
Seorang teman bertanya-tanya, mengapa di Facebook banyak orang memasang foto diri ketika sedang di luar negeri. Dia merasa tidak sreg ketika Facebook seolah-olah digunakan oleh banyak orang sebagai ajang pamer, bahwa orang tersebut pernah melanglang buana. Bahkan lebih keras lagi, mengatainya bermental inlander, membanggakan sesuatu yang berasal dari negara lain.
Di waktu lain di atas bus, saya mendengar omongan dua orang remaja tentang blog dan Friendster. Salah seorang mengaku punya akun Friendster, tapi tidak ngeblog. Menurutnya, blog adalah tempat para narsis yang berperilaku narsisis, sehingga menjadi penganut narsisisme… Hayah, yang terakhir itu saya tambahkan sendiri, untuk membedakan ketiga kata yang sering disalahpahami tersebut.
Saya jadi bingung mendengar pendapat remaja itu. Sebagai orang yang hobi ngeblog, alasan pertama saya sewaktu membuat blog bukan untuk jadi narsis, tapi karena ingin belajar menulis. Walaupun akhirnya menulis saya yah.. begini-begini saja, tetapi paling tidak saya berlatih untuk membuat kalimat yang enak dibaca. Semakin lama berusaha membuat kalimat berbahasa Indonesia yang baik, ternyata saya justru saya semakin tahu bahwa bahasa Indonesia tidak semudah yang saya kira. Walhasil saya semakin bingung
. Oh ya, saya Juga perlu blog untuk menampung uneg-uneg yang kalau diomongkan bisa jadi polusi suara bagi orang lain. Daripada mengusik orang lain yang tidak mau mendengarkan, lebih baik saya curahkan saja isi kepala lewat tulisan. Kalau orang lain rela, boleh berkomentar. Kalau tidak suka, cukup menutup blog saya
Nah, Friendster yang tadinya hanya berupa situs jejaring pertemanan, kemudian malah ikut membikin fitur blogging. Saya tidak tahu, apakah si mahasiswa tadi akhirnya malah ketagihan ngeblog. Saya harap sih, iya, supaya uneg-unegnya di atas bus itu bisa tersalurkan dengan mobile blogging dan tidak membikin polusi suara untuk penumpang lain
Lalu, apa hubungannya pasang foto diri di luar negeri pada akun Facebook dengan kegemaran ngeblog? Menurut pengamatan saya yang sekenanya, situs pertemanan semacam Facebook, Friendster maupun blog, selain sebagai ajang sosialisasi, ternyata bisa sekaligus menjadi pemenuh kebetuhan seseorang untuk memperolah pengakuan dari orang lain, dalam hal apa saja. Apa ada orang yang tidak mau keberadaan dirinya diakui oleh orang lain? Mungkin ada, tapi jarang. Atau ada, tapi malu-malu meskipun mau juga.
Berusaha untuk diakui maupun membuat orang lain terkesan bukanlah kejahatan. Tapi, seperti yang pernah saya tonton di salah satu episode Oprah Winfrey, kadang kita berbuat berlebihan untuk membuat orang lain terkesan, padahal kita belum tentu mengenalnya, juga belum tentu menyukainya. Jadi, kita seakan-akan melakukan sesuatu yang percuma dan merugikan diri sendiri. Lain halnya kalau Anda melakukannya demi kesenangan sendiri. Kalau orang lain ikut senang, tentu baik. Kalau orang lain susah, belum tentu juga buruk, karena kriteria baik atau buruk kadang samar-samar. Memangnya kita robot?
Di blogosfer, pembahasan tentang kecenderungan sikap pamer (tolong bedakan dengan berbagi info, misalnya tentang perjalanan ke suatu tempat atau kunjungan ke sebuah resto) dan narsisis sudah lama berlalu. Akan tetapi, dengan semakin panasnya demam Facebook belakangan ini, topik itu seakan menghangat di luar blogosfer. Seorang facebooker bertanya, apakah kebutuhan seseorang untuk dilihat orang lain di dunia maya itu lantaran dia tidak bahagia di dunia nyata? Saya tidak tahu, dan tidak mau menghakimi, karena saya sendiri tidak suka diperlakukan begitu. Yang saya tahu, manusia punya satu sifat yang tidak dimiliki oleh makhluk hidup lain, yaitu iseng. Ya. Terpikirkah oleh Anda, bahwa yang dilakukan seseorang di internet mungkin bukan didasarkan atas alasan tertentu, melainkan sekadar iseng? Sekadar ingin memancing reaksi orang lain? Coba saja Anda jalan-jalan ke mal. Setiap orang punya kebutuhan untuk melihat dan dilihat, karena… Saya tidak tahu. Kalau menurut Anda, karena apa?
Omong-omong, setelah ngeblog beberapa saat dan bertemu langsung dengan sejumlah blogger, saya tidak lagi sepenuhnya membedakan kehidupan nyata dan maya. Pertama, karena saya tahu, orang yang berinteraksi dengan saya di blogosfer selama ini benar-benar ada. Kalaupun ada identitas palsu (bukan sekadar alias, tapi benar-benar menyamar, misalnya), saya akan menganggap orang itu sedang berlatih menulis fiksi
. Kedua, yang namanya manipulasi bisa ada di mana saja. Ketiga, kalau segala hal yang terlihat nyata Anda anggap sebagai kebenaran sejati, maka sebaiknya kata “bohong” dihapus dari kamus. Keempat, kriteria bahagia ditentukan oleh seseorang sebagai subjek, bukan oleh orang lain. Kelima, silakan berinterpretasi