Stasiun Cawang, Suatu Hari

Juni 26th, 2009

Stasiun Cawang, Jakarta Selatan. Gara-gara aturan baru yang menyusahkan itu, akhirnya saya terdampar di stasiun ini untuk pertama kalinya. Untuk pertama kalinya pula saya naik kereta Jabotabek lagi setelah hampir 10 tahun. Perbedaan yang terlihat mencolok, petugas penjual tiket dan petugas peron pemeriksa tiket pada suatu Sabtu pagi itu mengenakan kemeja batik, bukan seragam biru.

 

Dari pengamatan sekilas saya, pelayanan KRL Jabotabek hari itu (dan pada jam itu) tampak lebih baik daripada yang pernah saya alami semasa kuliah tahun ‘90-an dulu. Juga lebih baik daripada yang diceritakan oleh seorang teman penglaju. Harga tiket kereta Jabotabek ekonomi dari Cawang ke Bogor hanya Rp 2.000. Kalau mau naik yang pakai AC, harganya Rp 5.500. Berhubung salah beli tiket dan harus kembali ke loket untuk menukarnya, saya jadi ketinggalan kereta AC pukul 10.25. Akhirnya naik yang pukul 10.35, juga ber-AC. Waktu 10 menitan itulah yang antara lain juga saya pakai untuk iseng memotret.

 

 

Silakan Intip

Juni 24th, 2009

 

Silakan intip-intip.

Tidak ada yang harus dirahasiakan.

Sudah beberapa lama saya tidak percaya pada pemisahan dunia maya dan nyata.

:)

 

Gambar dicomot dari sini

Aturan Baru dan Alternatif

Juni 9th, 2009

Ada penumpang yang harus duduk di angkot selama 3 jam dengan ongkos jauh lebih mahal, seperti ke Bandung, katanya. Asumsi saya, dia menetap di Bogor, minimal di salah satu wilayah suburban Jakarta. Ada yang merasa tidak nyaman kalau harus masuk Terminal Kampung Rambutan karena (terkenal) rawan. Ada pula yang menyayangkan jadi sepinya wilayah perempatan Cawang dekat kampus Universitas Kristen Indonesia (UKI) tersebut, sehingga para pedagang kaki lima yang biasa mencari nafkah di sana merugi. Semua itu karena aturan baru tapi lama yang melarang bus antarkota antarprovinsi keluar di gerbang Halim Jalan Tol Jagorawi (Jakarta-Bogor-Ciawi). Bus-bus tersebut harus melewati Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta ke arah Cikunir, langsung menyambung ke Jalan Tol Cikampek.

Di situs Dishub DKI Jakarta, hanya ada sebuah info mengenai hal ini (duh, tulisan “Friday, 05 September 2008″ di bawah judul itu maksudnya apa, ya?). Di situ Wakil Dishub DKI Jakarta, Reza Hasyim, menyebutkan bahwa tujuan penerapan aturan ini adalah “mengurangi kemacetan di kawasan Cawang-UKI”. Entah sejauh mana penerapan ini berhasil, saya sih berharap ada survey dan kaji hasilnya.

Dari pengalaman pribadi saya selama jadi penglaju Bogor – Jakarta selama sekitar 7 tahun (sebelum akhirnya menyerah pada kemacetan dan memilih untuk ikut memadati Jakarta), “diperbolehkannya” bus AKAP untuk menaikkan dan menurunkan penumpang di UKI tersebut sangat menguntungkan. Sebagai penumpang, waktu tempuh saya jadi jauh berkurang. Bus dari Bogor bisa sampai di UKI dalam waktu paling lama 45 menit. Kalau lagi apes, pada Senin pagi misalnya, mulur jadi 1 – 1,5 jam. Nah, dari UKI itu saya langsung pindah ke bus dalam kota. Mengapa pindah di UKI, bukan naik bus ke Kampung Rambutan? Itu karena kebanyakan bus kota tidak menempuh rute seharusnya (ke Kampung Rambutan). Bus-bus kota itu, entah demi menghemat bahan bakar atau demi menghindari macet sekeluar dari terminal, banyak yang memilih berputar balik di sekitar UKI. Penumpang yang datang dari arah Sukabumi, Bogor, Cibinong, Cileungsi dan Cibubur akan sulit mendapatkan bus kota di Kampung Rambutan, karena bus kota lebih suka mengetem di UKI. Ini pemandangan sehari-hari sebelum penerapan aturan. Begitu pula sebaliknya pada malam hari. Seturun dari bus kota, para penglaju langsung naik bus-bus AKAP (dari dan ke Bogor, Depok, Karawang atau Bekasi).

