
Setelah beberapa lama dirundung penasaran, dan terus penasaran karena belum ada kesempatan, akhirnya saya berhasil mencicipi jajanan yang mangkal di Jalan Pajajaran, Bogor, ini. Warungnya kecil, bersahaja, hanya tersedia tiga atau empat meja dan bangku panjang. Kalaupun ada yang agak lain dari tenda-tenda tetangganya, mungkin karena tenda penutup tidak dihiasi dengan lukisan dan tulisan tangan, melainkan hasil cetak olah foto digital.
Nama yang ditonjolkan oleh produsen bernama Teh/Ceu/Neng Neneng adalah “onde-onde ketan”, dilengkapi dalam kurung “wedang ronde”. Mohon dikoreksi kalau salah, tapi setahu saya, sajian ini di Jawa Tengah memang disebut “wedang ronde” dan di Jawa Timur “wedang angsle”. Wah, nggak jelas ini. Tulisan kok malah tanya.

Warung tenda yang saya datangi ini ternyata cabang warung utama di Gang Aut, Bogor. Penjual mempersiapkan kartu nama kalau-kalau ada pembeli yang ingin pesan partai besar. Keren juga, punya kartu nama. Silakan dicatat, kalau berminat. Ini bukan iklan, hanya ingin berbagi info, tapi saya nggak kenal Neneng. Jadi, jangan tanyakan wajahnya seperti apa, statusnya bagaimana, dan lain sebagainya, ya?
Selain wedang ronde, warung itu juga menyediakan bubur kacang hijau, bubur ketan hitam, bubur jali-jali dan bubur sagu yang dicampur potongan talas. Harganya rata-rata Rp 5.000 per porsi. Dengan porsi yang mengenyangkan, rasanya masih masuk akal untuk ukuran zaman tidak menentu seperti saat ini.
Menu favorit saya wedang ronde. Selain untuk dimakan di tempat atau dibawa pulang dalam kemasan plastik, tersedia pula wedang ronde dengan bola-bola ketan yang siap rebus dan menurut penjual tahan sampai tiga hari dalam lemari es. Untuk menyiapkannya sangat mudah. Tinggal merebus air sampai mendidih, lalu bola-bola itu dicemplungkan sampai mengambang, artinya sudah matang. Ada empat bulatan sebesar bola bekel berisi kacang tanah dan gula pasir, seperti kue moci, dan banyaaaaak sekali bola-bola ketan berukuran lebih kecil. Kuahnya adalah wedang jahe dengan gula putih atau gula merah, tinggal pilih. Di musim hujan, ini jajanan yang sangat cocok. Perut kenyang, badan hangat, hidung dibelai aroma daun suji dan pandan, hmmmmmm…. Apa? Mahal? Kalau saya dikasih uang Rp 5.000, belum tentu wedang ronde bikinan saya selezat bikinan Neneng. Makanya saya nggak protes, hehe.

Kok Mentar