<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>mpokb &#187; bangunan tua</title>
	<atom:link href="http://mpokb.com/tag/bangunan-tua/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mpokb.com</link>
	<description>JILL OF ALL TRADES AND MISTRESS OF NONE</description>
	<lastBuildDate>Sat, 12 May 2012 08:48:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.2</generator>
		<item>
		<title>Kisah Bangunan Tua (dalam Posting)?</title>
		<link>http://mpokb.com/2011/01/29/kisah-bangunan-tua-dalam-posting/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2011/01/29/kisah-bangunan-tua-dalam-posting/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Jan 2011 16:18:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan Bersama]]></category>
		<category><![CDATA[bangunan tua]]></category>
		<category><![CDATA[goettingen]]></category>
		<category><![CDATA[hundert haeuser hundert tafeln]]></category>
		<category><![CDATA[mimikri kota]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah kota]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=714</guid>
		<description><![CDATA[Buku &#8220;Hundert Haeuser Hundert Tafeln&#8221; (&#8220;Seratus Rumah Seratus Papan Nama&#8221;) ini memuat kumpulan kisah di balik seratus bangunan tua di sebuah kota kecil bernama Goettingen, Niedersachsen, Jerman. Meskipun buku ini terhitung tipis dan ringkas, namun penyusunannya memerlukan waktu tujuh tahun. Penelusuran sejarah terhadap satu bangunan memang tidak semudah yang kita bayangkan, kadang usaha yang dilakukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2011/01/hunderthaeuser.jpg"><img class="size-full wp-image-715  aligncenter" title="hunderthaeuser" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2011/01/hunderthaeuser.jpg" alt="" width="416" height="312" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Buku &#8220;Hundert Haeuser Hundert Tafeln&#8221; (&#8220;Seratus Rumah Seratus Papan Nama&#8221;) ini memuat kumpulan kisah di balik seratus bangunan tua di sebuah kota kecil bernama <a href="http://www.goettingen.de/" target="_blank"><strong>Goettingen</strong></a>, Niedersachsen, Jerman. Meskipun buku ini terhitung tipis dan ringkas, namun penyusunannya memerlukan waktu tujuh tahun. Penelusuran sejarah terhadap satu bangunan memang tidak semudah yang kita bayangkan, kadang usaha yang dilakukan sama mengagumkannya dengan kisah tentang bangunan itu sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Goettingen memang &#8220;kota universitas&#8221; yang unik. Menurut sejarah, banyak sekali budayawan dan ilmuwan termasyhur Jerman pernah tinggal dan berkarya di sana, antara lain Grimm Bersaudara, Carl Gauss,  Max Planck dan Robert Koch. Kota ini pun jadi semacam museum hidup, dengan berbagai sudut yang menyimpan pesona dan legendanya masing-masing. Dengan sendirinya, banyak hal yang bisa ditampilkan untuk tujuan pariwisata, tanpa perlu mencari-cari sesuatu yang artifisial dan asing bahkan bagi warga Goettingen sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap kota menyimpan keunikan masing-masing. Selain Bandung, Yogyakarta, Denpasar, Solo atau Surabaya, masih banyak kota di negeri kita yang punya keunggulan semacam itu, namun belum begitu terlihat. Ah, tentu saja akan sulit membicarakan pengembangan pariwisata di sebuah kota tanpa memikirkan dampak sosialnya, belum lagi benturan budaya yang terjadi antara tamu dengan warga setempat. Maka kita bisa maklum ketika berkunjung ke sebuah kota yang sebetulnya indah, namun seperti dibiarkan tak terurus, karena memang tidak pernah diseriuskan untuk menjadi tujuan wisata.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali ke kisah tentang bangunan tua. Sudah adakah yang membuat buku atau kumpulan kisah tentang bangunan-bangunan tua di kota Anda? Kalau belum, kisah subjektif sekalipun dengan sudut pandang seorang blogger, buat saya tetap menarik. Bisa jadi ingatan Anda dan ingatan teman Anda tentang sebuah gedung bioskop tua atau bangunan bekas sekolah tidak sama. Terlepas dari mana yang lebih mendekati fakta, semua itu akan tetap memperkaya khazanah sejarah kota Anda sendiri, dan bisa menjadi rujukan bagi &#8220;orang luar&#8221;. Tentu, sebelum semua kota kita kelak kehilangan identitas dan keunikan, lantas menjadi seragam dengan hiasan bangunan restoran, bioskop, hipermarket dan toko grosir yang serupa atau bahkan itu-itu saja. Bukankah saat ini pun mimikri kota sudah mulai terjadi?</p>
<p><em>Foto :  &#8221;Hundert Haeuser Hundert Tafeln&#8221; (Der Geschichtsverein fuer Goettingen und Umgebung e.V. &amp; der Fremdenverkehrsverein e.V., Goettingen, 1998).</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2011/01/29/kisah-bangunan-tua-dalam-posting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jendela Antik nan Cerdik</title>
		<link>http://mpokb.com/2009/09/04/jendela-antik/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2009/09/04/jendela-antik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Sep 2009 05:34:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tempat Singgah]]></category>
		<category><![CDATA[bangunan tua]]></category>
		<category><![CDATA[bogor]]></category>
		<category><![CDATA[ipb]]></category>
		<category><![CDATA[krepyak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=347</guid>
		<description><![CDATA[Perencana gedung yang terletak di kompleks Institut Pertanian Bogor (Baranangsiang, bukan yang Darmaga) ini mungkin tahu, angin Bogor cenderung bertiup dari utara ke selatan, bukan sebaliknya. Itu sebabnya, celah di antara bilah jendela besar bergaya krepyak menghadap ke selatan, dan curah hujan yang tertiup angin utara pun tidak akan membasahi ruangan. Apa benar begitu? Hehe, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-349 aligncenter" title="pasca-2" src="http://mpokb.com/wp-content/uploads/2009/09/pasca-2.jpg" alt="pasca-2" width="442" height="331" /></p>
<p style="text-align: justify;">Perencana gedung yang terletak di kompleks Institut Pertanian Bogor (Baranangsiang, bukan yang Darmaga) ini mungkin tahu, angin Bogor cenderung bertiup dari utara ke selatan, bukan sebaliknya. Itu sebabnya, celah di antara bilah jendela besar bergaya krepyak menghadap ke selatan, dan curah hujan yang tertiup angin utara pun tidak akan membasahi ruangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa benar begitu? Hehe, itu hanya khayalan saya saja yang heran, bagaimana menentukan arah krepyak, ke utara atau ke selatan gedung. Akan tetapi, kalau benar begitu, maka ruang kuliah tidak akan basah akibat hujan meskipun Bogor Kota Hujan dan para mahasiswa dan dosen tidak akan kepanasan karena tetap bisa merasakan semilir angin.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tidak tahu berapa usia bangunan adem yang sekarang dipakai untuk kuliah pascasarjana ini. Mungkin 46 tahun, mengingat para mahasiswa yang mulai berkuliah pada tahun 2009 ini adalah angkatan ke-46. Setahu saya, hanya mahasiswa/alumni IPB yang tidak memakai tahun masuk/lulus  untuk menyebut nama angkatannya. Angkatan pertama adalah mereka yang mulai berkuliah pada tahun 1963.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2009/09/04/jendela-antik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

