Tugas pemerintah adalah melindungi segenap hak asasi warga negaranya, bukan main larang, titik.
Sebetulnya program ini sudah dimulai sejak tahun 2005. Pada tahun 2005 juga saya mengalami salah satu kejadian terpenting dalam hidup saya, tapi kali ini saya bukan mau membicarakan itu *belum-belum sudah ngelantur*
. Program yang saya maksud adalah “1000 Buku untuk Tunanetra” yang diadakan oleh Mitra Netra. Pertama kalinya saya tahu tentang program bagus ini sekitar dua tahun lalu, ketika menghadiri presentasi Komunitas BHI di Wetiga, tentang kegiatan mereka, “Bloggers for Bangsari”.
Nah, waktu itu memang terpikir oleh saya, “Ah, kapan-kapan ikutan mengetik buku deh,” tapi ternyata baru tahun inilah saya bisa mulai nimbrung. Mengetik sebuah buku memang mengharuskan Anda menyisihkan sebagian waktu, dan buat mereka yang belajar maupun bekerja, tentu ini tidak selalu mudah.
Bagaimanapun, tidak ada kata terlambat untuk mulai. Lewat postingan ini, saya ingin mengajak Anda sekalian yang ingin menyumbangkan waktu untuk mengetikkan buku-buku yang menurut Anda pantas dibagikan, untuk kemudian akan dialihbahasakan ke dalam bahasa Braille oleh Mitra Netra. Kesempatan untuk belajar, menambah wawasan dan mengembangkan diri, mestinya tidak terbatas hanya karena seseorang punya hambatan fisik. Buku adalah jendela dunia, dan solidaritas Anda diperlukan untuk bantu membukakan jendela. Mari
PS : Tahukah Anda, para tunanetra mampu berbahasa Indonesia jauh lebih baik dan benar daripada sebagian dari kita?
Musim rambutan sudah dimulai. Unik memang, di negeri kita selain ada musim hujan dan musim panas, ada yang disebut musim durian, musim mangga dan musim rambutan. Istilah “musim durian” dan “musim mangga” tetap dipakai. Padahal sekarang, kalau tak peduli harga, durian bisa diperoleh kapan saja di pasar swalayan. Begitu pula mangga. Sejumlah mangga di pasar swalayan bahkan didatangkan jauh-jauh dari Amerika Latin dan…Afrika! Kalau penggemar rambutan sih, setahu saya masih harus mengikuti musim. Saya belum pernah melihat buah rambutan impor kecuali yang kalengan.
Musim mangga kemarin berlalu dengan sukses. Sukses musim buah menurut saya kalau buah-buahan yang berlimpah itu hasilnya bagus, bisa dijual dari yang mahal sampai yang amat murah. Artinya, panen tidak gagal dan hasil kebun berlimpah. Rupanya, tahun ini tahun yang baik buat buah-buahan. Setelah mangga, rambutan menyusul.
Rambutan dalam foto di atas disebut “rambutan aceh”, entah dari mana asal-usul namanya. Rasanya manis, cukup berair dan kulit yang menempel pada biji bisa terkelupas atau “ngelotok”. Setelah banyak di pasar, harganya jadi murah, rata-rata Rp 5.000 untuk tiga ikatan. Ada pula yang dijual kiloan, sudah dibersihkan dari ranting dan daun. Harganya sekitar Rp 10.000 per tiga kilo.
Selidik punya selidik, rambutan tersebut ternyata menempuh perjalanan antarkota antarprovinsi cukup jauh, dari Serang, Banten. Maklum saja, pinggiran Kota Bogor yang dulu ditumbuhi pohon rambutan, kini sudah banyak berubah menjadi pemukiman suburban. Konon lagi di Jakarta, Kampung Rambutan nyaris tinggal nama.
PS : Ini ada situs menarik tentang rambutan, tapi nama Indonesia tidak termasuk yang disebut
Saya lupa, sejak kapan persisnya stroberi jadi buah yang lazim ditemui di pasar dan toko swalayan. Kalau 10 tahun lalu sih, rasanya masih jarang. Sekarang, dengan kian banyaknya kebun stroberi lokal – setahu saya di Jawa Barat ada di sekitar Bandung dan Garut – buah yang cenderung asam ini kian mudah diperoleh.
Semasa saya kecil di Bogor, Jawa Barat, memang sudah ada buah stroberi, kadang dijual bersama arbei, yang berasal dari kawasan Puncak. Akan tetapi, buahnya jauh lebih kecil dari yang beredar sekarang. Mungkin lebih enak kalau dibuat selai. Omong-omong soal selai, sebagian besar dari Anda mungkin sudah akrab dengan selai bluberi. Rasa ini mulai akrab di lidah orang Indonesia, termasuk saya. Padahal, seumur-umur saya belum pernah lihat pohon bluberi. Kalau ada yang punya bibitnya, pingin juga saya ikut menanam.
Buah stroberi yang beredar di pasar dan toko swalayan Indonesia, entah kenapa, memang bukan dari varietas yang manis-manis amat atau besar-besar amat. Padahal, kalau bisa mendapatkan varietas stroberi yang besar dan manis itu, bukan tidak mungkin petani Indonesialah yang suatu saat akan mengekspor stroberi ke Amerika atau Australia. Lha iya lah. Masak mau yang enak-enak harus impor terus.





Kok Mentar