Pusat dan Daerah

Posted by mpokb on 28 Okt 2010 | Tagged as: Asbun Bukan Aspal, Kehidupan Bersama

Setelah membaca posting Blogombal yang ini, dan mengikuti info bencana dalam beberapa hari terakhir, saya jadi kepikiran sendiri. Bukan tentang Pesta Blogger atau bencananya, melainkan tentang masih bercokolnya dikotomi “pusat – daerah” di benak kita, orang Indonesia. Kalau boleh ikut-ikutan lebay, inilah dampak paling mengerikan dari sistem pemerintahan yang serba terpusat, yang dulu mungkin tidak dipikirkan oleh para bapak pendiri bangsa. Terpeliharanya dikotomi yang membuat jutaan penduduk di luar Jakarta menanggung akibatnya.

Tentu, semangat Sumpah Pemuda 1928 jauh berbeda dengan 2010. Dahulu, bangsa Indonesia bersatu karena harus menghadapi musuh bersama, yaitu Belanda. Tidak ada cara lain kecuali mempersatukan seluruh kekuatan pemuda dari berbagai pulau, dan memusatkannya di Jawa.

Memang sih, sekarang ada otonomi daerah. Tapi ternyata otonomi daerah diartikan sebagian orang sebagai peluang untuk menjadi raja-raja kecil di tempatnya masing-masing. Malah jadi seperti balik lagi ke zaman feodal, dengan penjajah sesama bangsa sendiri. Saya nggak tahu salahnya di mana. Mungkin juga aji mumpung saja.

Seorang teman adik, penduduk Papua yang jadi pekerja LSM di Papua, pun sering kali mengalami hambatan birokrasi maupun dari masyarakat sendiri dalam kegiatannya. Dia mengeluh, para birokrat cenderung bertele-tele dan baru mau bergerak membantu kalau ada “orang pusat” datang. Dia heran, sebagian masyarakat yang sudah terbiasa disuapi akhirnya memang pasif dan acuh tak acuh untuk melakukan perubahan. Bukan berarti semua orang Papua harus jadi jutawan karena sumber daya alam lho, saya pikir merekalah yang paling berhak menentukan mau diapakan semua hasil sumber daya alam itu. Jangan tidak tahu apa-apa terus tiba-tiba terbawa banjir bandang!

Buat saya, musuh bersama bangsa Indonesia sekarang adalah kesenjangan. Dan itu tidak akan pernah teratasi tanpa ada koreksi atau bahkan perombakan dalam sistem terpusat yang sekarang dipertahankan. Perbedaan itu biasa, selisih sedikit itu wajar. Tapi kesenjangan pendidikan, informasi dan ekonomi, sudah saatnya dihapuskan. Kalau dipertahankan, akan selalu ada pihak yang tergantung dan akhirnya dibuat pasif. Masak sih, mau menolong warga yang tersapu tsunami, pemerintah setempat masih harus menunggu berhari-hari bantuan dari “pusat”?

Bagaimana, masih mau pakai istilah “pusat” dan “daerah”? Selamat Hari Sumpah Pemuda.

Buah Lokal : Sampai Kapan?

Posted by mpokb on 19 Okt 2010 | Tagged as: Pemanja Lidah

Kalau buah lokal segar bisa dibeli dengan harga bersaing dibandingkan buah impor,  sedikit banyak kita bisa membantu petani buah lokal. Gerakan mengonsumsi hasil kebun atau hasil tani lokal telah dijalankan oleh sebagian warga negara industri. Mereka, sebagian warga ‘negara maju’ itu, menolak mengonsumsi tanaman hasil budi daya perusahaan besar yang dianggap sudah tidak aman dikonsumsi, meskipun relatif lebih murah. Mereka bertanya-tanya, apa dampak manipulasi gen terhadap bibit tanaman terhadap kesehatan, dari mana buah-buahan berasal kalau bijinya tidak ada, mengapa buah sudah berminggu-minggu dipanen tidak kunjung busuk, dari mana tanaman musiman berasal kalau sedang tidak musim tapi tetap ada di pasar? Dan, sekian banyak pertanyaan lainnya.

Bagaimana di negeri kita? Ada kekhawatiran, keraguan, yang dengan cantiknya diatasi melalui harga murah buah dan sayuran impor.

Dan kita lupa nasib para petani lokal. Dan kita tak sadar, sedikit demi sedikit kita jualah yang membuat sekian varietas punah. Suatu saat, bukan tidak mungkin salah seorang keturunan Anda akan terheran-heran melihat foto buah kecapi.

Dari VCO ke EVOO

Posted by mpokb on 19 Okt 2010 | Tagged as: Kehidupan Bersama

Sebetulnya saya terlambat. Mungkin karena baru terpengaruh sesi memasak Rachael Ray di TV, saya jadi ingin tahu dan merasakan manfaat EVOO alias minyak zaitun ekstramurni. Sejumlah artikel di internet dan Rachael sendiri menyebutkan, minyak zaitun memang baik untuk kesehatan, menekan kadar kolesterol dan LDL, serta menaikkan HDL. Saya pikir tak ada salahnya mencoba, toh sebelumnya saya sudah sering mengonsumsi minyak kelapa murni atau VCO.

EVOO yang botolnya konon menggoda untuk dipajang di jendela dapur saking cantiknya (untung dapur saya nggak berjendela, karena letaknya di belakang :D ), hanyalah salah satu dari serangkaian produk yang berasal dari buah zaitun. Jadi, di rak minyak toko, kita bisa jadi menemukan minyak zaitun extravirgin, virgin, pure dan extralight – silakan googling untuk masing-masing artinya yaaaa.. Ingat, malu googling, sesat di browsing :D

Yang bikin saya heran adalah harganya. Sebotol VCO buatan Yogya yang biasa saya beli, harganya sekitar Rp 40.000 untuk botol ukuran 250 ml. Nah, untuk sebotol EVOO 500 ml buatan Spanyol di foto ini, saya hanya membayar Rp 63.000, bahkan di toko lain saya lihat Rp 61.500. Lebih murah EVOO yang dibeli dengan dolar dan sudah menempuh perjalanan jauh naik kapal, ketimbang VCO yang bikinan lokal? Ajaib juga.

Kalau dibilang merasa bersalah, ya sebetulnya ada juga rasa bersalah saya terhadap produsen VCO lokal yang kebanyakan cuma UKM. Akan tetapi, sebagai konsumen, aneh juga kalau saya membeli produk yang lebih mahal…

Kaos Bloger

Posted by mpokb on 13 Okt 2010 | Tagged as: Klangenan

Akhirnya saya punya kaos bloger. Buatan sendiri? Bukan. Ini dari kebaikan Paman Tyo. Bukan semata narsistis (atau mungkin juga?), tapi kaos unik memang asyik.  Dulu, waktu blog Cerita Kaos masih ada, kadang saya ikut menyumbangkan postingan dengan memelototi tulisan di kaos banyak orang. Semua jadi ‘korban’. Adik, ipar, teman kantor, sampai orang-orang tak dikenal, kaosnya saya foto dan muat di blog itu. Sayang, sekarang sudah almarhum.

« Newer Entries - Older Entries »