Bagaimana setelah aturan baru diberlakukan? Ternyata penumpang jadi telantar, karena tiadanya angkutan alternatif pengganti bus-bus AKAP yang tidak boleh lewat UKI, melainkan lewat Tol Cikunir. Minggu lalu saya merasakan sendiri bagaimana dampak terputusnya angkutan dari ibu kota ke kota-kota penyangga, di malam menjelang akhir pekan. Pada sekitar pukul 22.00, dengan perkiraan bahwa Terminal Kampung Rambutan akan “hidup” menggantikan terminal bayangan UKI, maka setengah yakin saya dan kakak bergegas ke sana. Apa boleh buat, menurut pedagang asongan dan para calo, bus terakhir yang menuju Bogor dari Kampung Rambutan adalah sekitar pukul 21.00. Ketika saya tanya, bagaimana dengan para penumpang yang biasa naik dari UKI, ke mana mereka semua, sang pedagang asongan juga bingung. Akhirnya, setelah berjalan kaki ke luar terminal (karena untuk naik bus kecil atau angkot pasti lama mengetem), kami memilih naik taksi yang ongkosnya puluhan kali lipat ongkos bus.

Perencanaan sebuah aturan baru tentu dibuat berdasarkan survey dan pertimbangan banyak faktor. Penerapan aturan yang baik pun seharusnya tidak hanya mengedepankan tujuan dan sanksi bagi pelanggar, namun juga memberi alternatif bagi mereka yang dikenai aturan. Yang saya lihat dan rasakan dari aturan ini, penumpang angkutan umum (bus AKAP) tidak diberi alternatif dan dibiarkan kebingungan di jalan.

Sulit sekali mencari salinan surat edaran yang berisi larangan ini di internet (baik di situs Dishub maupun situs Ditlantas Polda Metro Jaya). Dengan googling, saya hanya bisa menemukan berita ini. Disitu dikutip ucapan Direktur Lantas Polda Metro Jaya, Kombes Condro Kirono, “Kesepakatan antara Ditlantas Polda Metro dan Dinas Perhubungan sudah ditandatangani sejak Rabu (5/11) lalu. Larangan kemungkinan mulai berlaku pekan depan.” (maksudnya 2008 – red). Taruh kata karena alasan tertentu dan kesepakatan sudah final maka bus AKAP benar-benar tidak boleh masuk Jakarta, maka seharusnya Terminal Kampung Rambutan sudah siap memberi angkutan sambungan untuk para penumpang yang berganti moda angkutan di sana. Padahal, andalan Dishub Jakarta, yaitu bus Transjakarta Koridor IX (Cililitan – Tanjung Priok) dan Koridor X (Pinang Ranti – Pluit), sampai sekarang belum menampakkan tanda-tanda akan beroperasi. Dengan kata lain, meskipun aturan ini diterapkan mulur sejak penetapannya, tapi bisa juga dibilang prematur dari tingkat kesiapannya. Jakarta adalah ibu kota, namun prasarana dan sarana angkutan umumnya tidak mencerminkan sebuah kota yang siap mewadahi kepentingan penghuni maupun kegiatan perekonomiannya.

Membuat sebuah perencanaan yang memperhitungkan alternatif memang sulit dan tidak murah, namun tidak memperhitungkan dampak penerapan secara keseluruhan juga malah tidak produktif. Sebagai salah seorang dari sekian ribu penumpang yang merasakan manfaat terminal bayangan UKI, saya sangat berharap desakan Lembaga Bantuan Hukum pada Dishub DKI untuk mengkaji ulang larangan tersebut tidak mengendur. Paling tidak, agar larangan diterapkan ketika para penumpang sudah punya alternatif yang sepadan.

