<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>mpokb &#187; idola baru</title>
	<atom:link href="http://mpokb.com/tag/idola-baru/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mpokb.com</link>
	<description>JILL OF ALL TRADES AND MISTRESS OF NONE</description>
	<lastBuildDate>Sat, 07 Jan 2012 15:47:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.2</generator>
		<item>
		<title>Politikus Mestinya Ngeblog</title>
		<link>http://mpokb.com/2009/03/18/politikus-mestiny-ngeblog/</link>
		<comments>http://mpokb.com/2009/03/18/politikus-mestiny-ngeblog/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 17:40:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mpokb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asbun Bukan Aspal]]></category>
		<category><![CDATA[idola baru]]></category>
		<category><![CDATA[industri hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[politikus blogger]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mpokb.com/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[Di televisi kadang ada temu wicara atau debat terbuka para politikus dari partai. Biasanya pemandu acara akan mengemukakan sebuah topik, kemudian masing-masing kubu menyampaikan pendapatnya. Entah sejauh mana acara semacam ini menarik minat penonton. Kadang ada saja satu dua penonton yang merelakan pulsa untuk ikut nimbrung, kasih komentar via telepon. Dalam acara berdurasi 1 jam, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di televisi kadang ada temu wicara atau debat terbuka para politikus dari partai. Biasanya pemandu acara akan mengemukakan sebuah topik, kemudian masing-masing kubu menyampaikan pendapatnya. Entah sejauh mana acara semacam ini menarik minat penonton. Kadang ada saja satu dua penonton yang merelakan pulsa untuk ikut nimbrung, kasih komentar via telepon.</p>
<p>Dalam acara berdurasi 1 jam, kerap diselingi iklan, tentu saja penonton hanya bisa menilai kapasitas si politikus secara sekilas. Itu pun sebatas pada topik yang dikemukakan. Kadang keterbatasan waktu mengharuskan moderator sudah harus menyela ketika salah satu orang masih semangat berbicara.</p>
<p>Saya ingat, menjelang Pemilu 1999, banyak orang terpikat pada tokoh-tokoh baru yang berbunga-bunga kalau bicara, meniupkan hawa surga pada rakyat yang kebingungan. Banyak pahlawan baru, satu lebih menonjol dari yang lain, meskipun belakangan terlihat juga plin-plan dan belangnya. Para pahlawan harapan bangsa ini tampil dengan simpatik di tivi, dielu-elukan seperti idola baru. Kamera menyukai mereka, penonton menunggu-nunggu idola mereka ditayangkan di tivi. Disadari maupun tidak, disengaja maupun tidak, politik telah menjadi bagian dari industri hiburan. </p>
<p>Tidak semua politikus pandai berbicara, ternyata. Ada yang lebih suka diam saja, memancing rasa penasaran dan celetukan orang-orang usil. Mestinya orang-orang usil itu ingat bahwa Bung Hatta yang tidak begitu banyak bicara adalah seorang pemikir cemerlang. Dan mestinya orang-orang penasaran itu maklum bahwa tidak semua orang lancar berbicara sambil berpikir. Saya tidak tahu, yang lebih suka diam itu termasuk yang mana. Kalau diamati, banyak politikus lebih suka diam-diam saja ketika muncul isu sensitif, karena salah bicara sedikit saja bisa membahayakan posisinya. Perlu dicatat bahwa seorang Barack Obama bahkan sempat terdiam beberapa lamanya di tengah konferensi pers ketika ditanya pendapatnya tentang Iran. Jadi, pandai berdebat di depan publik memang membuat seorang politikus terlihat hebat, tapi tidak selalu memberi kesempatan bagi rakyat untuk menilai sikapnya dalam isu tertentu.</p>
<p>Ketimbang menilai dari ucapan di depan kamera, saya kok rasanya lebih sreg kalau bisa membaca isi kepala para politikus itu secara menyeluruh dalam bentuk tulisan. Supaya tidak hanya mereka yang pandai bicara saja yang dianggap layak jadi politikus, yang merasa bisa mengelola negara sesuai janji. Bagaimana caranya? Ya, menulis saja di koran, atau kalau kolom sekian banyak koran sudah penuh, menulis saja di blog. Lalu, biarkan pengunjung blog menyampaikan komentar, supaya terlihat bahwa politikus tersebut mau menerima umpan balik dari konstituen, bukan sekadar menghimpun suaranya dalam pilkada maupun pemilu. Anak-anak saja banyak yang ngeblog, masak sih politikus tidak mampu?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mpokb.com/2009/03/18/politikus-mestiny-ngeblog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

