Dua hari yang lalu muncul berita tentang peresmian gerbong khusus perempuan untuk kereta api Jabotabek (silakan googling). Entah disengaja atau tidak, pemisahan penumpang berdasarkan jenis kelamin ini dilakukan tidak lama setelah dilakukan pemisahan antrean penumpang bus Trans-Jakarta. Menurut adik saya, sebetulnya beberapa tahun lalu pengadaan gerbong khusus perempuan untuk KA Jabotabek pernah dilakukan, tapi kemudian tidak berjalan lancar dan bahkan kembali ke kondisi semula, penumpang perempuan dan lelaki duduk di satu gerbong.
Dalam berita disebutkan, alasan utama pengadaan gerbong khusus perempuan ini adalah demi keamanan dan kenyamanan, mengingat di atas kereta api kerap terjadi pelecehan seksual terhadap kaum hawa. Dari wawancara sekilas yang ditampilkan, sepertinya mayoritas perempuan menyambut baik hal ini.
Buat saya pribadi, ide ini memunculkan sejumlah kebimbangan. Pertama, pemisahan penumpang berdasarkan jenis kelamin, sebetulnya tidak menyelesaikan persoalan yang lebih mendasar, yaitu kurangnya rasa aman dan nyaman perempuan ketika bepergian. Memang, di dalam gerbong kaum perempuan mendapat rasa aman dan nyaman, akan tetapi itu menempatkan kaum lelaki selalu sebagai ’si jahat’. Anda mungkin akan bilang, “Memang, itu sudah sifat dasar lelaki yang tidak bisa diubah.” Saya setuju bahwa lelaki bisa saja menjadi makhluk paling berengsek. Saya pun cukup sering mengalami pelecehan seksual di tempat umum (di trotoar, angkot, bus, kereta api), yang sebagian bisa saya lawan dan sebagian lagi tidak, karena memang situasi tidak memungkinkan. Akan tetapi, saya masih ingin percaya pada satu instrumen yang seakan terabaikan dalam masalah ini, yaitu hukum. Padahal, penegakan hukum yang konsisten dengan sendirinya akan mengubah perilaku seseorang, dan itulah yang saat ini sering absen dalam kehidupan bermasyarakat. Apakah jumlah aparat penegak hukum sebegitu minimnya? Mengapa?
Kedua, kaum perempuan bukan bayi prematur yang harus hidup di lingkungan steril. Pemisahan penumpang hanya menjamin keselamatan perempuan di atas gerbong, akan tetapi kalau persoalan di luar itu tidak dibereskan, percuma saja. Perempuan tetap dalam posisi rentan, padahal mustahil mereka tinggal di rumah terus, apalagi sebagai kaum pasif. Saya khawatir, perlakuan khusus kepada kaum perempuan akan semakin menegaskan posisinya sebagai golongan kelas dua ketika zaman justru menuntut peran perempuan semakin banyak di luar rumah. Perlakuan khusus akan membentuk perempuan menjadi kaum yang cengeng dan manja, bahkan terjerumus dalam proses domestikasi terpaksa. Lalu, kapan perempuan dan lelaki akan setara? Setara lho, bukan sama.
Ketiga, kaum lelaki seharusnya tersinggung dengan pemisahan penumpang seperti ini, karena mereka dianggap makhluk tak berakal yang dengan mudahnya melakukan pelecehan seksual. Hanya karena perbuatan segelintir lelaki berengsek di tempat umum, bukan berarti mereka ikut-ikut jadi ’si jahat’, kan? Tanyakanlah pada kerabat atau teman lelaki Anda tentang hal ini.
Keempat, pengawasan. Bagaimana jaminan keamanan dan kenyamanan seterusnya di gerbong perempuan ini, masih bisa dipertanyakan. Menurut saya, kalaupun gerbong itu heterogen, selama pengawasan dilakukan terus-menerus, ketertiban akan tetap terjaga dan menciptakan rasa aman dan nyaman itu tadi.
Itu saja unek-unek saya tentang gerbong khusus perempuan. Kalau Anda punya pendapat lain, boleh lho dibagi di sini. Siapa tahu pendapat Anda lebih mencerahkan.