Omong-omong, sebentar lagi Jembatan Suramadu akan diresmikan. Usul agar jalur khusus roda dua diadakan pun sudah dikabulkan, sampai-sampai PP Jalan Tol harus direvisi. Terlepas dari anggapan bahwa naik sepeda motor di jalan tol aman-aman saja, saya berharap agar kapal feri yang melayani penyeberangan lewat laut tidak lantas mati karena penumpang lebih memilih lewat jalan tol. Kalau tidak, kelak kita tidak akan punya moda alternatif antara Surabaya dan Madura. Sehingga, apabila suatu saat di atas Jembatan Suramadu terjadi kecelakaan atau bahkan jembatan ambruk entah karena apa, Anda mungkin harus menyeberang ke Madura dengan berenang..

Bebaskan Ibu Prita!

Juni 2nd, 2009


Dasarnya gaptek dan kurang paham WP, maka mau pasang banner saja bingungnya setengah mules. Akan tetapi, biarpun banner belum terpasang, saya tetap bagikan kepada Anda, para pembaca blogger yang ingin memasangnya. Banner tersebut bisa dicomot dari sini. Pada tautan tersebut, Anda juga bisa membaca kisah di balik kasus tersebut, yang pada akhirnya membuat seorang ibu dipisahkan dari anak-anaknya, padahal salah satunya masih memerlukan ASI. Duh, malang benar nasibmu, Nak!

Tas Bintang Merah Pemicu Protes

Mei 20th, 2009

Sumber gambar : dari sini

Pertimbangan apa yang Anda buat ketika membeli sebuah tas? Kalau saya sih, apa pun barangnya, cenderung memilih berdasarkan fungsi. Terus terang, saya kurang paham trend fesyen, tapi juga tidak menolaknya sejauh tidak mengganggu kenyamanan sehari-hari. Begitu pula ketika saya membeli tas kurir ini. Ukurannya pas, warnanya pas, modelnya apalagi, banyak kantong sisipan untuk pernak-pernik. Ketika pertama kali melihatnya, saya langsung jatuh cinta. Pada modelnya, juga pada harganya yang “cuma” Rp. 75.000. Alasan ketertarikan terhadap tas ini sulit dijelaskan. Bagaimana menjelaskan selera seseorang?

Saya lupa tempo hari mau googling apa, ternyata yang ketemu malah berita basi ini. Tentang Cameron Diaz yang mendapat kritik pedas lantaran muncul di Peru sambil mengenakan tas bermodel serupa. Di Peru, perang saudara yang melibatkan kelompok Maois Sendero Luminoso (”Jalan Terang”) telah menewaskan dan menghilangkan sekitar 70.000 orang. Tidak heran kalau Nona Diaz yang datang ke Peru untuk promosi film dianggap tidak sensitif dan melukai hati keluarga para korban. Kisah selanjutnya, Nona Diaz pun minta maaf secara resmi dan menyatakan tidak bermaksud apa-apa dengan mengenakan tas yang dibelinya ketika melancong ke RRC itu. Yah, dasar Nona Diaz sedang apes.

Lantas, apakah setelah membaca berita itu, saya jadi urung mengenakan tas ini? Bintang merah. Tulisan dalam aksara Cina yang berarti “Melayani Rakyat”. Dalam hal ini, saya anggap si bintang merah dengan sendirinya sudah melayani rakyat dengan menjadi ikon yang bisa diperjualbelikan. Konsumen kebanyakan semacam saya, yang “tahu” tapi “tidak tahu”, sebetulnya tidak berharap lebih dari sebuah tas selain fungsinya sebagai pemenuhan atas kebutuhan dan selera. Perempuan Hong Kong yang melayani saya di tokonya tentu tidak peduli apa ideologi pembeli barang-barang bergambar bintang merah atau Ketua Mao, bahkan tidak peduli si pembeli berasal dari mana selama mereka membayar dengan mata uang yang dikenalnya, yaitu dolar Hong Kong.

Tidakkah saya peduli pada korban yang jatuh akibat sekelompok orang yang membabi buta membela ideologi? Haruskah saya takut dianggap mendukung sesuatu yang oleh sebagian kalangan dianggap berbahaya? Saya justru heran, kalau kita merasa yakin akan sesuatu yang menjadi pegangan hidup, mengapa harus takut pada sesuatu yang tidak sama dengan keyakinan kita? Lagi pula, dari semuanya itu, apa hubungannya dengan tas saya? Akan jadi aneh kalau tiba-tiba sebuah komoditas, barang seharga 75 ribu perak, dianggap mewakili ideologi seseorang. Bagaimana pendapat Anda? Ada yang punya tas bergambar Burung Garuda?

