Kelepon Biru

sepiring kelepon biru
kubuatkan untukmu
menjelang hari jadi
pertemuan pertama kali
sepiring kelepon biru
untuk dirimu nan jauh
ketimbang segera basi
biar kusantap sendiri


sepiring kelepon biru
kubuatkan untukmu
menjelang hari jadi
pertemuan pertama kali
sepiring kelepon biru
untuk dirimu nan jauh
ketimbang segera basi
biar kusantap sendiri


Kok posting soal makanan lagi? Harap maklum yak, blog ini memang agak mirip warung, meskipun yang berjualan bukan saya. Inilah dagangan si mamang langganan yang lewat depan rumah tiap akhir pekan. Pukul 9.30 – 10.00 hari Sabtu, teriakannya selalu terdengar di depan rumah, “Kueeeee!” Kalau sudah dengar suara itu, rasanya seperti ada dorongan spontan untuk segera ke depan rumah sambil bawa piring kosong. Bukan, itu bukan efek hipnotis atau pelet. Saya memang doyan, sungguh. Dulu, waktu si mamang baru mulai berjualan di komplek saya, rasanya saya sempat mengalami kekalapan seketika dalam memborong kue. Lama-kelamaan, kerakusan itu mulai berkurang dan sekarang saya insaf, membeli secukupnya saja untuk seisi rumah
Kebiasaan membeli kue dari “orang lewat” itu dulu juga dilakukan ibu saya semasa saya kecil. Berbagai kue basah dengan cita rasa tradisional dan lokal (meskipun bahannya sekarang pun banyak yang diimpor, weeeksss..!), tetap akan punya tempat istimewa di indra pencecap dan hati saya. Hayah, ngomongin penganan saja kok jadi sentimental gini sih..
Sambil nunggu ide posting berikutnya, saya ajak Anda main tebak-tebakan. Apakah Anda tahu nama-nama kue di atas? Yang jawabannya benar semua, boleh borong kue si mamang