No.58

Lebak Bulus III, Jakarta 12440

Tel: 021.7651386, Fax: 021.7655264

Email: office@mitranetra.or.id

Website: www.mitranetra.or.id

Buku Wayang dan Wanita

Posted by mpokb on 30 Nov 2010 | Tagged as: Hiburan

Kemarin buku ini tak sengaja saya temukan di loteng. Cocok untuk menambah koleksi 1000 Buku untuk Tunanetra. Kebetulan juga saya belum baca, hehe. Isinya tentang wayang (ya iya lah), terutama tokoh perempuan di dunia pewayangan. Memang paling asyik membicarakan seluk-beluk perempuan, apa pun jenis kelamin si pembicara. Bahkan meskipun nasib kaum perempuan sekarang secara keseluruhan hanya sedikit membaik kalau tidak makin terpuruk dibandingkan dengan zaman kakek nenek kita, wacana tentang perempuan akan selalu menarik untuk digulirkan dalam berbagai diskusi, seminar dan penelitian. Termasuk antara lain penelitian tentang keperawanan perempuan yang sering kali diulang itu. Penting banget, kan?

Nah, di buku ini diuraikan berbagai karakter perempuan di dunia pewayangan yang cenderung multitafsir dan banyak metafora itu. Di situlah asyiknya wayang. Penyimak mendapat keleluasaan untuk menyarikan sendiri hikmah di balik kisah-kisahnya. Saya sendiri kurang paham cerita wayang, karena hanya membaca sedikit-sedikit dari komik dan cerita-cerita pendek. Novel “Mahabharata” yang pernah saya baca pun konon hanya versi ringkas dari kisah sesungguhnya :)

Tak Ada Belahan Dada di Bahasa Indonesia

Posted by mpokb on 22 Nov 2010 | Tagged as: Hiburan, Kehidupan Bersama

Bahasa Indonesia yang kita kenal sekarang menyerap kosa kata dari berbagai bahasa daerah di Tanah Air, juga bahasa-bahasa lain yang dibawa oleh para “pendatang” antara lain dari Cina, Arab, India, Portugis, Belanda dan Inggris. Perumusan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan tidak lepas dari perjuangan bangsa untuk bersama-sama melepaskan diri dari belenggu penjajah.  Maka, meskipun ada sekitar 500 bahasa daerah di seluruh Nusantara, semua suku bersepakat memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, meninggalkan ke-”aku”-annya demi menjadi bangsa Indonesia yang berjati diri baru. Peristiwa monumental ini memuncak pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Berdasarkan usianya saja, yang baru ditetapkan sebagai bahasa nasional pada tahun 1928, sebetulnya sudah terlihat “kemudaan” bahasa kita. Bahasa Arab dan bahasa Inggris, sebagai pembanding saja, sudah dipakai sejak abad ke-5 SM. Mungkin karena relatif masih muda, kosa kata bahasa Indonesia sering kali terasa kurang lengkap ketika terjadi alih bahasa. Jangankan padanan istilah baru yang muncul dalam bahasa asing, untuk istilah lama pun bahasa kita tercinta ini masih ‘bolong-bolong’. Salah satu contohnya disinggung dalam posting Paman Tyo yang ini, tentang tiadanya padanan bahasa Indonesia untuk kata “cleavage“.

Dalam Kamus Inggris – Indonesia yang disusun J.M. Echols dan Hassan Shadily, “cleavage” sebagai kata benda punya tiga penjelasan : 1. perpecahan, 2. pembelahan dan 3. potongan leher baju yang dalam/rendah. Sedangkan, dalam kamus Oxford, “cleavage” punya empat penjelasan : 1. sharp division; a split, 2. the cleft between a woman’s breast, 3. cell division, especially of a fertilized egg cell, 4. the splitting of rocks or crystal in a preferred plane or direction. Penjelasan ketiga dan keempat di Kamus Oxford menempatkan “cleavage” bukan sebagai istilah umum, bahkan sangat teknis. Adalah penjelasan kedua yang menarik buat saya, karena sebetulnya ini istilah sehari-hari, namun tak ada padanannya dalam bahasa Indonesia.

Cleavage” yang berarti “belahan dada”, bukan sesuatu yang langka dalam budaya Indonesia. Baju tradisional perempuan Indonesia di banyak daerah dikenakan seperti kemben*, kain yang dikenakan dengan cara melilitkannya pada badan sampai sebatas ketiak, hingga memperlihatkan separuh dada bagian atas (“decollette“, yang juga tidak ada padanannya). Cara mengenakan kain seperti ini, tentu saja karena umumnya baju tradisional (yang terbuka) hanya terdiri atas kain panjang tanpa jahitan. Saya tidak tahu apa bahasa daerah, misalnya Jawa atau Sunda, dari “belahan dada”. Jangan-jangan belahan dada memang dianggap tidak penting dalam kebudayaan kita sampai tidak pernah punya istilah khusus?

Bagaimanapun, kita tetap bisa memakai “belahan dada” untuk menerjemahkan “cleavage“. Bahkan di artikel majalah wanita, misalnya, pemakaian kata “cleavage” tanpa diterjemahkan dianggap sudah lazim. “Buat apa diterjemahkan kalau pembaca ternyata malah bingung?” mungkin ringkasnya begitu. Inilah tantangan bagi penerjemah dan penyunting manakala harus menghemat jumlah karakter :P

*Dalam KBBI tidak ada “kemben“, tapi dodot ada.

Antrean Kurban Pemakan Korban

Posted by mpokb on 18 Nov 2010 | Tagged as: Kehidupan Bersama

Dari tahun ke tahun, masih ada saja antrean daging kambing kurban yang makan korban. Ada yang memar, nyaris pingsan, bahkan patah tulang. Tentu saja, pembagian daging kurban yang lancar tidak akan diberitakan. Seperti di dekat rumah saya yang menurut cerita seorang nenek yang cucunya ikut mengantre, tidak sulit. Sang cucu, bersama teman sebayanya, mengantre dengan kupon, lalu tangannya dicap sebagai tanda sudah mengambil bagian. Adapun pengantre yang tak punya kupon, kadang masih bisa mendapat bagian, tulang dengan sedikit daging, misalnya.

Menurut sang nenek, apabila dalam antrean terjadi kekacauan, biasanya itu karena pengantre tidak sabar. Ketidaksabaran bisa menular, apalagi kalau memang sudah mengantre sejak sehari sebelumnya. Itu pula yang diungkapkan petugas pembagian daging kurban di TV. Pengantre kurang sabar.

Hanya untuk daging seberat 200 – 250 gram, berebut masuk sampai jatuh terinjak-injak? Kalau mau dicari siapa yang salah, asal tunjuk memang mudah. Dalam kehidupan nyata, negeri ini seperti hutan rimba. Yang kuat makan yang lemah, yang lemah berebut sendiri, paling lemah dan tak punya akses, menerima sisa sambil bersyukur hari ini masih bisa bernapas.

« Newer Entries - Older Entries »