Mimpi Idilis

Mei 14th, 2009

 

Mimpi idilis saya tidak selamanya menjadi mimpi. Kadang mereka terwujud dalam kehidupan saya, dan ketika sedang beruntung, saya akan bisa merekam dan mengenangnya. Atau, jangan-jangan memang kehidupan itu sendiri merupakan serangkaian mimpi idilis? Dan saya terbangun di pagi hari dari satu mimpi ke mimpi lainnya? Entahlah. Kadang saya pikir, pembatasan-pembatasan semacam itu hanya mempersulit diri sendiri saja :)

Prangko Seri Caleg

Mei 1st, 2009

 

Sejak prangko bergambar foto diri diluncurkan beberapa tahun lalu, pernahkah Anda coba membuatnya? Sungguh perkembangan yang luar biasa, karena ketika prangko mulai beredar pada pertengahan abad ke-19, yang bisa muncul di prangko hanyalah kepala negara seperti para raja, ratu atau presiden. Saya tidak tahu persis berapa harga selembar prangko bergambar foto diri seperti yang dibuat oleh nyonya caleg di atas. Jangankan membeli prangko, surat-menyurat via pos saja sudah tidak pernah. Terakhir kalinya mungkin sekitar 10 tahun yang lalu, dan lebih sering untuk kirim lamaran :D

Siapa tahu, pembuatan prangko berfoto diri oleh caleg akan menjadi trend dalam pemilu-pemilu berikutnya? Bukan tidak mungkin, setiap 5 tahun sekali akan beredar “prangko versi caleg”. Filatelis bakal perlu album prangko dalam jumlah besar :)

Menghimpun Suara dengan Suara

April 2nd, 2009

Ada banyak cara untuk meraih cita-cita. Ketika teknologi dan peluang dimanfaatkan melalui kreativitas, bukan tidak mungkin harapan terwujud menjadi kenyataan. D’Bus yang ini tidak sama dengan debus asal Banten, meskipun keduanya bisa dibilang sama-sama produk budaya. Dengan harapan bisa menjadi bintang, D’Bus mengajak khalayak memilih mereka untuk bisa tampil sebagai finalis di 10 besar kompetisi “Wanna Be Star 2″ yang diadakan sebuah TV/Radio lokal Bogor.

Selama menjadi penglaju Bogor – Jakarta dengan menumpang bus, saya tidak tahu apakah pernah bertemu dan mendengarkan musik mereka. Ada begitu banyak pengamen antarkota yang bergantian menemani perjalanan Bogor – perempatan UKI, Cawang, Jakarta Timur. Tidak sedikit yang benar-benar bisa bermusik dan bernyanyi :)

Selebaran yang dibagikan kepada para penumpang angkutan umum ini diharapkan bisa meningkatkan perolehan suara mereka supaya gol menjadi finalis. Ya, sejak kemunculan American Idol, ada banyak kontes yang menggunakan pengumpulan suara seperti ini. Seleksi kemampuan ada di awal, selanjutnya lebih tergantung pada para penonton. Demokratis? Belum tentu, karena setiap orang boleh mengirimkan SMS lebih dari sekali. Akan tetapi, sebagai usaha untuk mengubah nasib, keuletan dan kreativitas grup ini dengan mencetak dan membagikan selebaran memang layak dikasih aplaus.

PS : Thanks, Tia!

Politikus Mestinya Ngeblog

Maret 18th, 2009

Di televisi kadang ada temu wicara atau debat terbuka para politikus dari partai. Biasanya pemandu acara akan mengemukakan sebuah topik, kemudian masing-masing kubu menyampaikan pendapatnya. Entah sejauh mana acara semacam ini menarik minat penonton. Kadang ada saja satu dua penonton yang merelakan pulsa untuk ikut nimbrung, kasih komentar via telepon.

