Tak Ada Belahan Dada di Bahasa Indonesia

Posted by mpokb on 22 Nov 2010 | Tagged as: Hiburan, Kehidupan Bersama

Bahasa Indonesia yang kita kenal sekarang menyerap kosa kata dari berbagai bahasa daerah di Tanah Air, juga bahasa-bahasa lain yang dibawa oleh para “pendatang” antara lain dari Cina, Arab, India, Portugis, Belanda dan Inggris. Perumusan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan tidak lepas dari perjuangan bangsa untuk bersama-sama melepaskan diri dari belenggu penjajah.  Maka, meskipun ada sekitar 500 bahasa daerah di seluruh Nusantara, semua suku bersepakat memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, meninggalkan ke-”aku”-annya demi menjadi bangsa Indonesia yang berjati diri baru. Peristiwa monumental ini memuncak pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Berdasarkan usianya saja, yang baru ditetapkan sebagai bahasa nasional pada tahun 1928, sebetulnya sudah terlihat “kemudaan” bahasa kita. Bahasa Arab dan bahasa Inggris, sebagai pembanding saja, sudah dipakai sejak abad ke-5 SM. Mungkin karena relatif masih muda, kosa kata bahasa Indonesia sering kali terasa kurang lengkap ketika terjadi alih bahasa. Jangankan padanan istilah baru yang muncul dalam bahasa asing, untuk istilah lama pun bahasa kita tercinta ini masih ‘bolong-bolong’. Salah satu contohnya disinggung dalam posting Paman Tyo yang ini, tentang tiadanya padanan bahasa Indonesia untuk kata “cleavage“.

Dalam Kamus Inggris – Indonesia yang disusun J.M. Echols dan Hassan Shadily, “cleavage” sebagai kata benda punya tiga penjelasan : 1. perpecahan, 2. pembelahan dan 3. potongan leher baju yang dalam/rendah. Sedangkan, dalam kamus Oxford, “cleavage” punya empat penjelasan : 1. sharp division; a split, 2. the cleft between a woman’s breast, 3. cell division, especially of a fertilized egg cell, 4. the splitting of rocks or crystal in a preferred plane or direction. Penjelasan ketiga dan keempat di Kamus Oxford menempatkan “cleavage” bukan sebagai istilah umum, bahkan sangat teknis. Adalah penjelasan kedua yang menarik buat saya, karena sebetulnya ini istilah sehari-hari, namun tak ada padanannya dalam bahasa Indonesia.

Cleavage” yang berarti “belahan dada”, bukan sesuatu yang langka dalam budaya Indonesia. Baju tradisional perempuan Indonesia di banyak daerah dikenakan seperti kemben*, kain yang dikenakan dengan cara melilitkannya pada badan sampai sebatas ketiak, hingga memperlihatkan separuh dada bagian atas (“decollette“, yang juga tidak ada padanannya). Cara mengenakan kain seperti ini, tentu saja karena umumnya baju tradisional (yang terbuka) hanya terdiri atas kain panjang tanpa jahitan. Saya tidak tahu apa bahasa daerah, misalnya Jawa atau Sunda, dari “belahan dada”. Jangan-jangan belahan dada memang dianggap tidak penting dalam kebudayaan kita sampai tidak pernah punya istilah khusus?

Bagaimanapun, kita tetap bisa memakai “belahan dada” untuk menerjemahkan “cleavage“. Bahkan di artikel majalah wanita, misalnya, pemakaian kata “cleavage” tanpa diterjemahkan dianggap sudah lazim. “Buat apa diterjemahkan kalau pembaca ternyata malah bingung?” mungkin ringkasnya begitu. Inilah tantangan bagi penerjemah dan penyunting manakala harus menghemat jumlah karakter :P

*Dalam KBBI tidak ada “kemben“, tapi dodot ada.

Antrean Kurban Pemakan Korban

Posted by mpokb on 18 Nov 2010 | Tagged as: Kehidupan Bersama

Dari tahun ke tahun, masih ada saja antrean daging kambing kurban yang makan korban. Ada yang memar, nyaris pingsan, bahkan patah tulang. Tentu saja, pembagian daging kurban yang lancar tidak akan diberitakan. Seperti di dekat rumah saya yang menurut cerita seorang nenek yang cucunya ikut mengantre, tidak sulit. Sang cucu, bersama teman sebayanya, mengantre dengan kupon, lalu tangannya dicap sebagai tanda sudah mengambil bagian. Adapun pengantre yang tak punya kupon, kadang masih bisa mendapat bagian, tulang dengan sedikit daging, misalnya.

Menurut sang nenek, apabila dalam antrean terjadi kekacauan, biasanya itu karena pengantre tidak sabar. Ketidaksabaran bisa menular, apalagi kalau memang sudah mengantre sejak sehari sebelumnya. Itu pula yang diungkapkan petugas pembagian daging kurban di TV. Pengantre kurang sabar.

