Posts Tagged ‘bogor’

Heejou yang Hijau

Sabtu, Mei 22nd, 2010

heejou-1

Sekarang makin banyak orang terdorong melakukan gerakan cinta lingkungan, antara lain dengan membuat berbagai produk yang ramah lingkungan. Buat yang sulit mengubah irama atau pola hidup, mengubah gaya konsumsi bisa jadi pilihan untuk kompensasi perusakan alam.

Tas “Heejou” pun rupanya diproduksi dengan semangat yang sama. Lewat tas, produsen mengajak konsumen bergabung dalam gerakan cinta lingkungan tersebut. Ini bukan iklan lho, saya posting dan sebut merek, karena ingin saja.

heejou-2

Omong-omong, sebetulnya saya masih agak heran dengan ide pengurangan pemakaian kantong plastik. Maksud saya, kalau sudah diketahui bahwa kantong plastik (bukan yang mudah terurai) merusak lingkungan, kenapa tidak dilarang saja sekalian? Cukup sulit untuk tidak membuang kantong plastik, sebab kebanyakan dari kita membuang sampah rumah tangga sehari-hari dalam kantong plastik, bukan? Tak terbayangkan repotnya tukang sampah yang datang dengan truk seminggu sekali (kadang dua minggu sekali) kalau isi tong sampah rumah kita tidak diwadahi kantong plastik. Yah, jawabannya mungkin ada di tangan pengambil kebijakan di masa depan. Untuk saat ini, saya masih mengompensasi semampu saya saja.

Mengopi di Serambi

Kamis, Desember 24th, 2009

serambi botani-3

Namanya Kafe Serambi Botani. Terletak di serambi kiri pusat perbelanjaan Botani Square, Bogor. Di kafe ini, kita bisa mencicipi beberapa jenis kopi dari sejumlah daerah di Indonesia, seperti Aceh, Medan, Lampung, Jawa, Bali, Toraja dan Papua. Selain mengopi dan mengudap sambil mengobrol, Anda yang membawa laptop bisa melanjutkan kegiatan berinternet.

serambi botani-1

Kafe mungil berkapasitas sekitar 20 orang ini memanfaatkan sudut yang terletak di bawah salah satu eskalator gedung. Justru itulah yang membuat interior kedai tampak unik, karena bagian bawah eskalator ditutupi dengan papan bergambar logo Institut Pertanian Bogor, daun dan slogan-slogan cinta lingkungan. Salah satu dinding yang bergambar urat kayu dihiasi dengan ukiran berpola sulur tanaman dan kupu-kupu.

serambi botani-4

Benda unik lainnya adalah meja kaca dengan badan berbentuk peti yang terbuat dari papan, yang juga bertulisan slogan-slogan cinta lingkungan.

serambi botani-2

Kalau Anda sedang berjalan-jalan ke Bogor dan perlu meeting point di tengah kota sambil mengopi sesaat atau berinternet, atau sekadar menunggu kerabat berbelanja sembari melepas lelah, tak ada salahnya Anda mencoba tempat ini. Soal harga? Cukup bersahabat :)

Jendela Antik nan Cerdik

Jumat, September 4th, 2009

pasca-2

Perencana gedung yang terletak di kompleks Institut Pertanian Bogor (Baranangsiang, bukan yang Darmaga) ini mungkin tahu, angin Bogor cenderung bertiup dari utara ke selatan, bukan sebaliknya. Itu sebabnya, celah di antara bilah jendela besar bergaya krepyak menghadap ke selatan, dan curah hujan yang tertiup angin utara pun tidak akan membasahi ruangan.

Apa benar begitu? Hehe, itu hanya khayalan saya saja yang heran, bagaimana menentukan arah krepyak, ke utara atau ke selatan gedung. Akan tetapi, kalau benar begitu, maka ruang kuliah tidak akan basah akibat hujan meskipun Bogor Kota Hujan dan para mahasiswa dan dosen tidak akan kepanasan karena tetap bisa merasakan semilir angin.

Saya tidak tahu berapa usia bangunan adem yang sekarang dipakai untuk kuliah pascasarjana ini. Mungkin 46 tahun, mengingat para mahasiswa yang mulai berkuliah pada tahun 2009 ini adalah angkatan ke-46. Setahu saya, hanya mahasiswa/alumni IPB yang tidak memakai tahun masuk/lulus  untuk menyebut nama angkatannya. Angkatan pertama adalah mereka yang mulai berkuliah pada tahun 1963.

Saatnya Wedang Ronde!

Rabu, Februari 4th, 2009

Setelah beberapa lama dirundung penasaran, dan terus penasaran karena belum ada kesempatan, akhirnya saya berhasil mencicipi jajanan yang mangkal di Jalan Pajajaran, Bogor, ini. Warungnya kecil, bersahaja, hanya tersedia tiga atau empat meja dan bangku panjang. Kalaupun ada yang agak lain dari tenda-tenda tetangganya, mungkin karena tenda penutup tidak dihiasi dengan lukisan dan tulisan tangan, melainkan hasil cetak olah foto digital.

Nama yang ditonjolkan oleh produsen bernama Teh/Ceu/Neng Neneng adalah “onde-onde ketan”, dilengkapi dalam kurung “wedang ronde”. Mohon dikoreksi kalau salah, tapi setahu saya, sajian ini di Jawa Tengah memang disebut “wedang ronde” dan di Jawa Timur “wedang angsle”. Wah, nggak jelas ini. Tulisan kok malah tanya.

Warung tenda yang saya datangi ini ternyata cabang warung utama di Gang Aut, Bogor. Penjual mempersiapkan kartu nama kalau-kalau ada pembeli yang ingin pesan partai besar. Keren juga, punya kartu nama. Silakan dicatat, kalau berminat. Ini bukan iklan, hanya ingin berbagi info, tapi saya nggak kenal Neneng. Jadi, jangan tanyakan wajahnya seperti apa, statusnya bagaimana, dan lain sebagainya, ya?

Selain wedang ronde, warung itu juga menyediakan bubur kacang hijau, bubur ketan hitam, bubur jali-jali dan bubur sagu yang dicampur potongan talas. Harganya rata-rata Rp 5.000 per porsi. Dengan porsi yang mengenyangkan, rasanya masih masuk akal untuk ukuran zaman tidak menentu seperti saat ini.

Menu favorit saya wedang ronde. Selain untuk dimakan di tempat atau dibawa pulang dalam kemasan plastik, tersedia pula wedang ronde dengan bola-bola ketan yang siap rebus dan menurut penjual tahan sampai tiga hari dalam lemari es. Untuk menyiapkannya sangat mudah. Tinggal merebus air sampai mendidih, lalu bola-bola itu dicemplungkan sampai mengambang, artinya sudah matang. Ada empat bulatan sebesar bola bekel berisi kacang tanah dan gula pasir, seperti kue moci, dan banyaaaaak sekali bola-bola ketan berukuran lebih kecil. Kuahnya adalah wedang jahe dengan gula putih atau gula merah, tinggal pilih. Di musim hujan, ini jajanan yang sangat cocok. Perut kenyang, badan hangat, hidung dibelai aroma daun suji dan pandan, hmmmmmm…. Apa? Mahal? Kalau saya dikasih uang Rp 5.000, belum tentu wedang ronde bikinan saya selezat bikinan Neneng. Makanya saya nggak protes, hehe.