Dalam acara berdurasi 1 jam, kerap diselingi iklan, tentu saja penonton hanya bisa menilai kapasitas si politikus secara sekilas. Itu pun sebatas pada topik yang dikemukakan. Kadang keterbatasan waktu mengharuskan moderator sudah harus menyela ketika salah satu orang masih semangat berbicara.

Saya ingat, menjelang Pemilu 1999, banyak orang terpikat pada tokoh-tokoh baru yang berbunga-bunga kalau bicara, meniupkan hawa surga pada rakyat yang kebingungan. Banyak pahlawan baru, satu lebih menonjol dari yang lain, meskipun belakangan terlihat juga plin-plan dan belangnya. Para pahlawan harapan bangsa ini tampil dengan simpatik di tivi, dielu-elukan seperti idola baru. Kamera menyukai mereka, penonton menunggu-nunggu idola mereka ditayangkan di tivi. Disadari maupun tidak, disengaja maupun tidak, politik telah menjadi bagian dari industri hiburan. 

Tidak semua politikus pandai berbicara, ternyata. Ada yang lebih suka diam saja, memancing rasa penasaran dan celetukan orang-orang usil. Mestinya orang-orang usil itu ingat bahwa Bung Hatta yang tidak begitu banyak bicara adalah seorang pemikir cemerlang. Dan mestinya orang-orang penasaran itu maklum bahwa tidak semua orang lancar berbicara sambil berpikir. Saya tidak tahu, yang lebih suka diam itu termasuk yang mana. Kalau diamati, banyak politikus lebih suka diam-diam saja ketika muncul isu sensitif, karena salah bicara sedikit saja bisa membahayakan posisinya. Perlu dicatat bahwa seorang Barack Obama bahkan sempat terdiam beberapa lamanya di tengah konferensi pers ketika ditanya pendapatnya tentang Iran. Jadi, pandai berdebat di depan publik memang membuat seorang politikus terlihat hebat, tapi tidak selalu memberi kesempatan bagi rakyat untuk menilai sikapnya dalam isu tertentu.

Ketimbang menilai dari ucapan di depan kamera, saya kok rasanya lebih sreg kalau bisa membaca isi kepala para politikus itu secara menyeluruh dalam bentuk tulisan. Supaya tidak hanya mereka yang pandai bicara saja yang dianggap layak jadi politikus, yang merasa bisa mengelola negara sesuai janji. Bagaimana caranya? Ya, menulis saja di koran, atau kalau kolom sekian banyak koran sudah penuh, menulis saja di blog. Lalu, biarkan pengunjung blog menyampaikan komentar, supaya terlihat bahwa politikus tersebut mau menerima umpan balik dari konstituen, bukan sekadar menghimpun suaranya dalam pilkada maupun pemilu. Anak-anak saja banyak yang ngeblog, masak sih politikus tidak mampu?

Ajang Pamer, Masa?

Maret 10th, 2009

Seorang teman bertanya-tanya, mengapa di Facebook banyak orang memasang foto diri ketika sedang di luar negeri. Dia merasa tidak sreg ketika Facebook seolah-olah digunakan oleh banyak orang sebagai ajang pamer, bahwa orang tersebut pernah melanglang buana. Bahkan lebih keras lagi, mengatainya bermental inlander, membanggakan sesuatu yang berasal dari negara lain.

Di waktu lain di atas bus, saya mendengar omongan dua orang remaja tentang blog dan Friendster. Salah seorang mengaku punya akun Friendster, tapi tidak ngeblog. Menurutnya, blog adalah tempat para narsis yang berperilaku narsisis, sehingga menjadi penganut narsisisme… Hayah, yang terakhir itu saya tambahkan sendiri, untuk membedakan ketiga kata yang sering disalahpahami tersebut.

