Pondokan Baru Nyata dan Maya

Beginilah akhirnya, meskipun ini sebuah awal dari sebuah persinggahan di pondokan baru. Setelah ngotot menjadi penglaju selama bertahun-tahun, akhirnya saya menyerah pada kemacetan. Perjalanan Bogor – Jakarta yang normalnya hanya 1 jam, kini bisa mulur jadi 3 jam pada Senin pagi yang padat. Pondokan menjadi pilihan sementara. Sementara belum bisa punya rumah sendiri, maksudnya :P Disebut sementara pula, karena memang belum tahu apakah akan terus di sana. Yang jelas, saya masih bekerja di warung karena belum punya warung sendiri dan masih jadi pedestrian yang kurang kerjaan memandangi jalanan. Sungguh tidak bermutu.

Kepindahan ke pondokan baru ini semoga menambah semangat ngeblog saya. Entah apa ada manfaatnya buat orang lain, tapi saya minta tolong ditegur kalau ada yang aneh dan tidak berkenan. Akhirul njeplak, atas restu, dukungan dan BLT (bantuan langsung tulis) dari Paman Gombal yang tidak mukiyo itu, saya mengucapkan berbutir-butir terima kasih. Semoga kebaikan dan semangat ngeblog beliau mendapatkan balasan melimpah-ruah panjang lebar. Hiks, jadi terharu nih, Paman.. *menyeruput kopi*