Dia, menurut pengakuannya, melukis semua gambar itu dengan darah menstruasi yang ditampung dalam menstrual cup atau cawan menstruasi, sebuah produk yang baru saya ketahui tanpa sengaja ketika googling mengenai menstruasi. Perempuan ini, entah berapa usianya dan tinggal di belahan dunia mana, mengaku bahwa melukis dengan darah menstruasi memberinya sebuah pengalaman yang mengasyikkan. Dia heran, mengapa tidak lebih banyak perempuan yang melakukan seperti dia, melukis dengan darah menstruasinya? Sejumlah foto karyanya dipamerkan di blog, lengkap berikut keterangan bahwa gambar itu dilukis dengan darah menstruasi hari pertama, ketiga dan seterusnya. Bahkan dia memasang foto bercak pada celana dalam yang masih dipakai(!) di masa mendekati akhir menstruasi untuk menekankan bahwa yang dia lakukan itu “fun“.
Lain budaya lain cara pandang. Lain orang lain pikiran. Bagi saya, semua foto yang ditampilkan itu terus terang menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan ngeri. Jangankan darah menstruasi, darah biasa pun bisa menimbulkan kesan ngeri kalau dibuat lukisan. Apalagi ini, sel-sel telur mati yang memang harus dikeluarkan dari tubuh perempuan demi kesehatan. Setahu saya, dalam budaya tradisional yang saya kenal yaitu Jawa, darah menstruasi itu kotor. Maka jamu tradisional kunyit asam pun diminum karena dipercaya punya khasiat untuk “membersihkan”. Dalam ajaran agama yang saya tahu pun, darah menstruasi dianggap najis sehingga perempuan yang datang bulan dilarang salat.
Terlepas dari semua itu, untuk kesekian kalinya saya jadi takjub betapa internet telah menjadi penyingkap tabir tabu bagi sebagian perempuan modern. Bukan berarti hanya perempuan yang berubah karena internet, namun dampaknya memang terasa lebih drastis pada kaum hawa ketimbang kaum adam. Kalau dulu perempuan hanya bisa memendam perasaan, menulis di buku harian atau surat pada lelaki pujaan, sekarang mereka bisa menguraikan satu perasaan cinta dalam ratusan kata di sebuah blog, kalau perlu disebarluaskan melalui media sosial agar seisi dunia tahu bahwa dia punya “cinta”
Bagaimana dengan foto eksplorasi tubuh sendiri? Tentu saja bertebaran. Maklum, selama ini banyak hal-hal yang begitu ditabukan sehingga wanita jadi merasa bersalah bahkan untuk menjelajahi anggota badan sendiri, padahal di masa depan bisa jadi pengetahuan itu penting baginya, termasuk yang menyangkut masalah kesehatan.
Internet menjadi wahana pembebasan, ajang berekspresi dan menegaskan eksistensi “bahwa saya ada”, “bahwa saya penting”, sekaligus berpacu menjadi seunik mungkin, semenonjol mungkin di antara ribuan, jutaan manusia dunia maya. Di luar motif ekonomi, perempuan yang selama ini kerap dianggap hanya kaum kelas dua, pun bisa menampilkan berbagai keunggulan mulai dari kemolekannya, kecerdasannya maupun ketangguhannya.
Terus terang, saya pun menikmati sisi pembebasan yang diberikan internet. Saya memanfaatkannya sebagai ruang pamer maupun wadah berekspresi yang mustahil saya lakukan di dunia nyata karena satu hal, yaitu masih harus menjaga perasaan orang tua dan sanak keluarga tersayang yang belum tentu memiliki persepsi sama tentang pembebasan. Pengecut? Takut konflik? Ya, demi kebaikan bersama
Mungkin karena kurang luasnya pergaulan, belakangan pun saya baru sadar bahwa blog dan media sosial pun kerap dipergunakan oleh sebagian perempuan untuk membuat sirik perempuan lain. Suatu kegiatan yang menurut saya mengherankan, namun mungkin itulah salah satu cara orang untuk “merasa” unggul : dengan membuat orang lain “merasa” berkekurangan. Sebagai perempuan yang menurut teman saya “lempeng” dan “tahu apa yang diinginkan”, mungkin saya dianggap tertinggal karena “tidak ikutan”. Bagaimanapun, setelah menyadari adanya semacam persaingan ini, ternyata keinginan untuk “ikutan” tetap tidak ada. Saya pikir, yang namanya cari musuh itu sangat gampang, tabok saja orang sebelah. Tapi yang namanya cari teman sejati itu susah, masih jauh lebih gampang mencari teman merangkap lawan dalam sarung, eh selimut
PS : untuk posting ini sengaja tidak dicantumkan referensi, silakan googling sendiri
Tags: lukisan darah menstruasi, pembebasan berkat internet, perempuan suka sirik-sirikan
9 Comments »