Saya jadi bingung mendengar pendapat remaja itu. Sebagai orang yang hobi ngeblog, alasan pertama saya sewaktu membuat blog bukan untuk jadi narsis, tapi karena ingin belajar menulis. Walaupun akhirnya menulis saya yah.. begini-begini saja, tetapi paling tidak saya berlatih untuk membuat kalimat yang enak dibaca. Semakin lama berusaha membuat kalimat berbahasa Indonesia yang baik, ternyata saya justru saya semakin tahu bahwa bahasa Indonesia tidak semudah yang saya kira. Walhasil saya semakin bingung :P . Oh ya, saya Juga perlu blog untuk menampung uneg-uneg yang kalau diomongkan bisa jadi polusi suara bagi orang lain. Daripada mengusik orang lain yang tidak mau mendengarkan, lebih baik saya curahkan saja isi kepala lewat tulisan. Kalau orang lain rela, boleh berkomentar. Kalau tidak suka, cukup menutup blog saya :D

Nah, Friendster yang tadinya hanya berupa situs jejaring pertemanan, kemudian malah ikut membikin fitur blogging. Saya tidak tahu, apakah si mahasiswa tadi akhirnya malah ketagihan ngeblog. Saya harap sih, iya, supaya uneg-unegnya di atas bus itu bisa tersalurkan dengan mobile blogging dan tidak membikin polusi suara untuk penumpang lain :D

Lalu, apa hubungannya pasang foto diri di luar negeri pada akun Facebook dengan kegemaran ngeblog? Menurut pengamatan saya yang sekenanya, situs pertemanan semacam Facebook, Friendster maupun blog, selain sebagai ajang sosialisasi, ternyata bisa sekaligus menjadi pemenuh kebetuhan seseorang untuk memperolah pengakuan dari orang lain, dalam hal apa saja. Apa ada orang yang tidak mau keberadaan dirinya diakui oleh orang lain? Mungkin ada, tapi jarang. Atau ada, tapi malu-malu meskipun mau juga.

Berusaha untuk diakui maupun membuat orang lain terkesan bukanlah kejahatan. Tapi, seperti yang pernah saya tonton di salah satu episode Oprah Winfrey, kadang kita berbuat berlebihan untuk membuat orang lain terkesan, padahal kita belum tentu mengenalnya, juga belum tentu menyukainya. Jadi, kita seakan-akan melakukan sesuatu yang percuma dan merugikan diri sendiri. Lain halnya kalau Anda melakukannya demi kesenangan sendiri. Kalau orang lain ikut senang, tentu baik. Kalau orang lain susah, belum tentu juga buruk, karena kriteria baik atau buruk kadang samar-samar. Memangnya kita robot?

Di blogosfer, pembahasan tentang kecenderungan sikap pamer (tolong bedakan dengan berbagi info, misalnya tentang perjalanan ke suatu tempat atau kunjungan ke sebuah resto) dan narsisis sudah lama berlalu. Akan tetapi, dengan semakin panasnya demam Facebook belakangan ini, topik itu seakan menghangat di luar blogosfer. Seorang facebooker bertanya, apakah kebutuhan seseorang untuk dilihat orang lain di dunia maya itu lantaran dia tidak bahagia di dunia nyata? Saya tidak tahu, dan tidak mau menghakimi, karena saya sendiri tidak suka diperlakukan begitu. Yang saya tahu, manusia punya satu sifat yang tidak dimiliki oleh makhluk hidup lain, yaitu iseng. Ya. Terpikirkah oleh Anda, bahwa yang dilakukan seseorang di internet mungkin bukan didasarkan atas alasan tertentu, melainkan sekadar iseng? Sekadar ingin memancing reaksi orang lain? Coba saja Anda jalan-jalan ke mal. Setiap orang punya kebutuhan untuk melihat dan dilihat, karena… Saya tidak tahu. Kalau menurut Anda, karena apa?

Omong-omong, setelah ngeblog beberapa saat dan bertemu langsung dengan sejumlah blogger, saya tidak lagi sepenuhnya membedakan kehidupan nyata dan maya. Pertama, karena saya tahu, orang yang berinteraksi dengan saya di blogosfer selama ini benar-benar ada. Kalaupun ada identitas palsu (bukan sekadar alias, tapi benar-benar menyamar, misalnya), saya akan menganggap orang itu sedang berlatih menulis fiksi :D . Kedua, yang namanya manipulasi bisa ada di mana saja. Ketiga, kalau segala hal yang terlihat nyata Anda anggap sebagai kebenaran sejati, maka sebaiknya kata “bohong” dihapus dari kamus. Keempat, kriteria bahagia ditentukan oleh seseorang sebagai subjek, bukan oleh orang lain. Kelima, silakan berinterpretasi :D