Hanya untuk daging seberat 200 – 250 gram, berebut masuk sampai jatuh terinjak-injak? Kalau mau dicari siapa yang salah, asal tunjuk memang mudah. Dalam kehidupan nyata, negeri ini seperti hutan rimba. Yang kuat makan yang lemah, yang lemah berebut sendiri, paling lemah dan tak punya akses, menerima sisa sambil bersyukur hari ini masih bisa bernapas.

Pusat dan Daerah

Posted by mpokb on 28 Okt 2010 | Tagged as: Asbun Bukan Aspal, Kehidupan Bersama

Setelah membaca posting Blogombal yang ini, dan mengikuti info bencana dalam beberapa hari terakhir, saya jadi kepikiran sendiri. Bukan tentang Pesta Blogger atau bencananya, melainkan tentang masih bercokolnya dikotomi “pusat – daerah” di benak kita, orang Indonesia. Kalau boleh ikut-ikutan lebay, inilah dampak paling mengerikan dari sistem pemerintahan yang serba terpusat, yang dulu mungkin tidak dipikirkan oleh para bapak pendiri bangsa. Terpeliharanya dikotomi yang membuat jutaan penduduk di luar Jakarta menanggung akibatnya.

Tentu, semangat Sumpah Pemuda 1928 jauh berbeda dengan 2010. Dahulu, bangsa Indonesia bersatu karena harus menghadapi musuh bersama, yaitu Belanda. Tidak ada cara lain kecuali mempersatukan seluruh kekuatan pemuda dari berbagai pulau, dan memusatkannya di Jawa.

Memang sih, sekarang ada otonomi daerah. Tapi ternyata otonomi daerah diartikan sebagian orang sebagai peluang untuk menjadi raja-raja kecil di tempatnya masing-masing. Malah jadi seperti balik lagi ke zaman feodal, dengan penjajah sesama bangsa sendiri. Saya nggak tahu salahnya di mana. Mungkin juga aji mumpung saja.

Seorang teman adik, penduduk Papua yang jadi pekerja LSM di Papua, pun sering kali mengalami hambatan birokrasi maupun dari masyarakat sendiri dalam kegiatannya. Dia mengeluh, para birokrat cenderung bertele-tele dan baru mau bergerak membantu kalau ada “orang pusat” datang. Dia heran, sebagian masyarakat yang sudah terbiasa disuapi akhirnya memang pasif dan acuh tak acuh untuk melakukan perubahan. Bukan berarti semua orang Papua harus jadi jutawan karena sumber daya alam lho, saya pikir merekalah yang paling berhak menentukan mau diapakan semua hasil sumber daya alam itu. Jangan tidak tahu apa-apa terus tiba-tiba terbawa banjir bandang!

Buat saya, musuh bersama bangsa Indonesia sekarang adalah kesenjangan. Dan itu tidak akan pernah teratasi tanpa ada koreksi atau bahkan perombakan dalam sistem terpusat yang sekarang dipertahankan. Perbedaan itu biasa, selisih sedikit itu wajar. Tapi kesenjangan pendidikan, informasi dan ekonomi, sudah saatnya dihapuskan. Kalau dipertahankan, akan selalu ada pihak yang tergantung dan akhirnya dibuat pasif. Masak sih, mau menolong warga yang tersapu tsunami, pemerintah setempat masih harus menunggu berhari-hari bantuan dari “pusat”?

Bagaimana, masih mau pakai istilah “pusat” dan “daerah”? Selamat Hari Sumpah Pemuda.

Buah Lokal : Sampai Kapan?

Posted by mpokb on 19 Okt 2010 | Tagged as: Pemanja Lidah

Kalau buah lokal segar bisa dibeli dengan harga bersaing dibandingkan buah impor,  sedikit banyak kita bisa membantu petani buah lokal. Gerakan mengonsumsi hasil kebun atau hasil tani lokal telah dijalankan oleh sebagian warga negara industri. Mereka, sebagian warga ‘negara maju’ itu, menolak mengonsumsi tanaman hasil budi daya perusahaan besar yang dianggap sudah tidak aman dikonsumsi, meskipun relatif lebih murah. Mereka bertanya-tanya, apa dampak manipulasi gen terhadap bibit tanaman terhadap kesehatan, dari mana buah-buahan berasal kalau bijinya tidak ada, mengapa buah sudah berminggu-minggu dipanen tidak kunjung busuk, dari mana tanaman musiman berasal kalau sedang tidak musim tapi tetap ada di pasar? Dan, sekian banyak pertanyaan lainnya.

Bagaimana di negeri kita? Ada kekhawatiran, keraguan, yang dengan cantiknya diatasi melalui harga murah buah dan sayuran impor.

Dan kita lupa nasib para petani lokal. Dan kita tak sadar, sedikit demi sedikit kita jualah yang membuat sekian varietas punah. Suatu saat, bukan tidak mungkin salah seorang keturunan Anda akan terheran-heran melihat foto buah kecapi.

« Newer Entries - Older Entries »